
SpiritPerantau.com II Momentum Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) menjadi saat yang tepat untuk merefleksikan kembali arah pembangunan sumber daya manusia di Indonesia. Di tengah derasnya arus digitalisasi, Senator DR. Maya Rumantir, MA., PHD., membawa pesan mendalam yang menyentuh akar pendidikan.
Bagi Maya Rumantir, pendidikan bukan sekadar urusan kurikulum di atas kertas, melainkan soal memanusiakan manusia. Visi ini telah ia rintis sejak tahun 1989 melalui Yayasan Maya Bhakti Pertiwi, di mana ia secara konsisten merangkul para guru dari pelosok pedalaman Indonesia yang selama ini menjadi pahlawan tanpa tanda jasa di garis depan.
Di era di mana Kecerdasan Buatan (AI) mulai mendominasi ruang kelas, Senator Maya memberikan peringatan penting bahwa teknologi hanyalah alat, bukan pengganti jiwa seorang pendidik.”Kecerdasan intelektual tanpa landasan moral yang kuat hanya akan melahirkan pribadi yang cerdas namun kehilangan hati nurani. Teknologi bisa mentransfer data, tapi hanya guru yang bisa mentransfer nilai dan etika,” ujar Senator Maya Rumantir dalam keterangannya terkait Hardiknas.
Menurutnya, pendidikan karakter adalah benteng terakhir agar generasi muda tidak kehilangan jati diri. “Globalisasi harus dihadapi dengan kepala tegak tanpa harus menanggalkan nilai-nilai luhur Pancasila sebagai identitas bangsa,” tambahnya.
Ada satu pesan khusus yang selalu ia tekankan bagi para pendidik: menjadikan profesi ini sebagai sebuah panggilan hidup, bukan sekadar mencari nafkah. “Saya selalu sampaikan kepada para guru, jadikan profesi ini sebagai panggilan suci. Ketika seorang guru menyadari panggilannya, maka setiap interaksi di dalam kelas bukan lagi sekadar pekerjaan, melainkan ibadah dan bentuk pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Esa,” tuturnya dengan penuh keyakinan.
Ia juga mengajak para pendidik untuk membangun kedekatan emosional dengan siswa. “Cintailah setiap murid layaknya anak kandung sendiri. Dengan cinta, ilmu yang diberikan akan lebih mudah meresap ke dalam jiwa mereka.
Sebagai wakil rakyat, Maya Rumantir tidak menutup mata terhadap realitas pahit yang masih dialami banyak guru, terutama di daerah terpencil.

Persoalan kesejahteraan dan fasilitas sekolah yang minim menjadi fokus perjuangannya di meja kebijakan. “Tanpa guru yang sejahtera dan kompeten, cita-cita Indonesia Emas 2045 hanyalah akan menjadi sekadar mimpi indah di siang bolong. Investasi terbaik yang bisa dilakukan oleh negara adalah dengan memuliakan dan memberikan perhatian penuh kepada para gurunya,” tegas Senator asal Sulawesi Utara ini.
Ia mendesak agar alokasi anggaran pendidikan benar-benar menyasar pada peningkatan kualitas dan kesejahteraan guru di lapangan, bukan hanya habis untuk urusan birokrasi.Menuju Indonesia Emas 2045.
Menutup pernyataannya, pendiri Institut Sumber Daya Manusia (IPSDM) MAYA GITA ini mengajak seluruh komponen bangsa untuk bersinergi. Baginya, bonus demografi hanya akan menjadi berkah jika Indonesia mampu mencetak generasi yang tidak hanya mahir secara teknologi, tetapi juga kokoh secara spiritual.
“Mari kita maknai kembali pendidikan karakter sebagai jangkar moralitas siswa di tengah bisingnya modernitas. Dengan sinergi yang kuat, masa depan Indonesia yang cerdas dan berkarakter pasti akan terwujud,” pungkasnya. (Femmie)
Be the first to comment