Dari Kokpit Pesawat ke Hamparan Pertanian Kakas Minahasa: Revolusi Sunyi Capt. Bendeker Malonda

MINAHASA, SULUT,SpiritPerantau.com II BAGI  Capt. Bendeker Malonda, langit bukan lagi batas akhir pencapaiannya. Setelah bertahun-tahun menaklukkan cakrawala sebagai pilot pesawat komersil, pria setengah baya ini memutuskan untuk melakukan “pendaratan darurat” yang terencana di tanah kelahirannya, Kecamatan Kakas, Minahasa.

Ia menanggalkan seragam pilot yang prestisius demi mengenakan sepatu bot dan menyingsingkan lengan baju di tengah sawah.

Keputusan revolusioner ini bermula saat Bendeker pulang kampung dan menyaksikan pemandangan yang mengusik nuraninya: hamparan lahan luas yang terlantar dan tidak digarap maksimal. Di matanya, ketertinggalan teknologi pertanian di daerahnya adalah sebuah anomali di tengah zaman yang kian canggih.

Ia merasa terpanggil untuk mengubah tanah yang tidur itu menjadi mesin pangan yang produktif. Transisi dari kokpit ke sektor agraris ternyata tidak sejauh yang dibayangkan orang awam. Bendeker menemukan bahwa menerbangkan pesawat dan mengelola pertanian memiliki benang merah yang kuat: keduanya menuntut kecerdasan dalam membaca tanda-tanda alam. Baginya, menganalisis perubahan cuaca dan iklim di ladang membutuhkan presisi yang sama tajamnya dengan saat ia menghadapi turbulensi di ketinggian ribuan kaki.

Visi besar Bendeker selaras dengan cita-cita Presiden Prabowo Subianto mengenai ketahanan pangan nasional. Sebagai putra seorang Jenderal TNI, Bendeker memahami betul filosofi pertahanan negara. Ia meyakini bahwa secanggih apa pun alutsista sebuah bangsa, semuanya akan mubazir jika rakyatnya kelaparan. Militer yang tangguh dan pertanian yang swasembada adalah dua pilar yang harus berdiri kokoh secara simultan.”Bagaimana rakyat mau berperang kalau perut lapar?” Pertanyaan retoris ini sering ia lontarkan untuk menekankan bahwa kedaulatan pangan adalah fondasi dari kedaulatan negara.

Fokusnya kini adalah menjadikan Kecamatan Kakas sebagai barometer ketahanan pangan, tidak hanya bagi Kabupaten Minahasa, tetapi juga bagi seluruh Sulawesi Utara. Ia percaya Kakas memiliki segala potensi untuk menjadi lumbung pangan masa depan.

Banyak pihak yang terheran-heran dengan pilihan Bendeker. Dengan latar belakang pendidikan dan karier yang mumpuni, ia dianggap terlalu “kecil” karena hanya menjabat sebagai Ketua Tani Merdeka di level kecamatan. Namun, bagi Bendeker, jabatan bukanlah tentang gengsi atau strata sosial, melainkan tentang di mana ia bisa memberikan dampak yang paling nyata.

Jawaban Bendeker atas keraguan publik mencerminkan kedalaman spiritualitasnya. Ia memegang teguh prinsip untuk setia pada perkara-perkara kecil terlebih dahulu. Baginya, membangun fondasi pertanian dari tingkat akar rumput di kecamatan adalah sebuah ujian kesetiaan sebelum Tuhan mempercayakan tanggung jawab yang lebih besar di masa depan.

Di bawah kepemimpinannya, Tani Merdeka di Kakas mulai menyentuh sisi teknologi yang selama ini terabaikan. Ia berusaha membawa sentuhan modernitas ke dalam pola tanam tradisional, agar para petani lokal bisa bersaing secara efisien.

Ia ingin membuktikan bahwa bertani bukan sekadar kerja fisik, melainkan kerja cerdas yang berbasis data dan teknologi.

Hidup adalah pilihan, dan Bendeker telah memilih jalannya dengan penuh keyakinan. Ia meninggalkan kenyamanan kabin pesawat yang ber-AC demi terik matahari di lahan pertanian. Baginya, tidak ada profesi yang lebih mulia daripada memberi makan orang banyak dan memastikan keberlangsungan hidup generasi mendatang melalui tanah yang subur.

Kini, sosok Capt. Bendeker Malonda menjadi simbol perubahan di Minahasa. Ia adalah pengingat bahwa pengabdian tidak selalu harus dilakukan di tempat tinggi. Melalui lumpur dan bulir padi, ia sedang menuliskan jejak pengabdian baru, di mana kemuliaan Tuhan dinyatakan melalui kesejahteraan petani dan tegaknya ketahanan pangan di bumi Toar Lumimuut. (Recky Runtuwene/Femmie T)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*