Jalan Kesederhanaan Mayjen TNI (Purn) Dr. Suyanto

SpiritPerantau.com ll DUNIA terasa semakin kompleks dan materialistik. Ketika materialisme dan kompleksitas berjalan bersama, manusia modern menjadi tak manusiawi lagi, penuh konflik, saling berebut (kesempatan, harta, kuasa), frustrasi dan menyisakan dirinya  dalam kekosongan makna sejati kehidupan.

Arus ini harus dilawan dengan sebuah jalan baru yaitu jalan kesederhanaan (the way of simplicity). Penempuh jalan kesederhanaan tak harus tampak miskin, kumal, seadanya dalam penampilan luar. Kesederhanaan lebih menunjuk pada sikap hati  yang jujur, apa adanya, natural, bersahaja dan tulus. Kesederhanaan juga tak berarti melangkah dalam irama tradisional, kaku, tak canggih  dan ketinggalan jaman. Sebaliknya, seperti dikatakan Bob Sitze, “Kesederhanaan adalah kecanggihan tertinggi!”

Simpul-simpul refleksi tentang kesederhanaan itu mengemuka dalam peluncuran dan bedah buku biografi berjudul The Story of Simplicity Mayjen TNI (Pur) Dr Suyanto yang ditulis oleh jurnalis senior Drs. Ch Robin Simanullang yang digelar Jumat (1/9/2023) di Toko Buku Gramedia, Matraman.

Boni Hargens (tengah) diapit Hotman Lumbangaol dan CH. Robin Simanullang

Dimoderatori oleh Sekjen Forum Jurnalis Batak (Forjuba) Hotman J Lumban Gaol, sedianya buku setebal 418 halaman itu dikuliti oleh Dr. Connie Rahakundini Bakrie, Analis Militer dan Intelijen dari UI, Dr. Boni Hargens, Analis Politik dari UI dan Ir. Jansen H. Sinamo, motivator etos kerja dari Institut Mahardika. Tapi Dr. Connie berhalangan hadir dalam gelaran yang dihadiri ratusan peserta itu.

Sesuai dengan judulnya,  buku terbitan Pustaka Toko Indonesia ini membentang jalan kesederhanaan yang ditempuh oleh tokoh intelijen Indonesia Mayor Jenderal TNI Dr. Suyanto, SE, MSI.Han. Dunia intelijen diakrapi Suyanto sejak berpangkat mayor, mulai dari Badan Intelijen ABRI (BIA), Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI, dan terakhir di Badan Intelijen Negara (BIN).

Dalam kupasannya, Boni Hargens menegaskan bahwa membaca buku ini seperti pengembara minum air kolam oase di padang gurun gersang. Ketika kekuasaan itu menampilkan wajah kesombongan, egoisme, ambisi tak terbatas, masih ada nilai-nilai, orang-orang yang merawat nilai-nilai moral, kesederhanaan, kerendahan hati.

“Dengan membaca buku ini, kita diajak untuk kembali kepada eksistensi kita sebagai mahluk moral. Bahwa kit aini bukan cuma mahluk  ekonomi yang hanya sibuk mencari uang,  tapi terutama makluk moral yang dituntut untuk mempertanggungjawabkan seluruh proses hidup untuk kebaikan dan sumber kebaikan itu sendiri,” kata pria asal Manggarai, Flores ini.

Ia mengajak generasi muda, terutama yang berprofesi pengabdi  kepentingan umum, untuk membaca buku ini. Selain kaya referensi, buku ini membentang teladan kesederhanaan. Juga bukti bahwa kesuksesan, juga dalam dunia intelijen, bisa ditempuh dengan dan dalam kesederhanaan.  (Paul MG)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*