WAMENA,SpiritPerantau.com II Setiap perantau menghadapi tantangan ganda: beradaptasi dengan lingkungan baru sambil tetap memegang teguh identitas asal. Bagi Bernard Simson Maalangen (58), seorang pendidik sukses di pegunungan Papua, dilema ini menemukan solusi dalam “spirit perantau”. Spirit ini, menurutnya, adalah keseimbangan dinamis antara menghormati adat istiadat dan kearifan lokal di tempat singgah, serta kewajiban moral untuk tetap berkontribusi bagi tanah leluhur. Maalangen, yang kini mengepalai sebuah sekolah kejuruan di Kota Wamena, membagikan pandangannya yang mendalam ini berdasarkan pengalamannya selama puluhan tahun di Bumi Cenderawasih.
Fondasi utama dari spirit perantau yang sukses, tegas Maalangen, adalah pemeliharaan karakter universal. Sopan santun, rasa hormat, dan penghargaan terhadap norma sosial setempat adalah mata uang yang berlaku di mana saja. Pengalamannya di Papua menjadi bukti nyata. “Orang Papua itu pada dasarnya baik selama kita dalam berinteraksi dengan mereka menghormati rambu rambu adat mereka,” ujarnya. Pesannya jelas, hindari superioritas, jauhi arogansi, dan perlakukan setiap individu setara.
Interaksi tulus
Maalangen menekankan pentingnya interaksi tulus. “Jangan sekali kali menunjukkan sifat bahwa mereka itu manusia kelas dua atau bodoh,” katanya. Komunikasi yang efektif tidak selalu bergantung pada kefasihan bahasa verbal. Ia menemukan bahwa “bahasa hati, bahasa cinta dan bahasa tubuh kasih” mampu menjembatani perbedaan linguistik dan budaya yang mungkin ada. Keikhlasan dalam bersikap menjadi kunci utama dalam membangun jembatan persaudaraan di tanah rantau.

Sebagai tokoh masyarakat, Maalangen mengemban peran penting sebagai Ketua Kerukunan Keluarga Kawanua di Provinsi Papua Pegunungan. Dari posisinya ini, ia secara konsisten mengingatkan para perantau Kawanua lainnya akan prinsip-prinsip fundamental tersebut. Baginya, hidup tidak boleh sekadar berlalu; hidup harus berdampak positif. Ia percaya bahwa setiap individu memiliki potensi untuk memberi inspirasi kebaikan, di manapun mereka berada.
Etos hidup berdampak ini berakar kuat pada nilai-nilai Minahasa. Maalangen merujuk pada panutan bapa bangsa Dr. Sam Ratulangi, yang filosofi terkenalnya ‘Si tou to mo tou’; “manusia hidup untuk menghidupkan orang lain”. Prinsip ini melampaui batas bantuan materi semata. Ini adalah tentang memotivasi, menginspirasi, dan menularkan nilai-nilai kebaikan serta kebenaran kepada sesama, sebuah misi yang dijalankan Maalangen sebagai perantau asal Kakas, Minahasa.
Kualitas diri
Selain karakter universal, aspek penting lain yang diwariskan leluhur adalah semangat untuk terus meningkatkan kualitas diri. Suami dari Sandra Lumintang – seorang guru dalam Keluarga Maalangen Lumintang ini, berpesan agar para perantau senantiasa menambah nilai hidup, nilai tambah dalam dirinya. Pendidikan menjadi pilar utama dalam peningkatan nilai tersebut. Semangat ‘sumikolah’ – sebuah kearifan lokal Minahasa yang mengedepankan pendidikan – harus tetap dijaga dan diimplementasikan.

Pendidikan, dalam pandangan Maalangen, adalah katalisator perubahan sosial dan ekonomi. Orang Minahasa dikenal sebagai masyarakat yang giat mengejar ilmu, dan tradisi ini tidak boleh pudar. Pesan ini bukan hanya untuk perantau di Papua, tetapi juga untuk generasi muda di kampung halaman. Ia sering mendengungkan pentingnya pendidikan saat pulang berlibur di tanah kelahirannya. Ia selalu menekankan bahwa mengejar ilmu adalah jalan keluar dari keterbatasan.
Maalangen menawarkan resep jitu untuk mengatasi kemiskinan, yang ia yakini hanya bisa ditanggulangi melalui dua cara: kerja keras dan sekolah. Menolak untuk bersekolah di tengah fasilitas yang memadai adalah sebuah “kebodohan”. Pemerintah telah menyediakan berbagai sarana; kini, bola ada di tangan warga. Semangat untuk terus belajar dan memanfaatkan setiap peluang pendidikan adalah keharusan mutlak bagi siapa saja yang ingin maju.
Selain semangat ‘sumikolah‘, etos kerja keras juga merupakan identitas yang melekat pada orang Minahasa. Mereka dikenal sebagai pekerja keras, cerdas, dan cermat. Maalangen berpesan agar etos luhur ini tidak hilang tergerus zaman atau lingkungan baru. Karakter ini, dipadukan dengan pendidikan, menjadi modal sosial yang tak ternilai bagi setiap perantau, memastikan mereka tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang dan sukses.
Perantauan adalah sebuah perjalanan karakter. Interaksi dengan budaya lain menguji kedalaman nilai-nilai yang dibawa dari rumah. Kisah Bernard Simson Maalangen mengajarkan bahwa kesuksesan di tanah rantau bukanlah tentang melupakan asal-usul, melainkan tentang mengintegrasikan kearifan lokal asal dengan kearifan tempat merantau, sambil menjaga karakter mulia yang universal. Ini adalah resep untuk hidup yang harmonis dan produktif di manapun berada.
Duta budaya
Perantau yang ideal adalah duta budaya. Mereka merepresentasikan tanah leluhurnya melalui perilaku dan kontribusi positif. Maalangen, melalui kepemimpinannya di Kerukunan Keluarga Kawanua, memastikan bahwa diaspora Minahasa di Papua Pegunungan tidak hanya menjadi penonton, tetapi agen perubahan yang memberi inspirasi, sejalan dengan ajaran Dr. Sam Ratulangi untuk saling menghidupkan satu sama lain.

Pada akhirnya, spirit perantau yang diuraikan oleh Bernard Simson Maalangen adalah panggilan untuk hidup yang bermakna. Ini adalah tentang kerendahan hati untuk belajar dari orang lain, keberanian untuk bekerja keras dan mengejar ilmu, dan komitmen untuk berdampak positif, baik di tanah rantau maupun di tanah leluhur. Pesan-pesannya berfungsi sebagai kompas moral bagi setiap individu yang memilih jalan untuk merantau.
Sekarang, ia lagi bergumul membukukan perjalanan hidupnya sebagai perantau, untuk menginspirasi dan memonumental – kan ziarah hidupnya. (Recky Runtuwene/Femmie)
Be the first to comment