Metamorfosis Herbert Aritonang, SSos, SH, dari Pengantar Tabloid hingga Advokat Pajak

Kepercayaan dirinya bangkit. Ketika seorang wartawan resign, dia pun mengajukan diri dan diterima sebagai wartawan.  Dia terus belajar, mulai dari menyasar narasumber kompeten, melakukan investigasi maupun pelaporan dalam ragam bahasa yang  runtut, sedikit provokatif, lugas dengan sentuhan prosa yang bisa menggugah pembaca.Untuk menulis, dia mengaku belajar dari tulisan dan laporan yang ada di koran-koran umum, terutama Harian Kompas dan Majalah Mingguan Tempo.

Bersama rekan seprofesi

Terbiasa membaca Tempo, ia terobsesi menerbitkan majalah Kristen dengan gaya tempo. Ia pun  membuka dan memimpin sebuah majalah baru, Spektrum. Di media ini dia banyak mendapatkan tawaran untuk menggadaikan integritas dan idealismenya sebagai jurnalis untuk mendapatkan keuntungan finansial. Tapi, katanya, dia menolak tegas.

Jalan Tuhan

Dilahirkan di tengah keluarga sederhana, Herbert selalu berusaha mencari terobosan untuk merubah keadaan kehidupan ekonomi keluarganya.

“Hidup saya itu dari dulu susah. Kalau sekarang saya susah, yang bodoh saya. Saya sudah disekolahkan dan jadi harapan keluarga. Jadi sayang kalau saya masih tergantung pada pekerjaan fisik. Saya cari terobosan dan saya putuskan untuk menjadi lawyer,” kata suami dari Maria Sondang ini.

Ia pun belajar hukum di Universitas Bung Karno (UBK). Setelah lulus dari UBK dan lulus sertifikasi profesi pengacara, Herbert pun terjun mendampingi  klien.

Lima tahun sudah dia menjalani profesi advokat. Dan dia mengakui bahwa ketika kita menjalani pekerjaan-pekerjaan yang dipercayakan kepada kita dengan total,  semua dinamika dan tantangan dalam pekerjaan niscaya  memberikan pelajaran berharga dan menentukan sukses kita sekarang ini.

Kariernya sebagai wartawan dengan seluruh dinamika dan godaannya, memberikan dia  modal kuat dalam menapaki profesi advokatnya. Nah, apa saja modal kuat yang dia peroleh dari pekerjaan sebelumnya?

Pertama, pengalaman memasarkan tabloid.  Lawyer,  kata dia, tak bisa lepas dari dunia marketing.

Kedua, keterampilan menulis dan idealisme. Dunia lawyer, kata dia, merupakan dunia idealisme. Tanpa itu, seorang lawyer bisa bermain dua kaki dan merugikan klien. Tanpa idealisme, pengacara akan lebih mementingkan isi kantong klien ketimbang aspek kemanusiaan.

“Kebiasaan menginvestigasi dan menulis, membuat alur cerita bermutu tapi  provokatif, cukup menentukan dalam berperkara. Dengan ragam penulisan pembelaan yang logis, terstruktur, provokatif dan menggugah rasa, mereka yang tadinya ngantuk, jadi terjaga. Saat membacakan, ada yang terbawa perasaan, menangis,” ujar  ayah empat anak ini.

Bentuk pembelaan seperti ini, kata Herbert, bisa mempengaruhi penilaian hakim atas perkara yang sedang disidangkan. “Biasanya hakim akan mendengar dengan sungguh-sungguh isi pembelaan kita,” katanya.

Melihat kembali perjalanan kariernya, sebuah metamorfose dari pengangkut tabloid hingga Advokat, Herbert yakin bila dia sedang melangkah di jalan yang Tuhan mau dia tapaki.

Membela dengan tuntas

Sudah banyak kasus yang dia tangani. Yang membekas, ketika dia membela seorang dokter wanita yang dipidanakan suaminya, di Bukittinggi, Sumatera Barat pada tahun 2019.

“Dari saya dijemput di Bandara sampai di Polres, dia menangis melulu. Ketakutan. Saya ambil tindakan, kita buat laporan balik. Saat BAP,  dokter yang kepala Puskesmas ini  sudah dalam posisi ditahan. Lawannya di-backup sama orang kuat. Saya datangi Kapolres, lalu Wakapolres. Saya pertanyakan, kok unsur tidak terpenuhi tapi klien saya ditahan,” cerita Herbert.

Wakapolres tegas. Kepada anak buahnya, ia menegaskan, bila dokter ini salah, ya dilanjutkan kasusnya. Bila tidak, ya dilepaskan. Akhirnya kasus ini SP3.

Lima tahun berkarir sebagai pengacara, ia mengaku tak memilih-milih perkara.  Ada juga perkara pro-deo alias tak dibayar. Ia pernah mendampingi pemulung yang putrinya dicabulin oleh ayah tirinya. Perempuan tersebut sudah pernah melaporkan kasusnya, tapi tak diproses.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*