SpiritPerantau.com—Spirit pemenang kuat terpateri dalam jiwa Alexander Aur Apelaby dan mendorongnya bermetamorfose dari seorang Satpam pabrik menjadi seorang dosen di Universitas Pelita Harapan, Tangerang.
“Laut saja bisa kita lewati, masak harus kalah di Jakarta,” kata pria kelahiran Waelolong, pesisir Pantai Utara Lembata, NTT yang kini adalah kandidat Doktor dari Universitas Sugyapranoto Semarang ini. Bila dulu matanya awas melihat truk yang keluar masuk gudang, kini ia sibuk menulis jurnal ilmiah, mengampu beberapa mata kuliah dan memeriksa hasil kerja para mahasiswanya.
Beberapa buku filsafat dan karya tulis lainnya telah dipublikasikan untuk memperkaya khazanah kemanusiaan. Sebut di antaranya “Pascastrukturalisme Michael Foucault dan Gerbang Menuju Dialog Antar Perabapan” yang dimuat dalam buku “Teori-Teori Kebudayaan”, “Dialog Negara Hukum Demokratis dan Agama: Memotret Deliberasi Politik Berbasis Agama di Indonesia dengan Perspektif Filsafat Politik Jurgen Habermas” dalam Ultima Humaniora, “Dari Babat Kopi ke Babat Nyawa: Narasi Tragedi Petani Kopi Colo demi Hak-Hak dan Martabat Kemanusiaan Para Petani” dalam buku “Gugat Darah Petani Kopi Manggarai”, dan masih banyak lagi.
Menikahi putri Jawa Dian Anggraini pada 2009, Alex dianugerahi seorang putra dan putri, Nikolas Angin Padang Savana dan Regna Ecclesia Rambu Paranggi. “Modal kita adalah tekad untuk menang, banyak berdoa dan rajin membangun relasi positif dengan semakin banyak orang,” katanya membuka cerita hidupnya.
Uang dalam lipatan kertas
Tamat SMA Negeri Lewoleba, Alex berhasrat belajar Antropologi di Kupang. Tapi sang ayah yang menghidupi keluarga dari berkebun, tak sanggup secara finansial mengikuti keinginan Alex. Saat itu ia masih harus membiayai perkuliahan anaknya yang lain sementara pendapatannya dari berkebun sangat jauh dari memadai.
“Kamu harus merantau ke Malaysia,” kata ayahnya. Merantau, terutama ke Malaysia memang jadi salah satu solusi jitu memperbaiki ekonomi keluarga dari masyarakat di kampung, bahkan kabupaten Flores Timur lainnya.
Meski berat, Alex menerima ultimatum itu. Berbekal uang sejuta rupiah yang dibungkus dalam sapu tangan kecil berwarna merah jambu, Alex berangkat. Sesuai instruksi sang ayah, sebelum ke Malaysia, Alex harus bertemu kakaknya dulu di Jakarta.
Berangkat bersama kelompok kesenian yang mau pentas di Jakarta, Alex naik kapal hingga Surabaya lalu lanjut dengan Kereta Api ke Jakarta. Menginap di rumah keluarga di Pondok Labu, Jakarta Selatan, ia sempat bertemu beberapa kerabat dekatnya yang sudah lama bermukim di Jakarta dan menganjurkannya untuk bekerja di Jakarta saja.
Jalan kaki Cipete-Kebun Jeruk
Perjuangan dimulai sebagai Satpam pabrik di PT. Selamat Sempurna yang memproduksi filter mesin mobil yang berlokasi di Kapuk Kamal. Sebagai penjaga malam yang telah melewati pelatihan Satpam, dengan pakaian satpam lengkap, ia menjaga keamanan pabrik. Dan harus bolak-balik Kapuk Kamal-Pondok Labu.
Tapi karena satu kesalahan, ia diberhentikan. Padahal baru 9 bulan bekerja di tempat itu. Sebulan menganggur, ia kembali bekerja. Kali ini di sebuah rumah makan, sebagai tukang cuci piring, sapu, ngepel, kadang melayani tamu.
Kebetulan pemilik rumah makan itu seorang anggota Dewan Paroki di Paroki Santo Stefanus Cilandak, Jakarta Selatan. Setelah tiga bulan sebagai pembantu restoran, pemilik restoran yang menjabat sebagai Direktur Keuangan di sebuah Perusahaan distributor handle pintu berkualitas dan mewah dari Jepang, itu mengajak Alex bekerja di kantor yang sama, dengan posisi awal sebagai Office Boy dengan tugas utama menyapu, bersihkan WC dan ngepel lantai, membeli makan untuk orang kantor dan banyak lainnya.

“Kadang-kadang, karena tidak ada ongkos, saya jalan kaki dari Cipete ke Kebun Jeruk Baru. Sebelumnya saya naik Kopaja, saya coba kenali route, supaya bisa lewati jalan potong. Dengan segala macam pemahaman yang sangat awam, kasar, saya nekad jalan kaki. Ada ruas tertentu yang memang mengikuti jalan Kopaja, kadang lewat gang-gang rumah sempit. Tidak mungkin tidak ada jalan ke sana,” cerita Alex yang biasa jalan dari rumah sekitar pukul 05.00 WIB.
Nongkrong di Gramedia
Tiap hari, Alex yang biasanya merampungkan tugas dasarnya sekitar pukul 10.00 WIB diberikan kesempatan latihan mengetik dengan mesin ketik, untuk melenturkan jari-jari. Dua bulan kemudian ia ditugaskan memindahkan data alur barang ke kartu-kartu katalog. Begitu, selain OB, ia merangkap pengimput data.
Tahun 1993, sepulang kerja, ia menyempatkan diri ikut kursus Komputer di daerah Melawai, Jakarta Selatan. Sebelum dan setelah mengikuti kursus, Alex selalu singgah di Toko Buku Gunung Agung Melawai atau Gramedia Blok M.
“Saya biasanya baca buku komunikasi dan jurnalistik. Juga baca majalah dan buku lainnya, sampai toko buku tutup. Bahkan sampai diusir-usir. Saya cari pojok paling belakang, saya ngumpet dan duduk baca,” kata Alex.
Minatnya di dunia tulis-menulis kian kuat juga. Tujuan membaca, majalah Tempo dan Harian Kompas utamanya, bukan hanya untuk mendapatkan informasi, tapi juga belajar cara dan gaya menulis para penulis dan wartawan kedua media favouritenya itu.
Tulisan pertama
Sebagai seorang pemuda Katolik, sejak 1993, Alex juga mulai nongkrong di Paroki Santo Stephanus, Cilandak, Jakarta Selatan bersama teman MUDIKA lainnya. Di situ, dalam kurun waktu itu, Alex mulai berkenalan dengan dinamika gereja dan orang muda Jakarta. Juga gerakan social bawah tanah untuk melawan Orde Baru. Saat itu, gereja menjadi salah satu titik kumpul diskusi kondisi dan dinamika politik. Alex bergaul dengan banyak mahasiswa Unas dan mulai membagi liflet-liflet rahasia.
Akhir 1993, Alex ikut ziarah ke Yogyakarta. Ia lalu menulis, mengetik berita itu dan dikirimkan ke Majalah Mingguan HIDUP Katolik. Tulisan pertama itu diterima dan masuk Majalah Rohani Katolik tersebut. Ia mengaku sangat bangga karena tulisannya bisa masuk HIDUP sementara dia hanya tamatan SMA dari kampung.
“Majalah itu saya bawa ke mana-mana,” kata remaja yang saat itu sering berkumpul juga di Arus Dalam, tepatnya di Intitut Sosial Jakarta (ISJ) yang saat itu dipimpin oleh romo Sandyawan Soemardi SJ. Seringkali Alex ikut investigasi ke lapangan dan menulis laporan jurnalistiknya untuk majalah dinding di Kranggan. Kelekatannya pada gerakan bawah tanah kian kuat.
Masuk Xaverian
Tahun 1994, ia mengetengahkan keinginannya untuk masuk Seminari dan memilih Palembang sebagai tempat pendidikannya. Lulus test, ia tinggalkan Stephanus, juga pekerjaan, dan memulai pendidikan calon imam di Seminari Menengah Santo Paulus, Palembang.
Dua tahun kemudian, ia ke Jakarta dan masuk Xaverian, serikat religious yang sudah dikenalnya sejak SMA. Masuk Novisiat di Bintaro, ia menerima kaul pertama pada 1999. Lalu ke Cempaka Putih, Jakarta Timur, belajar di Driyarkara sampai semester VII.
Sekitar pukul 14.00 WIB, 17 Januari 2003, Alex berhenti dari Xaverian dan bergabung di Komisi Keadilannya OFM (JPIC OFM Indonesia) bersama Pater Peter C Aman OFM dari 2003 hingga 2025. Alex kemudian bekerja sebagai jurnalis di Mingguan HIDUP dan beberapa penerbitan bercorak katolik lainnya.
Dosen tetap
Tahun 2009, Alex yang saat itu tinggal di Cikarang, mendapatkan kesempatan mengajar Religiositas di Universitas Multi Media Nusantara (UMN), Tangerang. Meski jauh dari rumah, Alex yang sudah memilih profesi dosen sebagai garis kariernya itu mengajar dengan gembira, sambil belajar di Driyarkara, Jakarta sejak 2010. Lulus S2 di tahun 2014, ia mendapat tawaran mengajar di Universitas Pelita Harapan, Tangerang. Sejak 2019, Alex resmi dan purna waktu mengajar di UPH. (Paul MG).
Be the first to comment