Ferry Silap Telew Mailensun, Goresan Pena Sang Kolonel: Romantika Tugas di Balik Bayang-Bayang Sejarah

Watumea Minahasa-SpiritPerantau.com II Di senja usianya, Ferry Silap Telew Mailensun, pria kelahiran Tondano, 25 Desember 1942, seringkali terpaku menatap barisan foto tua di ruang tamunya. Ada kerinduan yang membuncah dari lubuk hati lulusan Akabri Kepolisian 1970 ini untuk merangkai kepingan ingatan menjadi sebuah buku.

Pangkat terakhirnya memang Kolonel, namun jejak langkahnya dalam sejarah keamanan Indonesia begitu mendalam. Baginya, setiap penggalan tugas adalah romantika pengabdian yang harus diwariskan agar tidak hilang ditelan zaman yang kian menderu.

Dari titik terendah

Perjalanan kariernya dimulai dari titik terendah. Ferry adalah bukti nyata bahwa dedikasi mampu menembus batas kelas; ia memulai pengabdian sebagai polisi pangkat terendah sebelum akhirnya berhasil menembus gerbang akademi kepolisian.

Kecemerlangannya di lembah Tidar dan Sukabumi membawanya pada posisi prestisius sebagai Komandan Taruna lintas angkatan. Pengalaman memimpin calon-calon pemimpin inilah yang menempa mentalitas baja dan kedisiplinannya, membentuk karakter seorang perwira yang kelak akan disegani baik di lingkungan teritorial, pendidikan, maupun intelijen strategis nasional.

Dunia intelijen mempertemukannya dengan sosok-sosok raksasa. Ferry mengenang dengan penuh rasa hormat masa-masa ia bekerja di bawah komando langsung dua tokoh bangsa, LB Moerdani dan Laksamana Sudomo. Baginya, kedua jenderal tersebut bukan sekadar atasan, melainkan guru kehidupan yang mengajarkan arti loyalitas dan ketajaman analisis. Penghormatan Ferry kepada mereka melampaui hirarki militer; itu adalah ikatan batin antara prajurit dan komandannya yang telah bersama-sama mengarungi berbagai badai operasi rahasia demi stabilitas negara.

Kebanggaan luar biasa juga terpancar saat ia menceritakan perannya di dunia pendidikan militer. Ferry pernah dipercaya menjadi dosen pengganti bagi LB Moerdani, sebuah tanggung jawab yang sangat berat namun membanggakan. Bayangkan, seorang perwira berpangkat Kapten dengan lantang mengajar dan memberi instruksi di depan kelas yang pesertanya adalah para Kolonel calon atase militer.

Keberanian dan kecerdasannya dalam mengolah materi intelijen di Lemdiklat Polri menjadikannya sosok yang dihormati di lingkungan pendidikan kepolisian hingga hari ini.

Ujian pahit

Namun, integritas Ferry bukan tanpa ujian yang pahit. Saat menjabat Kapten, ia dengan berani mengusut dugaan korupsi yang dilakukan oleh seorang Bupati yang berpangkat Kolonel. Keberanian ini membawanya ke sebuah sidang gelar perkara yang mencekam, di mana ia justru diusir keluar ruangan oleh Panglima ABRI, Jenderal M. Jusuf. Meski harus menelan pil pahit dan menghadapi amarah sang Panglima, Ferry tidak pernah menyesali langkahnya. Baginya, penegakan hukum tidak boleh pandang bulu, meski pangkatnya jauh di bawah.

Inovasi berantas premanisme

Ketika menjabat sebagai Kapolres Malang, Ferry melahirkan sebuah inovasi dalam pemberantasan premanisme yang kemudian menjadi rujukan nasional. Metode tegas yang ia terapkan di Malang kala itu dianggap sangat efektif untuk menekan angka kriminalitas jalanan yang meresahkan. Tanpa disangka, pendekatan tersebut menjadi cikal bakal dari fenomena yang kita kenal sebagai Penembakan Misterius atau Petrus pada awal tahun 1980-an. Sejarah mencatat bahwa taktik keamanan dari Malang tersebut akhirnya diadopsi sebagai kebijakan stabilitas nasional di masanya.

Sisi humanis Ferry tersingkap saat ia menceritakan kebaikan hati Laksamana Sudomo yang tak pernah ia lupakan. Ia begitu terharu mengenang momen saat sang Laksamana memberinya bantuan uang secara pribadi untuk membeli sebuah rumah tinggal. Tindakan Sudomo tersebut dianggapnya sebagai bentuk perhatian tulus seorang pemimpin terhadap kesejahteraan anak buahnya yang setia. Kenangan manis ini menjadi salah satu fragmen paling emosional yang ingin ia abadikan dalam bukunya, sebagai bukti bahwa kepemimpinan juga tentang empati.

Pengabdian teritorialnya pun meluas hingga menjadi Kapolwil NTT, di mana ia harus mengelola wilayah yang luas dengan segala kompleksitas budayanya. Di sana, ia kembali menunjukkan kemampuannya dalam menjaga harmoni dan keamanan wilayah perbatasan. Setiap jengkal tanah yang ia pijak dalam tugas teritorial selalu meninggalkan kesan mendalam tentang bagaimana polisi harus menyatu dengan rakyat. Pengalaman di NTT semakin memperkaya perspektifnya tentang keberagaman Indonesia yang harus dijaga dengan pendekatan yang tegas namun tetap humanis.

Kecerdasan akademik Ferry juga memberikan sumbangsih besar bagi masa depan penegakan hukum di Indonesia. Siapa sangka, tesis dan skripsi yang ia tulis saat menempuh sekolah lanjutan kepolisian bertemakan pemberantasan korupsi menjadi rujukan penting bertahun-tahun kemudian. Ketika pemerintah merencanakan pembentukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), gagasan-gagasan Ferry dalam tulisan ilmiahnya diambil sebagai salah satu referensi pembangunan institusi antirasuah tersebut. Ini adalah bukti bahwa pemikiran sang Kolonel melampaui zaman dan pangkatnya.

Tak pecah bintang

Meski memiliki rekam jejak yang gemilang dan kontribusi nyata, pangkat Ferry harus terhenti di tingkat Kolonel hingga masa pensiunnya tiba. Secara kualifikasi dan prestasi, ia sudah sangat layak untuk “pecah bintang” atau menyandang pangkat Jenderal.

Namun, garis nasib berkata lain di tengah pusaran politik internal saat itu. Ia sering dianggap sebagai “orangnya LB Moerdani”, sebuah label yang di satu sisi membanggakan namun di sisi lain menjadi hambatan karier ketika konstelasi kekuatan di pucuk pimpinan ABRI mulai bergeser.

Ketegaran Ferry menghadapi kenyataan gagal menjadi Jenderal adalah pelajaran tentang keikhlasan seorang prajurit sejati. Ia tidak sedikitpun merasa kecil hati atau menyimpan dendam terhadap institusi yang sangat ia cintai. Baginya, pengabdian tidak diukur dari jumlah bintang di pundak, melainkan dari sejauh mana tugas dilaksanakan dengan kejujuran. Ia tetap berdiri tegak sebagai seorang pensiunan perwira yang memegang teguh sumpah prajurit, meski harus merelakan ambisi jabatan tertingginya demi prinsip dan loyalitas yang ia pilih.

Kini, melalui rencana penulisan bukunya, Ferry ingin menyuarakan bahwa sejarah kepolisian Indonesia dibangun oleh keringat dan air mata para perwiranya. Ia ingin generasi muda Polri memahami bahwa dinamika tugas di lapangan, mulai dari intelijen hingga pendidikan, memiliki romantika yang penuh makna. Buku tersebut nantinya tidak hanya akan berisi memoar pribadi, tetapi juga catatan sejarah penting tentang bagaimana kebijakan keamanan nasional dirumuskan dan dilaksanakan di lapangan, termasuk kontroversi-kontroversi yang menyertainya dalam bingkai kesetiaan kepada negara.

Ingin tetap bertugas

Keinginan menulis buku ini adalah cara Ferry untuk tetap “bertugas” meski seragamnya telah lama tersimpan di lemari. Ia merasa memiliki utang sejarah untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi di balik layar berbagai peristiwa besar yang ia alami. Dengan menulis, ia berharap semangat kejujurannya saat mengusut korupsi atau inovasinya dalam memberantas kejahatan dapat menjadi inspirasi. Sosok dari Tondano ini ingin meninggalkan warisan intelektual yang bisa dibaca oleh anak cucu dan seluruh insan Bhayangkara di masa depan.

Di masa tuanya, Ferry Silap Telew Mailensun tetaplah seorang komandan bagi ingatannya sendiri. Ia terus mengumpulkan catatan-catatan kecil, memverifikasi kembali tanggal-tanggal penting, dan merangkai kata demi kata dengan penuh ketelitian. Semangatnya untuk membukukan romantika tugas ini adalah bukti bahwa pengabdian seorang polisi tidak pernah berakhir hanya karena masa pensiun telah tiba. Baginya, menulis adalah tugas terakhir yang harus diselesaikan agar kebenaran dan dedikasi tetap abadi dalam lembaran kertas yang takkan lekang oleh waktu. (Recky Runtuwene)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*