MINAHASA,SpiritPerantau.com II Di usia 62 tahun, Petrus Lamongi, SE,. M.Si idealnya seperti layaknya pria seusianya, sudah menikmati massa pensiun, bermain dengan cucu ataupun berkelana menikmati indahnya dunia. Tapi tidak bagi suami tercinta Ester Meleke, ia justru memilih jalan pengabdian sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD).
Baginya, usia hanyalah angka, sementara panggilan untuk melayani rakyat adalah sebuah kehormatan yang harus diemban dengan sepenuh hati. Ia bukanlah politisi biasa yang hanya muncul saat kampanye atau peresmian acara seremonial. Ia adalah manifestasi nyata dari apa yang seharusnya disematkan pada gelar “wakil rakyat”.
Prinsip hidupnya sederhana namun mendalam: rakyat itu harus dilayani, bukan sebaliknya. Keyakinan ini tertanam kuat dalam setiap langkah dan kebijakannya.
Sumber dari dedikasi ayah dari Anro Lamongi ini berakar dari keyakinannya yang mendalam sebagai seorang yang takut akan Tuhan. Ia percaya bahwa setiap jabatan adalah amanah, sebuah bentuk pertanggungjawaban vertikal kepada Sang Pencipta dan pertanggungjawaban horizontal kepada masyarakat yang diwakilinya.
Nilai-nilai spiritual ini menjadi kompas moralnya, mencegahnya terjerumus dalam godaan korupsi atau kekuasaan semu yang sering melanda arena politik.
Filosofi pelayanannya sangat proaktif. Ia menganut pendekatan “jemput bola”. Anggota Dewan Kabupaten Minahasa Periode 2024 – 2029 ini, tidak menunggu warga datang ke kantornya di gedung dewan yang megah.
Sebaliknya, ia sering terlihat blusukan ke pelosok desa, mendatangi warung kopi, sawah, atau pasar tradisional di daerah pemilihan (dapil) nya. Mendengarkan keluhan masyarakat secara langsung adalah rutinitasnya.
Di dapilnya 2 Minahasa daerah pemilihannya, namanya sudah tidak asing lagi. Warga mengenalnya sebagai sosok yang ramah, pendengar yang baik, dan yang terpenting, sebagai pribadi yang responsif.
Dari masalah saluran irigasi yang tersumbat, ketersediaan pupuk, hingga persoalan administrasi kependudukan yang rumit, semua diadukan kepadanya. Ia mencatat setiap keluhan dengan saksama.
Setiap keluhan yang ia terima tidak hanya berhenti sebagai catatan di buku sakunya. Ia membawanya ke ranah yang lebih tinggi: rapat-rapat dewan.
Ruang rapat seringkali menjadi panggung baginya untuk menyuarakan aspirasi masyarakat dengan lantang dan jelas. Ia tidak pernah absen dalam sesi interupsi atau adu argumen demi memperjuangkan kepentingan rakyat.
Putera Kakas Talikuran ini memiliki pemahaman yang unik mengenai peran anggota dewan, yang seringkali ia sampaikan dalam rapat. Ia menjelaskan bahwa akar kata “parlemen” dalam bahasa Prancis berasal dari kata parler, yang berarti “berbicara”.
Baginya, esensi dari anggota parlemen adalah keberanian untuk berbicara, untuk berdebat, dan untuk berwacana demi kepentingan publik.
“Anggota dewan itu harus banyak bicara, bukan untuk pencitraan, tetapi untuk memastikan suara rakyat terdengar dan ditindaklanjuti,” ujar kader Partai GERINDRA suatu kali dalam rapat komisi yang memanas.
Pernyataannya itu selalu didasari oleh data lapangan yang valid, hasil dari kunjungan rutinnya ke dapil. Ia bicara berdasarkan fakta, bukan asumsi. Baginya, transparansi dan akuntabilitas adalah harga mati. Rakyat berhak tahu apa yang diperjuangkan oleh wakilnya.
Di tengah gempuran skeptisisme publik terhadap lembaga legislatif, ia berdiri sebagai mercusuar harapan. Ia membuktikan bahwa di antara para politisi pragmatis, masih ada sosok idealis yang menjadikan sumpah jabatan bukan sekadar formalitas, melainkan janji suci yang harus ditepati sampai akhir masa jabatannya.
Kisah mantan birokrat handal yang mengabdi puluhan tahun di Tanah Papua ini, menjadi pengingat bagi kita semua, terutama bagi generasi muda yang mungkin sinis terhadap politik. Bahwa perubahan nyata dapat terjadi jika tampuk kekuasaan diisi oleh orang-orang yang tepat, yang takut akan Tuhannya, dan yang menempatkan kepentingan rakyat di atas segalanya.
Di usia 62 tahun, ia mungkin memiliki langkah yang sedikit melambat, tetapi semangatnya untuk melayani tidak pernah pudar. Ia adalah “parlemen” sejati, seorang juru bicara rakyat yang suaranya akan terus bergema di gedung dewan, memastikan bahwa marwah demokrasi tetap terjaga di tingkat lokal. Dan semua dilakukan demi kemajuan Kakas. (Recky Runtuwene/Femmie)
Be the first to comment