MANADO,SpiritPerantau.com II Jemaat dan rekan aktivis mengenalnya sebagai sosok yang tak bisa diam, seorang petarung yang lahir dari rahim organisasi dan ditempa oleh kerasnya idealisme. Sejak berseragam SMP dan SMA, jiwanya sudah “bergeliat” melampaui batas ruang kelas. Pramuka Cinta Bahari bentukan TNI Angkatan (Komando Daerah AL VI) di akhir tahun 1970-an dan awal 1980-an, bukan sekadar pengisi waktu, melainkan kawah candradimuka tempat ia mulai mengasah kepemimpinan. Sebagaimana tertulis dalam Amsal 22:6, “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.”
Di masa remaja, panggung teater menjadi guru kehidupan yang baru. Baginya, teater bukan soal ambisi menjadi bintang film yang dipuja-puji, melainkan sebuah latihan disiplin batin yang sunyi. Menulis puisi, menyusun skenario, hingga berperan di atas panggung adalah caranya menyelami kemanusiaan. Ia meyakini bahwa seni adalah cermin jiwa, sebuah wadah untuk menempa ketahanan diri sebelum menghadapi panggung kehidupan yang sesungguhnya.
Keberaniannya mulai teruji saat menjadi mahasiswa, ia memilih bergabung dengan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) di tengah rezim yang represif. Ketika banyak orang memilih bungkam karena takut, ia justru berdiri tegak membela hak ekspresi politik. Baginya, menyumbat suara rakyat adalah kekeliruan sejarah. Ia percaya bahwa politik adalah alat pengabdian, dan kesadaran itu harus dipupuk sejak dini, bukan justru dijauhi oleh kaum muda.
Ada rasa prihatin yang mendalam dalam sanubarinya melihat anomali generasi milenial saat ini. Dahulu, ketika ruang gerak dikekang, minat organisasi membara; namun kini saat kebebasan terbuka lebar, semangat itu justru meredup. Ia mengingatkan bahwa lewat organisasi dan kesenian, “asa dan asi” manusia digembleng. Tanpa tempaan itu, karakter akan rapuh. Seperti kata filsuf Friedrich Nietzsche, “Apa yang tidak membunuhku, membuatku lebih kuat.”
Kotbah yang hidup
Kenangan indah tertinggal di Jalan Kembang Aster, Manado, pada era 80-an. Bersama Eric Runtuwene dan Denny Rompas, sahabatnya, ia bukan sekadar pemuda yang berkumpul tanpa arah, melainkan penggerak massa. Salah satu momentum paling mengharukan adalah ketika ia mendobrak tradisi perayaan Natal. Ia menolak memberikan kehormatan menyalakan lilin kepada pejabat atau tokoh besar, melainkan memberikannya kepada mereka yang terlupakan: tukang bersih gereja, pemabuk, hingga orang dengan gangguan jiwa dalam Ibadah Perayaan Natal tersebut.

Tindakan itu adalah khotbah yang hidup. Ia ingin menunjukkan bahwa Natal adalah milik mereka yang termarjinalkan, mereka yang selama hidupnya mungkin tak pernah diberi panggung. Ia memanusiakan manusia di malam yang kudus, sebab ia tahu bahwa Tuhan hadir di antara yang paling hina. Sebagaimana pesan dalam Matius 25:40, “Segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”
Pilihan hidupnya seringkali dianggap ganjil oleh orang sekitar. Ia berpindah dari IKIP ke sekolah teologia di Universitas Kristen Tomohon. Melanjutkan kerinduannya menjadi Sarjana Theologi, ketika tamat SMA sempat masuk ke Sekolah Tinggi Theologia (STT) Intim, Makasar.
Ia memilih jalan kependetaan bukan untuk mengurung diri dalam gedung pastori yang nyaman, melainkan untuk menjadi “garam” yang masuk ke setiap pori-pori kehidupan, termasuk ke dalam dunia politik yang sering dianggap kotor.
Baginya, menjadi pendeta adalah panggilan untuk menyuarakan suara kenabian di tengah ketidakadilan. Ia menolak sekat-sekat yang memisahkan sakral dan profan. Seorang pendeta harus berani turun ke jalan, bergumul dengan persoalan rakyat, dan berteriak ketika keadilan dilukai. Seperti kata Aristoteles, “Manusia pada dasarnya adalah binatang politik,” dan baginya, politik yang berlandaskan moral adalah ibadah.
Kecemerlangannya membawanya ke puncak pimpinan GMNI Sulawesi Utara dari Ketua DPC Minahasa dipercayakan sebagai Ketua DPD GMNI Sulut. Di saat itu, PDI Sulawesi Utara, dengan lambang kepala banteng lurus, meliriknya hingga dipercaya menjadi Wakil Ketua DPD PDI Sulut saat usianya belum genap 25 tahun. Namun, ia tidak berhenti di situ.
Tak terbatas kayu jati
Panggilan jiwanya juga merambah dunia jurnalistik. Mulai mendirikan majalah kampus Inspirasi di UKI Tomohon dan menjadi wartawan di SKH Cahaya Siang, anak perusahan Jawa Pos, sebuah koran legendaris di Indonesia Timur yang memiliki misi penginjilan dan pencerahan saat itu.
Di dunia media, ia belajar tentang pahitnya realita bisnis. Idealisme tanpa modal akan tergilas, namun modal tanpa idealisme akan buta. Meski Cahaya Siang, pimpinan Lanny Politon, tokoh Pers Sulut, sempat mengalami pasang surut, ia bangga telah menjadi bagian dari sejarah yang melahirkan wartawan-wartawan hebat di negeri ini. Ia membuktikan bahwa pena bisa menjadi senjata yang lebih tajam daripada pedang untuk membela kebenaran.
Gelar Sarjana Teologia akhirnya membawanya menjadi pendeta jemaat di Desa Tontalete, Minahasa Utara. Namun, darah jurnalistiknya terus bergejolak. Ia meminta izin kepada Sinode GMIM untuk berkelana ke Surabaya bergabung dengan Harian Jawa Pos. Oleh Pemimpin Redaksi saat itu, Daglan Iskan menempatkannya di Kantor Perwakilan Jakarta. Nanny Wijaya, wartawan senior Jawa Pos menjadi bosnya di Jakarta. Dengan motor Vespa pinjaman kakaknya, ia membelah belantara ibu kota demi mengejar berita. Di sana, ia ditempa menjadi seorang petarung yang sesungguhnya.
Baginya, mimbar khotbah tidak hanya terbatas pada kayu jati di dalam gereja. Halaman surat kabar adalah mimbar yang lebih luas, di mana pesan kebenaran bisa disampaikan secara tersirat kepada ribuan orang. Ia mengamalkan prinsip bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati. Dan perbuatannya adalah menuliskan kebenaran demi kepentingan orang banyak.
Ketika pulang ke tanah kelahirannya, ia membawa ide segar bagi Sinode GMIM dengan mendirikan Biro Informasi. Ia tak ingin gereja besar itu tertinggal dalam arus informasi. Ia juga melahirkan majalah Warta GMIM yang mewah namun tajam, yang berani melakukan otokritik terhadap institusi gereja itu sendiri. Ia percaya bahwa kejujuran adalah dasar dari pertumbuhan spiritual yang sehat.
Bersama para tokoh Sulawesi Utara antara lain, Julius Undap, Goan Sangkaeng, Harun Wasolo, Roy Mamengko dan Philip Pantouw, mereka melakukan protes terhadap kebijakan Pemerintah Daerah Sulawesi Utara di bawah kepemimpin Gubernur Mayjen CJ Rantung yang dikenal dengan ‘’Kelompok 10’’. Diantara para aktivis ‘’Kelompok 10″ ini, Renata yang paling muda.
Ia tetap konsisten menjadi pengawal moral bagi para penguasa. Ia mengingatkan bahwa seorang pemimpin bukan hanya soal kuasa, melainkan soal teladan. Baginya, integritas adalah harga mati. Seorang pemimpin yang kehilangan moralitasnya sesungguhnya telah kehilangan mandat dari rakyat dan Tuhan.
Kini, perjalanan hidup Nata, panggilan akrabnya, menjadi inspirasi bagi siapa saja yang merindukan perubahan. Ia adalah bukti bahwa pelayanan Tuhan bisa dilakukan di mana saja: di atas panggung teater, di balik meja redaksi, di dalam organisasi politik, maupun di depan jemaat. Sebagaimana pesan Rasul Paulus dalam Kolose 3:23, “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.
Ini adalah narasi besar tentang seorang anak manusia yang menghidupi panggilannya melampaui sekat-sekat kaku sebuah profesi. Pendeta Renata Thomas Ticonuwu, S.Th., bukanlah figur religius biasa yang hanya berdiam di balik mimbar yang megah dan ber-AC. Ia adalah personifikasi dari gerak yang tak pernah diam, sebuah perwujudan dari doa yang diwujudkan dalam kerja nyata di tengah carut-marutnya dinamika sosial politik yang kerap menjebak.
Suarakan suara rakyat
Perjalanan formal politiknya dimulai dari sebuah godaan intelektual oleh AJ Sondakh, Ketua Partai Golkar, juga sebagai Gubernur Sulawesi Utara dan Ir. Edwin Kawilarang, Wakil Bendahara Umum DPP Partai Golkar (anak dari Kol. Alex Kawilarang), pada Pemilu 2004, yang akhirnya membawanya melenggang ke kursi DPRD Kota Tomohon.
Namun, bagi Renata, politik bukanlah sekadar panggung untuk menambah deretan panjang riwayat hidup atau mencari keuntungan finansial yang bersifat fana. Ia memandang parlemen sebagai ruang untuk mengaplikasikan ilmu lapangan secara “cantik,” sebuah tempat di mana kata-kata harus memiliki bobot substansi sesuai dengan akar bahasa Perancis nya, yaitu parler yang berarti bicara.
Keprihatinannya mendalam ketika melihat banyak anggota parlemen masa kini yang seolah kehilangan kemampuan untuk bicara dengan nurani dan logika yang sehat. Baginya, sistem perekrutan politik yang hanya mengandalkan kekuatan logistik atau uang adalah racun yang merusak tatanan demokrasi dan masa depan bangsa. Anggota dewan seharusnya lahir dari proses pembentukan yang panjang dalam organisasi kemasyarakatan, bukan sekadar muncul secara instan karena memiliki tumpukan modal tanpa adanya kedalaman karakter dan integritas.
Renata adalah manusia dengan segudang aktivitas yang mencengangkan, dia pernah dipercayakan sebagai Sekjen Forum Komunikasi Organisasi Bernafaskan Permesta, bersama Ketua Umum, Benny Tengker.
Di dunia toleransi dan kerukunan umat beragama, Renata pernah dipercayakan sebagai Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Manado. Saat itu pemikiran moderasi beragama yang dikunyahnya secara mendalam mengantarnya untuk berbicara di luar daerah Sulut, diantaranya di Surakarta, Sukabumi, Bali, Makasar dan Jayapura.

Pemikiran tentang toleransi dan kerukunan umat beragama yang dimilikinya tidak terlepas dari jiwa dan semangat nasionalisme yang telah tertanam sejak mahasiswa. Tak heran salam yang digunakan oleh FKUB se Indonesia, yakni ‘’Salam Kerukunan’’ digunakan dalam setiap mengawali pidato dari pimpinan FKUB yang dijawab ‘’Rukun’’ sebanyak lima kali, merupakan hasil usulannya yang disahkan dalam Raker FKUB seluruh Indonesia di Tarakan.
Di bidang Adat dan Budaya, Renata tidak ketinggalan. Hingga saat ini dia tetap dipercayakan sebagai Walian Wangko Brigade Manguni Indonesia, jabatan tertinggi dalam Organisasi Masyarakat Adat BMI dalam memberikan nasehat dan mengevaluasi kinerja dari Dewan Pimpinan Tonaas (DPT) BMI, hal mana dapat mengusulkan penggantian pengurus.
Di dunia usaha, Renata pun pernah bergiat sebagai developer bersama istrinya, Yogini Wulur, ST, M.Art, sehingga pernah dipilih sebagai Wakil Ketua DPD REI Sulut.
Ini menunjukkan bahwa pelayanan bagi Tuhan tidak terbatas pada dinding gereja. Kitab Suci mengingatkan dalam Matius 5:14, “Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi,” sebuah ayat yang benar-benar ia hidupi dalam kesehariannya.
Polisi sahabat rakyat
Saat ini, dia tetap memberi diri melayani Tuhan sebagai Ketua Badan Pekerja Jemaat di GMIM Yarden Dendengan Dalam dan Ketua Wilayah Manado Timur 2. Sebelumnya Ketua Jemaat di Meras dan Ketua Wilayah Manado Utara 4.
Namun menarik, saat ini dia bekonsentraai juga Pada kegiatan “Polisi Sahabat Rakyat,” sebuah inisiatif independen yang lahir dari keprihatinannya melihat institusi kepolisian yang kerap diguncang berbagai isu miring. Mimpi ini sebenarnya telah mengendap sejak era Kapolda Sulut Irjen Alexius Gordon Mogot, di mana ia meyakini bahwa tugas polisi akan sukses jika masyarakat memahami perannya. Ia ingin menjembatani komunikasi antara penegak hukum dan warga sipil agar tercipta harmoni yang berlandaskan pada rasa saling percaya dan keterbukaan.
Dalam keiinginannya itu, Renata dalam setiap kesempatan meminta petunjuk dari Kapolda Sulut, Irjen Pol Roycke Langie, SIK.

Dukungan politiknya kini mengalir untuk Gubernur Sulawesi Utara, Mayjen Purn. TNI, Yulius Selvanus, SE di mana ia bersama rekan-rekannya antara lain, Recky Runtuwe, wartawan senior dan Lendy Sumolang,STh meramu tim kerja untuk memberikan masukan strategis secara tertutup. Lebih khusus menciptakan masyarakat yang kondusif dalam kerukunan dan toleransi antar umat baik Agama dan Antar Suku.
Kontribusi nyata ini adalah bentuk baktinya bagi “Bumi Nyiur Melambai,” tanah leluhurnya yang selalu ia cintai dengan segenap jiwa dan raganya, meskipun dia dilahirkan di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Ia percaya bahwa pemimpin yang baik membutuhkan masukan yang jujur, bukan sekadar pujian kosong yang seringkali justru menyesatkan arah kebijakan pembangunan daerah tersebut.
Bagi Renata, berorganisasi adalah sekolah kehidupan di mana ia menyerap dua jenis pengetahuan yang ia istilahkan sebagai “Ilmu Kudus” dan “Ilmu Kudis.” Ilmu Kudus adalah pencerahan yang memberdayakan umat ciptaan Tuhan, sedangkan Ilmu Kudis adalah praktik manipulasi yang memperalat orang demi mencapai tujuan pribadi yang egois.
Pengalaman di lapangan telah mengajarkannya teori positif “tiba saat tiba akal dengan akal sehat’’ sebuah bentuk ketangkasan berpikir politikus yang harus dipraktikkan secara cepat dan tuntas dengan menggunakan ‘’akal sehat’’ demi memperjuangkan kepentingan kebenaran yang hakiki.
Pengabdian tanpa henti
Dalam konteks pelayanan gereja, Renata selalu memandang dalam melayani Tuhan merupakan pengabdian suci kepada Sang Pencipta. Sehingga jangan sampai pengaruh duniawi seperti politik praktis dan materialisme, mempengaruhi pelayanan gereja yang suci. Baginya, suara kenabian harus terus berbunyi di ladang mana saja ia terpanggil untuk bersaksi, karena hidup bukanlah tentang menunggu menjadi lemah, melainkan semangat menghidupkan-kehidupan. Sebagaimana filsuf Aristoteles pernah berujar, “Kebahagiaan adalah makna dan tujuan hidup, seluruh akhir dan akhir dari keberadaan manusia,” dan kebahagiaan Renata terletak pada pengabdian yang tanpa henti.

Geliat pengabdiannya dipengaruhi oleh sosok-sosok besar yang membentuk cakrawala berpikirnya, mulai dari ayahnya, Riebeck A. Ticonuwu, didikan MULO di jaman Belanda dan pernah aktif dalam diskusi-diskusi Partai Sosialis Indonesia (PSI) di Jakarta yang bervisi tajam bersama DR Sumitro Djojohadikusumo.
Sang ayah menanamkan politik-ekonomi yang berIman, serta gemar membaca buku yang bermutu. Sementara ibunya, Since Pangemanan, seorang veteran pejuang, mengajarkan tentang kesetiaan, kesabaran, dan nilai-nilai juang kebangsaan yang sangat mendalam. Perpaduan maskulinitas politik dan feminitas keteguhan hati inilah yang membuat karakter Renata menjadi sangat kokoh dalam menghadapi berbagai badai kehidupan yang menerpanya.
Ia juga belajar dari maestro jurnalisme seperti Dahlan Iskan, Josi Katopo dan Derek Manangka.
Sebagai seorang Pendeta, dia tidak pernah melupakan dosen Etika Teologi Kristen sewaktu di Fakultas Teologi, Pendeta Kelly Rondo, MTh, satu-satunya alumni Yale University USA yang ada di GMIM. Renata menyerap ilmu menjadi hamba Tuhan multidimensi yang mampu beradaptasi dengan perubahan zaman yang sangat cepat dan dinamis. Tokoh-tokoh seperti Edwin Kawilarang, Sinyo Sarundajang dan AJ Sondakh memberinya pelajaran tentang konsistensi membaca arah angin politik serta bagaimana menjadi seorang politikus yang sejati dan beretika.
Meski ia berseberangan pilihan politik dengan teman seangkatan SMA, Olly Dondokambey, SE, rasa hormatnya terhadap figur tersebut tidak pernah luntur sedikit pun oleh perbedaan pilihan. Ia memuji Olly sebagai sosok inspiratif yang mampu menembus barikade ketat politik nasional hingga menjadi tokoh kunci di partai besar di Indonesia. Baginya, perbedaan dalam pilihan gubernur adalah manifestasi dari independensi berpikir, sebuah kedewasaan berpolitik yang seharusnya dicontoh oleh generasi muda dalam berdemokrasi secara sehat.
Renata juga tetap produktif menulis. Ia lagi merampungkan sebuah buku yang berisi menyinkronkan antara teologi dan psikologi dalam karya tulisnya mengenai pelayanan pastoral yang holistik bagi masyarakat yang sedang membutuhkan bimbingan.

Terhadap Gubernur Yulius Selvanus, ia menaruh respek besar pada program anti-korupsi dan semangat membangun Sulawesi Utara. Menurutnya Gubernur Yulius Selvanus, seorang yang memiliki sikap tegas dan sangat konsekwen terhadap komitmennya membangun Sulawesi Utara, berbagai upaya dilakukannya untuk mensejahterakan rakyat Sulawesi Utara. Benar-benar, kata Renata, Mayjen Purn. Yulius Selvanus seorang petarung. Begitupula terhadap Wakil Gubernur Victor Mailangkay, ia mengagumi keuletan berpolitik yang telah teruji waktu. Semua interaksi ini ia pandang sebagai bagian dari mozaik pembelajaran hidup yang tak akan pernah selesai.
Pesan toleransi
Pengalaman spiritual yang paling mengesankan baginya adalah saat berjumpa dengan Paus Fransiskus di Vatikan, dalam membawa misi toleransi antar umat dari Sulawesi Utara, di mana dalam audensi di Basilika, St. Peter, ia menerima berkat khusus baginya dan untuk tanah Minahasa tercinta dari Bapa Suci Paus Fransiscan. Ia sangat mengagumi kesederhanaan Paus yang memimpin miliaran umat namun tetap rendah hati, sebuah cermin bagi seluruh pendeta di dunia mengenai gaya hidup yang bersahaja. Perjumpaan tersebut semakin memperkuat komitmennya untuk memperjuangkan perdamaian dunia dan keadilan sosial melalui langkah-langkah kecil namun konsisten yang ia lakukan setiap hari.
Obsesinya saat ini adalah memastikan Sulawesi Utara tetap menjadi barometer aktivitas bangsa yang bhinneka, santun, dan beretika menuju visi besar Indonesia Emas tahun 2045 yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto. Berbicara tentang Presiden Prabowo, bagi Renata sudah lama Ia kenal sejak Prabowo mencalonkan diri sebagai Capres pada Konvensi Partai Golkar, Renata menjadi Tim Inti Pemenangan di Sulawesi Utara. Bahkan sampai Tahun 2024, Pdt Renata berani naik panggung sewaktu kampanye Prabowo di Lapangan Sario. Padahal Pimpinan Gerejanya saat itu jelas-jelas mendukung Capres dari PDIP.
Dia tetap menjaga jatidirinya sebagai seorang putra Toar-Lumimuut, yang konsekwen terhadap sebuah komitmen. Hal itulah membuat ia selalu berjalan dengan pasti dan penuh keyakinan Iman.
Sehingga bagi dia, bahwa sejarah panjang orang Minahasa telah membuktikan kualitas tersebut, dan tugas generasi sekarang adalah membangkitkan kembali kejayaan moral dan intelektual yang sudah dimiliki. Ia percaya bahwa tanpa etika, kemajuan materi hanyalah sebuah bangunan pasir yang akan mudah runtuh diterjang ombak perubahan zaman yang semakin ganas.
Nata, adalah manusia yang hidup dengan sejuta mimpi, karena baginya mencapai tujuan besar harus selalu dimulai dengan sebuah mimpi yang berani. Bersama istrinya, Yogini, ia telah berhasil membesarkan tiga putra hingga dua putranya meraih gelar sarjana, seorang anaknya sementara kuliah di Fakultas Teknik Unsrat. Sebuah pencapaian domestik yang ia syukuri dengan penuh kerendahhati. Namun, dibalik kerinduannya, ia menyimpan satu mimpi sederhana yang sangat manusiawi, yakni tetap berupaya menjadi Cahaya Kecil dari Indonesia Timur.
Dan dalam benaknya, masih ada keinginan yang terus membuncah dalam batinnya. Yakni, keinginan kreatif untuk memfilmkan perjuangan PERMESTA dari sisi romantika para pelakunya, sebuah upaya untuk mengabadikan sejarah agar tidak hilang ditelan oleh zaman. Ia telah meminta sahabatnya, Recky Runtuwene, untuk menyusun draf skenario agar nilai-nilai perjuangan masa lalu dapat dipahami oleh generasi milenial dan Gen Z. Film ini, nantinya diharapkan menjadi jembatan emosional antara masa lalu yang heroik dan masa depan yang penuh dengan tantangan bagi kaum muda.
Prinsip hidupnya dalam menjaga kekudusan sakramen perkawinan menjadi teladan bagi rekan-rekannya di dunia politik yang penuh dengan godaan dan distraksi yang bisa merusak. Ia memberikan tips sederhana namun tajam bagi para politikus: jangan pernah melukai sesama umat sebagai jaringan utamamu, dan jangan pernah mencoba melompati proses yang ada. “Mencapai tujuan tanpa melalui proses yang benar hanya akan menghasilkan kerapuhan,” ujarnya dengan nada yang penuh penekanan, mengingatkan kita semua akan pentingnya integritas diri.
Seperti apa yang pernah dikatakan seorang teolog dan filsuf eksistensialisme yang menjadi idolanya, yakni Soren Kierkegaard: ‘’Hidup hanya dapat dipahami dengan melihat ke belakang, tetapi ia harus dijalani dengan terus melihat ke depan.’’ Sebuah kalimat yang sangat relevan bagi Renata. Ia tidak terjebak pada nostalgia masa lalu, namun menggunakan setiap pengalaman pahit dan manis sebagai bahan bakar untuk melangkah lebih jauh dan lebih berdampak. Keberaniannya untuk terus “menghidupkan hidup” adalah inspirasi bagi siapa saja yang merasa lelah dalam perjuangan menegakkan keadilan di muka bumi.
Lilin kecil
Renata Ticonuwu adalah lilin kecil yang memilih untuk terus menyala di tengah kegelapan, ketimbang hanya mengutuk kegelapan yang sedang mengepung lingkungan di sekelilingnya. Sebagaimana pesan Bunda Teresa yang ia kagumi, jika tidak bisa menyalakan obor besar, nyalakanlah lilin kecil untuk kebenaran agar kegelapan itu pelan-pelan akan tersingkirkan. Ia terus melangkah, berjalan dengan mantap selama nafas kehidupan masih dianugerahkan kepadanya oleh Sang Khalik yang Maha Kuasa dan Maha Penyayang.
Kini, di masa-masa penuh dinamika ini, sosok seperti Renata menjadi pengingat bahwa dedikasi tidak mengenal kata pensiun dan integritas tidak bisa ditawar dengan harta duniawi. Ia adalah suara kenabian dari belahan Timur Indonesia, tanah Minahasa yang akan terus bergetar, memberikan cahaya bagi mereka yang kehilangan arah dalam labirin politik dan sosial. Semoga api semangatnya tetap menyala, menginspirasi banyak jiwa untuk terus berbuat baik bagi sesama manusia dan bagi kemuliaan Tuhan yang abadi.(Gelegar Gemilang)
Be the first to comment