Sayap Cinta di Sudut Woloan, Senator Maya Rumantir Menemukan Surga Kecil yang Tersembunyi

MANADO,SpiritPerantau.com II Minggu, 14 Maret 2026, langit di atas Woloan tampak muram dengan awan tebal yang seolah enggan berkompromi, namun rintik hujan tak menyurutkan langkah Senator DR Maya Rumantir MA PHD. Tanpa iring-iringan protokoler yang bising, ia memilih hadir secara incognito, menyelinap di antara sejuknya udara Tomohon menuju sebuah komplek rumah sederhana.

Di sana, di Panti Sayap Kasih, sebuah keheningan yang penuh makna menanti untuk disapa dengan kehangatan kasih yang tulus.

Panti Sayap Kasih bukanlah sekadar tempat penampungan, melainkan oase bagi mereka yang menyandang disabilitas ganda, sosok-sosok yang sepanjang hidupnya terjebak dalam keterbatasan fisik dan mental yang absolut. Di bawah naungan kasih para Bruder dari Kongregasi Tujuh Dukacita Sta Maria (BTD) Komunitas Santu Yosef, anak-anak ini dirawat dengan ketulusan yang melampaui logika manusia biasa. Bagi mereka, kemandirian adalah kemewahan yang tak mungkin tergapai, sehingga seluruh napas kehidupan mereka sangat bergantung sepenuhnya pada uluran tangan sesama.

Bagi Senator Maya Rumantir, jika banyak orang sering kali menganalogikan taman bunga yang indah sebagai gambaran surga, maka panti di pojok Woloan ini adalah wujud surga kecil yang nyata. Di sinilah “Rumah Cinta” berdiri dengan anggun, menjadi saksi bahwa kemanusiaan masih memiliki tempat yang paling suci di dunia yang kian bising. Kehadirannya sore itu bukan untuk sebuah pencitraan politik, melainkan sebuah perjalanan spiritual untuk menjemput damai di hati.

Rasa kagum terpancar jelas dari tatapan sang Senator saat menyaksikan ketelatenan sebelas orang pengasuh yang mendedikasikan hidup mereka untuk merawat tiga puluh empat penghuni panti. Kesabaran para perawat ini dianggapnya sebagai mukjizat harian yang menghangatkan suasana panti, mengubah keterbatasan menjadi sebuah harmoni pengabdian yang luar biasa. Mereka bukan sekadar bekerja, melainkan sedang menjalankan misi surga untuk menjaga martabat manusia yang paling rapuh di hadapan dunia.

“Para pengasuh ini luar biasa, kesabaran mereka menjadikan panti ini rumah cinta Allah yang menghangatkan dan memberikan harapan,” tutur Senator Maya Rumantir dengan nada suara yang bergetar penuh haru.

Pembawa mandat surat Bunda Teresa untuk perdamaian di Indonesia ini, menegaskan bahwa setiap jiwa yang ada di panti ini adalah ciptaan Allah yang mulia dan berhak mendapatkan perhatian lebih dari sesama. Baginya, Sayap Kasih harus terus mengepakkan sayapnya lebih lebar agar dampak nyata dari kasih Tuhan bisa terus dirasakan.

Senator Maya Rumantir meyakini bahwa dunia saat ini sangat membutuhkan lebih banyak “pojok-pojok” seperti Woloan, di mana rumah cinta Allah berdiri dengan tegak dan anggun di tengah ketidakpedulian. Eksplorasi kasih yang dilakukan di panti ini membuktikan bahwa cahaya harapan tidak akan pernah padam selama masih ada hati yang mau berbagi. Baginya, Sayap Kasih adalah simbol bahwa dunia masih memiliki ruang untuk kebaikan yang murni tanpa pamrih.

Meski dalam kunjungan tersebut Senator Maya Rumantir meninggalkan sejumlah bantuan materi dan sangu bagi para pengasuh, hal itu dianggap bukanlah inti dari pertemuan tersebut. Bagi sosok seperti Ita Neman, Sherly Poluan, dan Riny Aror, bantuan fisik hanyalah pelengkap dari sesuatu yang jauh lebih besar. Nilai dari sebuah kehadiran fisik yang penuh empati jauh melampaui angka-angka, karena kasih tidak selalu bisa diukur dengan apa yang digenggam tangan.

Ita Neman mengungkapkan bahwa kehadiran Ibu Maya di tengah mereka adalah kado yang paling berharga dan menguatkan semangat pelayanan mereka yang terkadang melelahkan. Pancaran kasih yang tulus dari wajah sang Senator memberikan suntikan moral yang luar biasa bagi para penghuni dan pengurus panti. Ketulusan itu dirasakan sebagai pelukan hangat yang meyakinkan mereka bahwa mereka tidak sendirian dalam berjuang merawat anak-anak yang berkebutuhan khusus tersebut.

Senada dengan itu, Sherly Poluan dan Riny Aror melihat bahwa aura ketulusan yang dibawa Senator Maya Rumantir mampu menembus sekat-sekat formalitas seorang pejabat negara menjadi sosok ibu yang pengasih. Di mata mereka, tatapan mata Maya yang teduh saat menyentuh tangan anak-anak disabilitas ganda adalah bahasa kasih yang paling jujur. Momen tersebut menjadi bukti bahwa kemanusiaan adalah bahasa universal yang bisa dipahami oleh siapa saja, bahkan oleh mereka yang terbatas secara mental.

Kunjungan singkat namun mendalam di sudut Woloan ini meninggalkan jejak emosional yang kuat bagi semua orang yang menyaksikannya di sore yang mendung itu.

Saat mobil sang Senator perlahan meninggalkan area panti, semangat Sayap Kasih tetap bergetar hebat, membawa pesan bahwa cinta adalah satu-satunya kekuatan yang mampu menyembuhkan dunia. Di pojok Woloan, surga kecil itu akan terus bercahaya, menjadi pengingat akan keagungan cinta Allah yang tak terbatas. (Ge’ge/Femm)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*