MANADO,SpiritPerantau.com II Gema selawat berkumandang membelah langit Nusantara, menandai tibanya peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah. Hari besar yang penuh berkah ini bukan sekadar rutinitas kalender keagamaan tahunan, melainkan momentum spiritual global untuk merenungkan kembali keteladanan akhlak mulia sang pembawa risalah perdamaian dunia. Bagi segenap elemen bangsa Indonesia, peringatan agung ini senantiasa memancarkan energi positif guna mempererat tali persaudaraan kebangsaan yang harmonis.
Di tengah kekhusyukan perayaan tersebut, hadir sebuah ucapan penuh kesejukan dari DR. Maya Rumantir, M.A., Ph.D., Senator DPD RI asal Sulawesi Utara. Sebagai seorang pemimpin perempuan beragama Katolik, ketulusan ucapan selamat yang beliau sampaikan merefleksikan keindahan toleransi sejati yang melampaui sekat-sekat dogmatis. Beliau memandang esensi Maulid Nabi sebagai mercusuar moral universal yang mengajarkan cinta kasih dan keadilan bagi seluruh umat manusia tanpa memandang perbedaan.
Pesan perayaan Maulid yang digaungkan oleh Senator Maya Rumantir selalu menitikberatkan pada pentingnya mengadopsi sifat welas asih dan kepemimpinan profetis dalam kehidupan bernegara. Menurut beliau pribadi, nilai-nilai kemanusiaan luhur yang diajarkan oleh Rasulullah merupakan modal sosial terbesar bangsa untuk merawat keberagaman Indonesia. Melalui momentum historis ini, sang akademisi mengajak masyarakat luas untuk selalu mentransformasikan ajaran kedamaian menjadi tindakan nyata demi mewujudkan kesejahteraan bersama secara harmonis.
Langkah konkret Senator Maya Rumantir dalam merajut jembatan toleransi antarumat beragama sesungguhnya bukanlah sebuah fenomena baru yang bersifat musiman atau politis semata. Sejak tiga dasawarsa silam, tokoh perempuan kharismatik ini telah menancapkan fondasi kokoh bagi gerakan perdamaian abadi di tanah air. Beliau menginisiasi berdirinya Kelompok Doa SABDA, sebuah komunitas persahabatan inklusif yang konsisten melintasi batas-batas keyakinan dan dogma keagamaan yang ada di masyarakat.
Komunitas Kelompok Doa SABDA hadir sebagai wadah pemersatu mulia yang menghimpun berbagai individu dari latar belakang iman dalam satu visi bersama yang agung. Di dalam lingkaran persaudaraan sejati ini, umat Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, serta Konghucu dapat duduk berdampingan tanpa sekat pemisah sedikit pun. Mereka semua dipersatukan oleh satu kerinduan mendalam, yaitu mewujudkan perdamaian hakiki dan merawat api persahabatan murni di tengah kemajemukan.
Selama tiga puluh tahun perjalanan panjangnya, komunitas lintas iman ini secara aktif menyemaikan nilai-nilai toleransi dan saling menghormati di akar rumput secara berkelanjutan. Kelompok Doa SABDA membuktikan secara nyata bahwa perbedaan teologis bukanlah penghalang utama untuk bersatu dalam aksi kemanusiaan dan doa. Gerakan kultural perdamaian ini senantiasa menekankan bahwa esensi tertinggi dari setiap ajaran agama adalah menyebarkan cinta kasih tulus kepada sesama mahluk hidup.
Komitmen jangka panjang yang ditunjukkan oleh Senator Maya Rumantir melalui wadah SABDA memberikan bobot moral yang sangat mendalam pada ucapan selamat Maulidnya. Ucapan selamat tersebut tidak pernah lahir dari sekadar retorika politik kosong, melainkan dari rekam jejak nyata perjuangan perdamaian yang panjang. Publik luas dapat melihat keselarasan yang sangat indah antara narasi toleransi yang diucapkan dengan tindakan nyata yang telah beliau hidupi sehari-hari.
Bagi sang Senator, memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad merupakan saat yang sangat tepat untuk memperkuat kembali pilar-pilar kebangsaan di bawah naungan Pancasila. Beliau menegaskan kembali bahwa persatuan Indonesia hanya dapat kokoh berdiri jika setiap warga negara saling menghargai perayaan hari besar keagamaan sesamanya. Semangat persaudaraan inilah yang terus diembuskan oleh jaringan Kelompok Doa SABDA ke seluruh penjuru wilayah nusantara hingga saat ini.
Artikel ini menangkap esensi utama bahwa harmoni di Indonesia tidak tumbuh secara instan, melainkan harus dirawat oleh komitmen personal para tokoh pemimpin. Figur humanis seperti Senator Maya Rumantir memberikan keteladanan nyata bagaimana seorang pemeluk Katolik dapat menghormati tradisi umat Islam dengan penuh takzim. Kehadiran aktif komunitas SABDA menjadi bukti otentik bahwa dialog antariman dapat berlangsung dengan sangat indah, damai, serta penuh ketulusan.
Mengakhiri refleksi suci menyambut Maulid Nabi 1448 Hijriah ini, pesan perdamaian dari Sulawesi Utara terus menggema membawa harapan baru bagi persaudaraan bangsa. Bersama komitmen tiga dasawarsa Kelompok Doa SABDA, mari kita sinergikan tekad bersama untuk menjaga Indonesia yang aman, toleran, serta bersatu. Selamat merayakan hari maulid Rasulullah, semoga berkah kedamaian abadi selalu menaungi bumi nusantara yang kita cintai bersama ini sepanjang masa. (Recky Paulus R)
Be the first to comment