SpiritPerantau.COM-Beranilah keluar dari kelompok sedaerah, bila ingin sukses di rantau. Bukan karena menampakkan eksklusivisme atau lupa diri, tapi agar kita bisa keluar dari zona nyaman dan lebih mengenal peluang-peluang baru dari orang-orang di komunitas yang baru kita masuki.
Memang, berkumpul dengan orang satu daerah di tanah rantau atau peratauan, tentu menggembirakan. Bisa jadi kesempatan untuk bernostalgia tentang kampung halaman. Melalui kelompok arisan se-daerah misalnya, kita juga bisa saling menolong dan bersama-sama dapat membantu mengatasi persoalan yang ada di daerah asal kita.
Akan jadi masalah bila pergaulan itu berubah menjadi berwatak ekslusif dan cenderung menutup diri dari kelompok lain. Ini berbahaya bagi perantau pemula atau orang yang baru saja datang dari daerahnya.
Supaya sukses, bergaul dengan kelompok lain apalagi dengan orang asli merupakan keharusan.
“Sehebat-hebatnya kita di daerah asal kita, tetap orang sini lebih tahu tentang daerah dan dunianya. Kalau kita datang ke satu tempat, kita harus berkenalan dengan orang disitu. Pasti kan mereka punya informasi apapun tentang daerahnya. Jangan kita merantau lalu kumpul antar kita,” kata Dr. Inosentius Samsul, Kepala Badan Keahlian DPR-RI, berbagi kiat sukses merantaunya.
Saat baru datang ke Jawa misalnya, ia langsung memutuskan untuk masuk organisasi. Dari situ ia mendapat banyak informasi, kebutuhan bahkan permasalahan yang ada di Jawa.
“Intinya ya belajar dari orang daerah lain, jangan hanya bergaul dengan orang daerah sendiri. Tak bagus bertanya kepada orang yang sama-sama tidak tahu. Kita harus bertanya kepada orang yang berada di luar kelompok kita. Kita mendapatkan ilmu baru tentang dunia yang tak sebatas daerah asal kita,” katanya.
Selain belajar dari orang lain, ketika bergaul bersama orang dari daerah lain, kita pun dapat menunjukkan kemampuan dan kelebihan kita. “Someone is something when he is with the other people,” katanya.
Diapresiasi
Merantau, menurut Sensi, merupakan tindakan yang berani dan harus diapresiasi. Karena dia ingin mencari pengalaman dan tidak mau berebut ‘nasi sepiring yang ada di rumahnya sendiri’.
“Kalau kita di kampung, berarti bagi-bagi lagi tanah yang sudah ada sedikit itu. Keluar, ya biarkan mereka yang ngurus,” katanya.
Ditambahkan, begitu kita angkat kaki untuk merantau, kita seharusnya sudah bisa melepaskan hak kita atas properti warisan yang ada di kampung. Tak bergantung lagi pada harta warisan orangtua atau suku di kampung. (SP/01)
Be the first to comment