SpiritPerantau.com II Bagi Senator DR. Maya Rumantir, M.A., Ph.D., perdamaian bukanlah sekadar kata indah yang diucapkan satu tahun sekali. Tanggal 21 September menjadi momentum global yang selalu menggetarkan jiwanya untuk terus menyuarakan persahabatan sejati. Melalui momentum Hari Perdamaian Dunia ini, sang senator kembali mengingatkan publik tentang esensi kerukunan antarmanusia yang harus dirawat secara konsisten tanpa henti.
Sebagai seorang politikus sekaligus pendidik, Senator Maya Rumantir memandang perdamaian sebagai investasi jangka panjang yang membutuhkan ketulusan hati nurani. Empat dekade dedikasinya menjadi bukti nyata bahwa menyebarkan pesan persahabatan adalah panggilan hidup yang mutlak baginya. Beliau percaya bahwa fondasi bangsa yang kuat hanya bisa berdiri kokoh di atas pilar kedamaian yang konsisten dijalankan setiap hari.

Rekam jejak Maya Rumantir dalam merajut rekonsiliasi bangsa telah teruji oleh waktu dan sejarah kelam masa lalu. Pada akhir tahun 90-an, saat riak konflik horizontal menguji tenun kebangsaan Indonesia, beliau hadir membawa secercah harapan. Lewat aksi nyata, beliau menggelar gerakan kultural perdamaian yang sangat monumental di beberapa wilayah yang rawan konflik.
Gerakan tersebut dikenal luas masyarakat sebagai Lawatan Obor Cinta Persahabatan dan Perdamaian yang membakar semangat persatuan. Kota Manado menjadi salah satu saksi bisu bagaimana pesan damai ini digaungkan untuk meredam potensi perpecahan. Di sana, Senator Maya Rumantir merangkul berbagai elemen masyarakat untuk tetap menjaga kerukunan dan persaudaraan di tengah perbedaan.
Tidak berhenti di Sulawesi Utara, api obor persahabatan tersebut kemudian dibawa berlayar menuju Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur. Kehadiran Maya di Kupang membawa misi kemanusiaan yang mendalam untuk mempererat tali persaudaraan antarumat beragama yang harmonis. Beliau meyakinkan warga bahwa kasih dan persahabatan adalah obat penawar paling mujarab bagi setiap gesekan sosial.
Perjalanan spiritual kemanusiaan ini mencapai puncaknya ketika obor perdamaian tersebut menyambangi bumi Maluku, tepatnya di Kota Ambon. Saat itu, Ambon sedang terluka parah akibat konflik sosial yang memilukan hati seluruh anak bangsa Indonesia. Senator Maya Rumantir hadir sebagai motivator ulung yang membawa pesan kesejukan, merajut kembali rajutan kasih yang sempat terkoyak.
Langkah konkret sang senator tidak hanya bergaung di tingkat lokal, melainkan juga mendapat pengakuan di panggung internasional. Pada 27 September 2003, dalam rangka memperingati Hari Perdamaian Dunia, Senator Maya Rumantir mencetak sejarah baru yang luar biasa. Beliau berkolaborasi langsung dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk menggelar acara perdamaian berskala megah di ibu kota.

Stadion Gelora Bung Karno Senayan menjadi saksi berkumpulnya puluhan ribu manusia yang menyuarakan satu visi perdamaian seragam. Bekerja sama dengan PBB, Senator Maya Rumantir kembali menyalakan Obor Cinta Persahabatan dan Perdamaian di pusat pusaran politik nasional. Acara kolosal tersebut berhasil mengirimkan pesan kuat kepada dunia bahwa Indonesia adalah bangsa yang mencintai ketenangan.
Kini, bertahun-tahun setelah momentum bersejarah di Senayan tersebut, semangat menyalakan obor damai itu tidak pernah padam. Di panggung parlemen sebagai senator, Maya Rumantir tetap vokal menyuarakan pentingnya pendidikan karakter berbasis kasih sayang. Beliau menegaskan bahwa ruang kelas adalah tempat pertama di mana benih-benih perdamaian dunia harus mulai ditanamkan.
Menurut Senator Maya Rumantir, tema besar Hari Perdamaian Dunia tahun ini sangat relevan dengan situasi geopolitik global saat ini. Berinvestasi dalam perdamaian berarti kita harus bersedia meluangkan waktu dan energi untuk mengedukasi generasi muda kita. Perdamaian tidak akan pernah tercipta jika ego kelompok masih ditaruh di atas kepentingan kemanusiaan universal.
Oleh karena itu, Senator Maya Rumantir mengajak seluruh elemen bangsa untuk menjadi arsitek perdamaian di lingkungan terkecil masing-masing. Jangan menunggu konflik besar terjadi baru kita sibuk mencari solusi dan menyuarakan seruan untuk berdamai. Perdamaian sejati adalah apa yang kita lakukan setiap hari melalui tutur kata dan tindakan yang menyejukkan.
Obor perdamaian yang dinyalakan Senator Maya Rumantir sejak era 90-an kini bertransformasi menjadi warisan keteladanan yang sangat berharga. Konsistensinya membuktikan bahwa perdamaian bukan komoditas politik musiman, melainkan perjuangan seumur hidup yang butuh keikhlasan. Semoga api persahabatan yang ditiupkannya terus menyala di hati setiap insan manusia di bumi Nusantara. (Recky P. Runtuwene)
Be the first to comment