Dibukukan, Jejak Manis Pengabdian Senator Maya Rumantir: Refleksi Empat Dekade Sang Pembawa Obor Perdamaian

MANADO,SpiritPerantau.com II Mencatat sebuah perjalanan hidup yang membentang selama enam dekade lebih, bukanlah sekadar menyusun deretan angka dan tanggal. Bagi Senator DR. Maya Rumantir, MA., Ph.D., setiap langkah kaki yang ia jejakkan di bumi pertiwi adalah sebuah catatan pengabdian yang penuh makna.

Melalui buku biografi karya dan pengabdian terbarunya yang akan segera diluncurkan, publik diajak untuk menyelami kembali memori kolektif tentang sosok yang telah mewarnai panggung hiburan hingga panggung politik Indonesia dengan integritas dan cinta yang tidak pernah padam.

Kisah manis ini bermula dari sebuah kemenangan kecil yang menjadi pondasi besar di masa depan. Pada tahun 1976, seorang gadis kecil berhasil menyabet Juara 1 lomba nyanyi bintang cilik se-Sulawesi Selatan, sebuah prestasi awal yang membuka gerbang kreativitasnya. Siapa sangka, dari panggung daerah tersebut, ia bertransformasi menjadi ikon nasional. Buku ini dengan detail merangkum bagaimana talenta tersebut diasah hingga membawanya ke puncak popularitas sebagai penyanyi pop, foto model, hingga bintang film yang sangat dikagumi.

Namun, kejayaan di dunia gemerlap hiburan tidak membuat Maya Rumantir lupa diri atau merasa cukup dengan tepuk tangan penonton. Di tengah puncak kariernya, ia justru melakukan sebuah putar haluan yang mengejutkan banyak pihak dengan memilih jalan pengabdian masyarakat. Ia bertransformasi menjadi seorang guru, motivator, penggerak gerakan cinta bangsa hingga aktivis sosial yang membumi. Perubahan arah hidup ini bukan tanpa alasan, melainkan sebuah panggilan jiwa untuk memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan karakter bangsa Indonesia yang lebih baik.

Salah satu bab paling menarik dalam buku ini adalah ulasan mendalam mengenai gagasan visionernya dalam merajut persatuan bangsa. Publik tentu masih ingat dengan Lawatan Obor Persahabatan dan Perdamaian yang ia gagas untuk memadamkan api konflik di berbagai daerah. Tak hanya itu, gerakan Pandu Prestasi Putera Pertiwi dan Indonesia Ten Walk menjadi bukti nyata dedikasinya dalam membangkitkan semangat nasionalisme yang bernuansa merah putih, mengajak setiap anak bangsa untuk bangga pada identitas dan tanah airnya.

Buku ini tidak hanya menyajikan rentetan peristiwa megah, tetapi juga menyingkap tabir pergumulan batin yang luar biasa di balik setiap acara tersebut. Penulis menceritakan bagaimana Maya Rumantir harus menghadapi berbagai tantangan, birokrasi, hingga skeptisisme saat mewujudkan visi perdamaiannya. Setiap hambatan disikapi sebagai ujian iman yang justru memperkuat keyakinannya bahwa sebuah niat tulus akan selalu menemukan jalan. Di balik setiap peristiwa besar, tersimpan nilai-nilai hidup yang mampu menjadi sumber inspirasi bagi generasi muda.

Konsistensi

Konsistensi adalah kunci utama yang ditekankan dalam biografi ini, memperlihatkan bagaimana ia tetap teguh pada cita-cita pengabdiannya meskipun zaman terus berubah. Maya Rumantir membuktikan bahwa peran sebagai Senator Dewan Perwakilan Daerah RI dan anggota MPR RI hanyalah perpanjangan tangan dari perjuangan sosialnya selama ini. Jabatan politik bukan menjadi tujuan akhir, melainkan sebuah alat untuk memperjuangkan aspirasi rakyat dan nilai-nilai kemanusiaan yang telah ia tanamkan sejak masih aktif di dunia seni dan gerakan sosial. Juga bagaimana ia secara konsisten menjalankan apa yang ia yakini sebagai Politik Bersinar.

Sisi humanis seorang Maya Rumantir juga diulas dengan sangat menyentuh, termasuk kedekatan emosionalnya dengan tokoh-tokoh besar lintas agama di Indonesia. Cerita tentang bagaimana ia diangkat anak oleh seorang ulama besar dari Aceh memberikan gambaran tentang betapa luasnya spektrum toleransi yang ia miliki. Hubungan persahabatan yang erat dengan almarhum Gus Dur juga menjadi bukti bahwa ia adalah sosok yang mampu merangkul perbedaan dan melihat keberagaman sebagai kekayaan bangsa yang harus dijaga dengan hati.

Setiap jejak langkah yang tertuang dalam buku ini bukan sekadar catatan administratif, melainkan sebuah refleksi batin yang sangat mendalam bagi pembacanya. Maya Rumantir ingin membagikan pengalaman spiritualnya tentang bagaimana langkah-langkah iman membantunya menghadapi berbagai badai kehidupan yang tak terduga. Ia menuliskan bahwa setiap pencapaian adalah anugerah, dan setiap kegagalan adalah pelajaran berharga. Pembaca akan diajak untuk memahami bahwa kekuatan sejati manusia berasal dari kedekatan spiritual dengan Sang Pencipta yang senantiasa menuntun langkahnya.

IPSDM Maya Gita

Juga dalam buku ini termuat bagaimana visioner Maya Rumantir, ketika belum genap umur 30 sudah menangkap kebutuhan akan pentingnya pendidikan Sumber Daya Manusia, yang diekspresikan dengan mendirikan INSTITUT PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA (IPSDM) MAYA GITA, di tahun 1989. Sejarah mencatat bahwa Maya Gita merupakan institusi pendidikan pertama yang melembagakan Pendidikan Sumber Daya Manusia. Dan ketika belum ramai orang membicarakan tentang mencetak generasi emas, pada tahun 2018, ia sudah menggagas sebuah gerakan bersama dalam wadah BARISAN GENERASI EMAS (BAGE’MAS) – Yayasan Maya Bhakti Pertiwi. Juga refleksi mendalam Si Kendis ini tentang Politik Bersinar; bersih dalam menjalankan regulasi yang ada, dan benar di mata Tuhan!

Buku ini juga memuat pemikiran cerdas dan kontemplasi beliau mengenai pentingnya membangun keluarga yang kokoh sebagai fondasi negara. Bagi Maya, keluarga adalah sekolah pertama untuk menanamkan nilai-nilai hidup dan karakter yang unggul sebelum seseorang terjun ke masyarakat luas. Ia sangat menekankan pentingnya mempersiapkan generasi emas Indonesia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki ketangguhan moral dan spiritual. Refleksi ini menjadi sangat relevan di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks bagi anak muda.

Bukan sekedar biografi

Gilbert A.J. Pangaila, S.IP., sebagai sekretaris tim penyusun, menegaskan bahwa buku ini bukan sekadar biografi biasa tentang seorang tokoh publik yang sukses. Tujuan utama penerbitannya adalah untuk memberikan kesaksian nyata tentang bagaimana kekuatan cinta Tuhan bekerja dalam kehidupan seseorang yang mau berserah. Pesan kuat yang ingin disampaikan adalah bahwa kesuksesan sejati diukur dari seberapa besar manfaat yang bisa diberikan bagi orang lain. Buku ini diharapkan menjadi panduan spiritual bagi siapa saja yang sedang mencari makna pengabdian.

Dikemas secara mewah, pengerjaan buku ini digawangi oleh dua jurnalis senior, Recky Runtuwene dan Paul Maku Goru, yang bertindak sebagai penyunting ahli. Keterlibatan para profesional ini menjamin bahwa narasi yang disajikan memiliki kedalaman jurnalistik sekaligus keindahan sastra yang menggugah perasaan. Pemilihan kata dan diksi disesuaikan agar mampu menyentuh hati pembaca dari berbagai kalangan. Judul buku ini sendiri lahir dari pergumulan doa Ibu Maya Rumantir, mencerminkan kerendahan hati dan kejujuran visi yang ingin ia bagikan.

Rencana peluncuran buku ini sedang mencari momentum yang tepat, namun dipastikan akan dilakukan dalam tahun ini untuk menjaga antusiasme publik yang besar. Peluncuran ini diprediksi akan menjadi salah satu peristiwa literasi yang signifikan tahun ini, mengingat sosok Maya Rumantir memiliki basis penggemar dan pengikut yang lintas generasi. Kehadiran buku ini diharapkan mampu mengisi kekosongan literatur biografi yang inspiratif di perpustakaan nasional kita, sekaligus menjadi kado indah bagi perjalanan empat dekade karier gemilang beliau.

Selain sebagai catatan sejarah pribadi, kehadiran buku ini merupakan bagian dari semangat besar Maya Rumantir untuk menggalakkan minat baca di kalangan kaum muda. Di era digital yang serba cepat, ia tetap meyakini bahwa literasi buku fisik memiliki kedalaman yang tidak bisa digantikan oleh gawai. Dengan menyajikan kisah hidupnya dalam bentuk tulisan yang apik, ia berharap dapat menarik minat generasi milenial dan Gen Z untuk kembali mencintai budaya membaca dan mendalami nilai-nilai kearifan lokal.

Menambah perbendaharaan literasi bangsa adalah salah satu motivasi utama di balik kerja keras tim penyusun selama berbulan-bulan dalam merampungkan naskah ini. Buku ini diharapkan menjadi referensi penting bagi para peneliti sosial, aktivis, hingga politisi muda yang ingin mempelajari bagaimana membangun karier berbasis pengabdian. Maya Rumantir menunjukkan bahwa integritas tidak bisa dibangun dalam semalam, melainkan melalui proses panjang yang penuh ujian dan keteguhan hati dalam memegang prinsip hidup yang benar dan mulia.

Pada akhirnya, Jejak Manis Pengabdian ; MENJAWAB PANGGILAN HIDUP – The Power of Love adalah sebuah warisan pemikiran dari seorang perempuan hebat yang telah mendedikasikan hidupnya untuk Merah Putih. Buku ini adalah undangan bagi kita semua untuk melihat melampaui peristiwa fisik dan menemukan nilai-nilai abadi yang tersembunyi di dalamnya. Melalui buku ini, Maya Rumantir kembali mengingatkan kita bahwa hidup adalah sebuah perjalanan cinta, dan setiap detiknya harus diisi dengan karya yang mampu membawa kedamaian serta harapan bagi sesama manusia di sekeliling kita. (Gelegar/Gemilang).

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*