
SITARO,SULAWESI UTARA,SpiritPerantau.com II Kehadiran Senator Maya Rumantir di pulau terpencil ini berhasil mengukir sejarah baru yang sangat monumental bagi masyarakat setempat. Beliau menjadi Pejabat Tinggi setingkat Anggota MPR RI pertama yang bersedia menginjakkan kaki langsung di atas tanah Makalehi. Momentum bersejarah ini seketika meruntuhkan jarak geografis yang selama ini memisahkan pusat kekuasaan di Jakarta dengan masyarakat di beranda terdepan Nusantara.
Ketika seorang pemimpin datang bukan dengan kesombongan jabatan melainkan dengan ketulusan hati, maka rakyat kecil akan menyambutnya dengan penyerahan seluruh jiwa. Ciuman pipi dari Oma Martha dan tatapan takjub Oma Wilda adalah mahkota kepemimpinan sejati yang tidak akan pernah bisa dibeli dengan materi atau kekuasaan.
Awalnya, Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro) tidak pernah tercantum dalam lembaran formal jadwal kunjungan kerja Senator DR. Maya Rumantir,. MA,. PHD,. kali ini. Namun, takdir memiliki jalurnya sendiri yang kerap melampaui logika protokoler manusia. Sebuah dorongan spiritual yang begitu kuat, yang diyakini sebagai gemercik gerakan suara Tuhan, berbisik lembut dan menuntun langkah kakinya menuju tanah eksotis yang kaya akan gunung api, hamparan laut biru, dan keharuman buah pala. Di sinilah, sebuah perjalanan konstitusi seketika meluruh dan bertransformasi menjadi ziarah batin yang sangat mendalam. Baginya, momentum ini bukanlah sekadar menunaikan kewajiban formal sebagai wakil rakyat dari Sulawesi Utara di tingkat pusat, melainkan sebuah panggilan jiwa yang agung.

Langkah kaki Sang Senator digerakkan oleh ketulusan yang murni untuk menjumpai warga yang kerap terlupakan, membasuh aspirasi yang lama terpendam, serta melepas kerinduan yang membuncah bersama masyarakat kepulauan. Perjalanan ini menjadi penegasan atas empat dasawarsa komitmen hidupnya yang tak pernah pudar—sebuah janji suci untuk terus memberi diri pada tugas-tugas panggilan hidup. Dalam rentang waktu yang panjang itu, ia secara konsisten melahirkan dan memberikan kontribusi nyata bagi pekerjaan sosial, pendidikan, kebangsaan, moralitas dan toleransi. Kunjungan ke Sitaro pun menjadi saksi bisu bagaimana seluruh dedikasi masa lalu itu menyatu dalam pelukan hangat bersama rakyat di pelosok negeri.
Kehangatan perjalanan itu langsung mengalir deras saat Senator Maya Rumantir menjejakkan kaki di dermaga pelabuhan. Di sana, ia menyaksikan para pekerja pelabuhan yang berpeluh di bawah terik matahari, memikul beban demi menyambung kehidupan. Senyum gembira yang terpancar dari wajah-wajah lelah mereka menandakan ketangguhan jiwa masyarakat maritim yang selalu bersyukur atas rezeki hari itu. Energi positif yang membumi tersebut menjadi bahan bakar spiritual bagi Sang Senator untuk memulai rangkaian agenda yang padat di Sitaro. Beliau hadir di tengah jemaat GMIST Kampung Mini dalam ibadah ucapan syukur yang berlangsung penuh khidmat, merajut kembali tali kebersamaan yang kokoh.
Tak ingin bersenang-senang dalam zona kenyamanan, Senator Maya rumantir terus melangkah menyusuri relung-relung iman masyarakat kepulauan. Ia memimpin refleksi kenaikan Yesus Kristus di GMIST Kampung Tawalid, membawa pesan kedamaian dan pengharapan yang menyejukkan hati seluruh jemaat. Misi penguatan karakter bangsa pun berlanjut melalui pembekalan intensif bagi para calon pengurus Ormas Laskar Merah Putih (LMP) Kabupaten Sitaro. Di hadapan mereka, Senator Maya berbagi visi kebangsaan yang kuat sekaligus menyuntikkan semangat nasionalisme yang berakar pada kearifan lokal masyarakat maritim. Di samping itu, ruang dialog spiritual juga dibuka lebar bersama para calon pengurus kelompok doa SABDA untuk memperkokoh fondasi iman warga.
Kepedulian Sang Senator tidak berhenti pada mimbar-mimbar formal, ia turun langsung menyentuh denyut nadi ekonomi rakyat kecil. Di Ondong, ia menyempatkan diri membasuh aspirasi pelaku UMKM lokal yang mengelola warung mini dengan manajemen yang sangat sederhana. Keberanian dan ketangguhan mereka mendatangkan hasil kebun dari Tomohon demi menyambung hidup memicu kekaguman mendalam di hati Sang Senator. Dari balik warung sederhana itu, ia melihat daya juang ekonomi kreatif yang luar biasa di pelosok daerah. Sebuah bukti bahwa keterbatasan geografis tidak pernah mampu mematikan kreativitas manusia untuk bertahan hidup demi keluarga tercinta.

Sensasi petualangan yang sesungguhnya dimulai saat rombongan harus menyeberangi lautan luas yang berombak menuju Pulau Makalehi, wilayah terluar di bagian utara Indonesia. Pulau ini menyimpan eksotisme tersendiri dengan tiga gugusan kampung—Makalehi Induk, Makalehi Timur, dan Makalehi Utara—yang bernaung dalam kedamaian alami yang sunyi. Kehadiran Senator Maya Rumantir di pulau terpencil ini berhasil mengukir sejarah baru yang sangat monumental bagi masyarakat setempat. Beliau menjadi Pejabat Tinggi setingkat Anggota MPR RI pertama yang bersedia menginjakkan kaki langsung di atas tanah Makalehi. Momentum bersejarah ini seketika meruntuhkan jarak geografis yang selama ini memisahkan pusat kekuasaan di Jakarta dengan masyarakat di beranda terdepan Nusantara.
Ketulusan masyarakat Makalehi dalam menyambut kedatangan Sang Senator menembus batas nalar dan menciptakan momen-momen emosional yang sangat mengharukan. Pentua Adat Pulau Makalehi, Ruth Kainage, memimpin prosesi penjemputan dengan kebesaran adat setempat pada siang yang terik, Jumat 15 Mei 2025. Bagi Ruth, kehadiran tokoh populis sekaliber Maya Rumantir di pelabuhan Makalehi bagaikan sebuah mimpi di siang bolong yang mendadak menjadi kenyataan.
Di balik kemeriahan adat itu, ada dua potret ketulusan hati dari balik dinding gereja yang menjadi puncak dari ziarah batin ini, membuktikan bahwa cinta tak pernah mengenal jarak dan waktu. Di dalam keteduhan Gereja Mahanaim Kalawid, sebuah pemandangan menyentuh hati terjadi saat seorang wanita lansia bernama Oma Wilda berdiri terpaku dengan mata berkaca-kaca. Wanita tua itu mengaku mendadak lupa akan rasa laparnya yang membujang sedari pagi, hanya karena terlalu terpesona dan hanyut dalam magisnya perjumpaan melihat sang idola secara langsung. Selama puluhan tahun hidupnya di pulau terluar, ia hanya bisa menatap wajah anggun Senator Maya Rumantir melalui layar kaca televisi penyiaran nasional yang buram. Ketika sosok yang selama ini terasa begitu jauh dan mustahil dijangkau kini berdiri tepat di hadapannya, kebahagiaan batin Oma Wilda menjelma menjadi pemuas dahaga dan rasa lapar fisik yang seketika sirna.
Kerinduan yang telah mengendap selama puluhan tahun itu akhirnya meledak dalam kepolosan yang begitu indah di Jemaat GMIST Sarfat Kampung Mini melalui sosok Oma Martha. Tanpa ada rasa ragu atau canggung sedikit pun, wanita tua yang kulitnya telah berkerut dimakan usia itu melangkah maju dan mendaratkan ciuman hangat di pipi Senator Maya Rumantir. Tindakan spontan itu dilakukan dengan penuh rasa gemas, seolah seorang ibu yang akhirnya bisa memeluk dan mencium anak perempuannya yang telah lama merantau ke seberang lautan. Ciuman tulus Oma Martha adalah sebuah segel kasih, sebuah pernyataan tanpa kata bahwa kerinduan mendalam masyarakat pulau terluar akhirnya telah dibayar lunas dan tuntas.
Kehangatan interaksi manusiawi antara Sang Senator dengan Oma Wilda dan Oma Martha membuktikan bahwa dedikasi tulus seorang pemimpin akan selalu mendapat tempat terbaik di hati rakyatnya. Di atas tanah Makalehi, esensi dari tema “menjemput cinta” tidak lagi menjadi sebuah slogan politik yang dingin, melainkan sebuah getaran rasa yang hidup dan saling bertaut. Ketika seorang pemimpin datang bukan dengan kesombongan jabatan melainkan dengan ketulusan hati, maka rakyat kecil akan menyambutnya dengan penyerahan seluruh jiwa. Ciuman pipi dari Oma Martha dan tatapan takjub Oma Wilda adalah mahkota kepemimpinan sejati yang tidak akan pernah bisa dibeli dengan materi atau kekuasaan.
Saat aktivitas di pulau dimulai, sebuah fenomena alam yang menakjubkan terjadi di luar logika sehat manusia, seolah alam semesta ikut menari menyambut pelukan hangat antara pemimpin dan rakyatnya. Hujan deras tiba-tiba mengguyur bumi Makalehi, yang dalam bahasa lokal bermakna tunas muda kelapa atau buah kenari yang baru tumbuh. Masyarakat setempat dengan mata berkaca-kaca mengamini fenomena unik ini sebagai hujan berkat yang dikirimkan langsung oleh Tuhan untuk menyambut kedatangan rombongan. Berdasarkan penuturan warga, wilayah Pulau Makalehi sudah mengalami kekeringan ekstrem tanpa setetes pun hujan selama dua bulan terakhir. Alam seolah bersinergi dengan kegembiraan hati masyarakat jelata untuk merayakan kehadiran sang wakil rakyat yang mereka cintai.
Kesan mendalam mengenai kepemimpinan transformatif ini turut ditegaskan oleh Pendeta Senior Gereja Masehi injili Sanger Talaud (GMIST) Welmin Bogar Salindeho, M.Th. Mantan Ketua Sinode GMIST ini memuji konsistensi Senator Maya yang sudi turun ke desa-desa pesisir dan pedalaman demi menjemput langsung suara murni rakyat yang kerap terabaikan. Pendeta Welmin berharap Senator Maya terus menyuarakan suara kenabian yang sarat akan nilai-nilai kebenaran dan keadilan di tingkat parlemen pusat. Kepemimpinan yang dicontohkan oleh Senator Maya dianggap menjadi teladan langka bagi para pejabat publik yang selama ini hanya berkantor di megahnya gedung-gedung Jakarta. Beliau membuktikan bahwa menjadi wakil rakyat berarti siap membasuh kaki dan mendengarkan keluh kesah dari tempat terjauh.
Perjalanan penuh makna ini terasa semakin istimewa dan hangat karena kehadiran sang suami, Ir. Takala Hutasoit, yang setia mendampingi di setiap ayunan langkah. Tak hanya itu, Senator Maya Rumantir mengajak puterinya Kiara Kristamya ingin mewariskan pengalaman empiris yang berharga guna membentuk karakter, melatih mental, dan mengasah kepekaan sosialnya sejak dini. Melalui perjalanan ini, Sang Senator ingin mewariskan nilai-nilai kemanusiaan yang nyata kepada generasi penerusnya, agar sang putri paham bahwa hidup adalah tentang seberapa banyak kita memberi dampak bagi sesama.
Kiara memberikan testimoni jujur bahwa perjalanan keluar dari zona nyaman ini telah berhasil menambah cakrawala pengetahuannya tentang kehidupan nyata yang berliku. Mahasiswa Institut Pertanian Bogor ini, bersyukur kepada sang ibu karena diizinkan melihat langsung keindahan alam sekaligus perjuangan hidup masyarakat yang serba terbatas di kepulauan. Pengalaman berharga ini tentu tidak akan pernah bisa ia dapatkan di dalam ruang kuliah formal di kota-kota besar yang serba modern. Di atas tanah Makalehi, Kiara belajar tentang arti ketabahan dari masyarakat yang hidup berdampingan dengan keterbatasan namun tetap mampu mengukir senyum di wajah mereka.

Sementara itu, setiap anggota rombongan yang terdiri dari staf ahli dan staf khusus juga membawa pulang kesan mendalam yang mengubah cara pandang mereka. Gilbert Pangaila, SIP, mengekspresikannya sebagai sebuah perjalanan yang “ngeri-ngeri sedap” dalam pemaknaan yang sangat positif dan penuh tantangan. Frasa tersebut menggambarkan dinamika perjalanan laut yang menantang bahaya gelombang demi menunaikan misi mulia kemanusiaan dan kebangsaan di pulau terluar. Rasa takut akan ganasnya lautan seketika sirna kala berhadapan dengan tanggung jawab moral untuk menyampaikan amanah rakyat ke pusat kekuasaan. Gilbert merasa didewasakan melalui tantangan menembus arus deras lautan bebas.
Dari dialog langsung yang tercipta di lapangan, Senator Maya Rumantir berhasil menyerap berbagai aspirasi membumi yang keluar jujur dari bibir dan hati masyarakat bawah. Warga sangat merindukan agar program Makan Bergizi Gratis dapat segera diimplementasikan secara merata bagi anak-anak di Pulau Makalehi demi masa depan yang lebih baik. Mereka juga membutuhkan pendampingan intensif dari pemerintah atas kehadiran program pemberdayaan ekonomi lewat Koperasi Merah Putih yang baru dirintis. Selain itu, perbaikan fasilitas infrastruktur jalan lingkar Danau Cinta Makalehi menjadi kebutuhan mendesak yang terus disuarakan oleh warga agar akses mobilitas mereka menjadi lebih manusiawi. Masyarakat juga menaruh harapan besar agar pembangkit listrik tenaga surya, pos pertahanan Babinsa TNI, hingga penyelesaian gedung Gereja GMIST Danau Kasih di Makalehi Timur dapat segera direalisasikan oleh pemerintah pusat. Juga ada harapan Pemerintah membuat Pelabuhan Alternatif ketika musim barat tiba. Musim di mana kapal tak bisa bersandar di pelabuhan yang ada sekarang karena ombak besar.

Waktu kunjungan yang hanya berlangsung selama empat hari tiga malam dirasakan sangat singkat oleh seluruh anggota rombongan yang terlanjur jatuh cinta pada tanah ini. Namun, durasi yang terbatas itu telah bertransformasi menjadi sebuah ziarah batin yang abadi, mempertemukan ketulusan seorang pemimpin dengan cinta suci rakyatnya seperti yang ditunjukkan Oma Martha dan Oma Wilda. Dedikasi untuk mendekatkan telinga ke bibir masyarakat terkecil di ujung negeri telah menunaikan hakikat tertinggi dari sebuah mandat konstitusi yang hakiki. Kunjungan kerja ini pada akhirnya mematahkan stigma pesimistis yang sering menganggap wilayah perbatasan sebagai daerah tertinggal yang suram dan tanpa harapan. Dari bumi Sitaro yang eksotis, Sang Senator dengan penuh keyakinan menegaskan sebuah pesan kuat kepada dunia: Indonesia tidak gelap, Indonesia Bersinar menuju optimisme Indonesia Emas 2045! (Recky Runtuwene).
Be the first to comment