
JAKARTA,SpiritPerantau.com II Bencana gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang tanah Flores pada Sabtu pagi, 15 Agustus 2026, menyisakan duka mendalam bagi seluruh bangsa, tidak terkecuali bagi Senator DR. Maya Rumantir, M.A., Ph.D. Guncangan hebat akibat aktivitas Flores Back-Arc Thrust yang berpusat di timur laut Nagekeo ini meruntuhkan ratusan bangunan, merusak fasilitas umum, dan merenggut puluhan korban jiwa dalam sekejap. Di tengah kepanikan warga yang masih terjaga oleh ratusan gempa susulan, untaian doa dan refleksi empati mengalir dari sang Senator sebagai wujud solidaritas kemanusiaan yang melintasi batas geografis.
Bagi Senator Maya Rumantir, Flores bukan sekadar deretan pulau indah di peta Indonesia, melainkan sebuah rahim budaya yang dihuni oleh jiwa-jiwa tangguh penuh persaudaraan. Ketika mendengar kabar duka subuh itu, hatinya ikut bergetar membayangkan ketakutan anak-anak, ibu-ibu, dan para lansia yang terpaksa berlari ke dataran tinggi demi menghindari ancaman tsunami. Melalui refleksinya, beliau memandang bahwa air mata masyarakat Flores adalah air mata seluruh rakyat Indonesia, sebuah luka komunal yang mengetuk pintu hati nurani siapa saja untuk bergerak mengulurkan tangan.
Dalam keheningan doanya, Senator perempuan ini secara khusus memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar memberikan kekuatan ekstranatural, ketabahan, dan penghiburan sejati bagi keluarga korban yang ditinggalkan. Kehilangan sanak saudara dan tempat bernaung dalam hitungan detik adalah ujian iman yang teramat berat bagi siapa pun. Beliau meyakini bahwa di balik reruntuhan semen dan retakan tanah Flores, ada penyertaan Tuhan yang tidak akan pernah meninggalkan hamba-Nya yang sedang berjalan di lembah kekelaman.
Dukungan spiritual yang dipanjatkan oleh Senator Maya Rumantir juga diiringi dengan apresiasi mendalam terhadap respons cepat para petugas di lapangan. Mulai dari tim penyelamat, BMKG, TNI-Polri, petugas medis di RSUD Bajawa, hingga jajaran PLN yang bahu-membahu memulihkan jaringan listrik di wilayah terdampak. Semangat gotong royong yang langsung menyala di antara puing-puing bencana menjadi bukti nyata bahwa nilai kemanusiaan tetap tegak berdiri meski bumi di bawah kaki sedang bergoyang.
Namun, Senator Maya Rumantir mengingatkan bahwa masa-masa pascabencana, terutama saat malam tiba di tenda-tenda pengungsian Mbay, Maumere, Borong, hingga Ruteng, adalah fase krusial yang membutuhkan ketahanan mental luar biasa. Rasa trauma akibat guncangan berulang dan ketidakpastian masa depan dapat menggerogoti harapan warga terdampak. Oleh karena itu, beliau mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus mengirimkan gelombang energi positif, dukungan psikologis, serta logistik yang memadai agar mental saudara-saudara kita di Flores tetap terjaga.
Sebagai seorang akademisi dan pejabat publik, pesan Senator Maya Rumantir tidak berhenti pada tataran empati spiritual semata, tetapi juga menekankan pentingnya percepatan pemulihan infrastruktur. Beliau mendorong pemerintah pusat dan daerah untuk bersinergi melakukan rekonstruksi bangunan yang mengutamakan standar ramah gempa, terutama untuk fasilitas publik seperti sekolah dan puskesmas. Pemulihan fisik tanah Nusa Tenggara Timur harus berjalan beriringan dengan pemulihan trauma sosial warganya agar aktivitas kehidupan dapat segera berputar normal kembali.
Senator Maya Rumantir menaruh harapan besar pada ketangguhan historis yang dimiliki oleh masyarakat Flores. Sejarah mencatat bahwa tanah ini pernah diguncang bencana serupa pada masa lalu, namun masyarakatnya selalu berhasil bangkit dengan kepala tegak dan senyum yang kembali merekah. Karakter luhur, keteguhan iman, dan ikatan kekeluargaan yang erat di antara warga Flobamora adalah modal sosial terbesar mereka untuk menata kembali puing-puing kehidupan pascagempa.
Pesan utama yang ingin disampaikan oleh Senator DR. Maya Rumantir, M.A., Ph.D. adalah sebuah janji solidaritas: “Flores, kalian tidak berjalan sendirian.” Di bawah langit Indonesia yang sama, doa-doa terus dilambungkan dan uluran tangan terus bergerak menuju pulau Flores. Kiranya badai tektonik ini segera berlalu, tanah kembali tenang, dan dari rahim Flores yang terluka akan lahir kembali semangat baru yang jauh lebih kokoh dan menginspirasi nusantara. (Recky Paulus Runtuwene)
Be the first to comment