SULAWESI UTARA, SpiritPerantau.com II MEMBANGUN sebuah peradaban tidaklah cukup hanya dengan menumpuk batu bata atau membentang aspal jalanan yang dingin. Bagi Youdy Aray, seorang mantan seminaris (sekolah menjadi imam Katolik) yang visioner, pembangunan fisik tanpa nafas seni budaya hanyalah raga tanpa jiwa yang hampa. Ia berargumen bahwa kemajuan sebuah bangsa sejatinya terpancar dari sejauh mana masyarakatnya mampu menghargai dan menyejajarkan warisan leluhur dengan derap modernitas. Inilah landasan filosofis yang membakar semangatnya untuk terus bergerak maju menghidupkan kembali identitas kolektif bangsa yang kian tergerus zaman.

Realitas di lapangan memang seringkali tidak seindah retorika pembangunan yang digaungkan oleh pemerintah pusat di Jakarta. Meski Kementerian Kebudayaan telah hadir sebagai payung besar, Youdy menyadari bahwa implementasi pelestarian di tingkat kabupaten dan kota sangat bergantung pada kebijakan kepala daerah. Daripada terjebak dalam keluh kesah yang tidak produktif, ia memilih jalan sunyi untuk bertindak secara mandiri demi menjaga nyala api tradisi. Pada tahun 2010, dengan modal semangat yang membara, ia resmi mendirikan Rumah Budaya Nusantara Wale Ma’zani di Tomohon.
Merangkak dari bawah
Perjalanan membangun Wale Ma’zani bukanlah sebuah proses instan yang bertabur kemudahan, melainkan perjuangan panjang yang sangat melelahkan. Youdy harus merangkak dari bawah, tertatih-tatih menghadapi berbagai keterbatasan finansial maupun kurangnya dukungan fasilitas di masa-masa awal berdiri. Namun, selayaknya seorang seniman sejati yang tidak pernah mengenal titik henti dalam berkreasi, ia terus memahat mimpinya dengan ketekunan luar biasa. Baginya, setiap hambatan adalah ujian mental untuk membuktikan seberapa besar cinta dan kesetiaannya terhadap tanah kelahiran Minahasa yang kaya.

Kini, kerja keras selama lebih dari satu dekade itu mulai menampakkan hasil yang sangat mengagumkan bagi siapapun yang berkunjung. Di atas lahan seluas sepuluh hektare yang asri, Wale Ma’zani telah bertransformasi menjadi sebuah kompleks kebudayaan yang sangat komprehensif. Kawasan ini kini dilengkapi dengan amfiteater megah, Perpustakaan AB Palar, hingga bengkel kerajinan alat musik kolintang yang menjadi primadona. Tempat ini bukan sekadar bangunan mati, melainkan sebuah ekosistem kreatif yang terus berdenyut menghidupkan kembali memori kolektif masyarakat tentang kejayaan masa lalu.
Salah satu monumen penting di kompleks ini adalah Rumah Inspirasi Kolintang yang didedikasikan khusus untuk tokoh nasional, Benny Josua Mamoto. Youdy membangun “terung” kolintang ini sebagai bentuk penghormatan tertinggi atas perjuangan Benny selama dua puluh tahun terakhir bagi budaya Minahasa. Benny Mamoto dikenal sebagai pejuang yang gigih mengupayakan agar alat musik kolintang diakui secara resmi oleh UNESCO sebagai warisan dunia. Dedikasi ini menunjukkan betapa kuatnya jejaring persahabatan dan sinergi antar tokoh dalam menjaga kehormatan seni tradisi di panggung internasional.

Wale Ma’zani juga berperan vital sebagai laboratorium pertunjukan untuk menggali kembali upacara-upacara adat Minahasa yang hampir, atau bahkan sudah punah. Di sinilah tari Maengket, Kabasaran, dan musik Tambur dilatih dan dipentaskan agar generasi muda tidak kehilangan akar budayanya sendiri. Selain aspek seni, fasilitas di tempat ini juga sangat representatif dengan adanya penginapan, aula pertemuan, dan area outbound. Semuanya dirancang menyatu dengan alam, menciptakan suasana harmonis yang membuat setiap pengunjung merasa kembali ke pelukan ibu pertiwi yang tenang.
Perkampungan adat
Saat ini, fokus pengembangan Youdy Aray tertuju pada pembangunan perkampungan adat yang dilengkapi dengan seluruh aksesoris pendukung yang sangat otentik. Ia ingin menciptakan ruang di mana sejarah tidak hanya dibaca melalui buku, tetapi dapat dirasakan melalui tekstur kayu dan atmosfer desa. Upaya ini dilakukan untuk memberikan pengalaman sensorik yang lengkap bagi para wisatawan maupun peneliti budaya yang datang. Pembangunan fisik di Wale Ma’zani selalu selaras dengan nilai-nilai estetika dan kearifan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Keberhasilan ini, menurut Youdy, mustahil tercapai tanpa adanya dukungan dari teman-teman seperjuangan, pengrajin terampil, serta para pegiat seni independen. Mereka adalah pilar-pilar tak terlihat yang menyokong tegaknya Wale Ma’zani di tengah badai pragmatisme yang seringkali mengabaikan aspek kebudayaan. Kolaborasi ini membuktikan bahwa kekuatan komunitas mampu melampaui birokrasi yang terkadang kaku dan lamban dalam merespons kebutuhan mendesak pelestarian seni. Kebersamaan inilah yang menjadi modal sosial paling berharga dalam menjaga keberlangsungan rumah budaya yang unik ini.
Mengambil sepi
Sosok Youdy Aray mendapatkan apresiasi tinggi dari Eric MF. Dayoh, seorang budayawan Jurnalis yang dihormati. Eric memuji langkah Youdy yang memilih “mengambil sepi” di saat banyak seniman lain justru terjebak dalam orientasi proyek yang dangkal. Konsistensi Youdy dalam mewujudkan cita-citanya dianggap sebagai oase di tengah gersangnya kepedulian terhadap substansi seni yang murni. Bagi Eric – yang staf khusus Gubernur Sulawesi Utara bidang seni budaya, Youdy adalah contoh nyata bagaimana seorang individu dapat memberikan dampak besar bagi daerahnya melalui integritas dan keteguhan hati.

Dalam kacamata Recky Runtuwene, seorang jurnalis yang karib dengan peristiwa kebudayaan, Youdy Aray bukanlah sekadar pelaku seni biasa. Ia dipandang sebagai pribadi yang telah sepenuhnya melebur dengan visi besar pelestarian seni budaya Minahasa. Ketulusannya tercermin dari sikapnya yang terbuka; Youdy dikenal sebagai sosok tanpa prasangka yang senantiasa menyambut siapa pun yang datang membawa gagasan, meski sering kali hasil akhirnya tidak selalu sejalan dengan harapan awal.
Keterbukaan ini berakar pada orientasi dan komitmen diri yang sangat jelas terhadap identitas tanah kelahirannya.
Menurut Recky, bagi Youdy, setiap interaksi dan ide baru adalah peluang untuk memperluas jangkauan budaya Minahasa, sehingga ia tak ragu memberikan ruang bagi eksperimen kreatif. Konsistensinya dalam menjaga nilai-nilai lokal membuat sosoknya menjadi jangkar yang kuat di tengah arus modernisasi yang kerap mengikis tradisi.
Pada akhirnya, dedikasi Youdy Aray melampaui sekadar rutinitas berkesenian. Ia menjadi simbol bagi keteguhan prinsip yang bersanding dengan kerendahan hati. Melalui dedikasi yang tulus dan visi yang tajam, ia membuktikan bahwa menjaga warisan leluhur membutuhkan keberanian untuk merangkul setiap perbedaan, demi menjaga agar api kebudayaan Minahasa tetap menyala terang bagi generasi mendatang.

Kini, Rumah Budaya Nusantara Wale Ma’zani Tomohon terus bergegas menyelaraskan diri dengan tuntutan zaman tanpa harus kehilangan identitas aslinya yang luhur. Ia tidak hanya sekadar mengikuti arus perkembangan teknologi atau pariwisata, tetapi justru mengisi kekosongan batin dari pembangunan yang seringkali berjalan kasar. Seni dan budaya ditempatkan sebagai bahasa batin yang memperhalus budi pekerti manusia di tengah kemajuan zaman yang semakin cepat. Wale Ma’zani berdiri tegak sebagai pengingat bahwa kemajuan sejati haruslah berakar pada nilai-nilai tradisi yang kuat.
Warisan abadi
Melalui Wale Ma’zani, Youdy Aray telah menitipkan sebuah warisan abadi bagi generasi mendatang di tanah Minahasa dan juga bangsa Indonesia. Ia membuktikan bahwa mimpi yang dikerjakan dengan penuh cinta dan cucuran keringat akan membuahkan hasil yang mampu melampaui umur pemiliknya. Tempat ini adalah rumah bagi siapa saja yang ingin belajar tentang keberanian, kreativitas, dan cinta yang tulus pada leluhur. Tomohon kini tidak hanya dikenal karena keindahan bunganya, tetapi juga karena denyut budaya yang berdetak kencang di Wale Ma’zani.

Pada akhirnya, perjuangan Youdy Aray adalah sebuah refleksi bagi kita semua tentang arti penting menjaga “mata hati” sebuah bangsa agar tetap tajam. Selama masih ada individu-individu yang rela berkorban demi tegaknya marwah budaya, maka bangsa ini tidak akan pernah kehilangan arah di masa depan. Wale Ma’zani akan terus menjadi mercusuar bagi pembangunan yang humanis, di mana seni budaya dan kemajuan fisik berjalan beriringan. Langkah kaki Youdy mungkin akan menua, namun semangat yang ia tanam di tanah Tomohon akan terus tumbuh mewangi selamanya.(Gelegar Gemilang)
Be the first to comment