Berkibarlah Benderaku

(Refleksi Peristiwa Merah Putih 14 Pebruari 1946 di Manado)

Oleh : Pdt Renata Thomas Ticonuwu,STh

SpiritPerantau.com II Mereka yang saat ini berusia 50-an Tahun, pasti masih mengingat lagu yang sering dinyanyikan di sekolah dasar : “Berkibarlah Benderaku”. Liriknya antara lain seperti ini… ‘berkibarlah benderaku, lambang suci gagah perwira, di seluruh bangsa Indonesia, kau tetap pujaan bangsa… siapa berani menurunkan engkau, serentak rakyatmu membela… sang Merah Putih yang perwira, berkibarlah selama-lamanya..”

Lagu ciptaan Ibu Sud ini mengajak para siswa dari sejak dini untuk merasakan dan menjiwai Indonesia melalui bendera pusaka Merah Putih.

Dan fakta sejarah, ada beberapa peristiwa heroik dari para pejuang untuk menyatakan sikap kecintaan akan negeri Indonesia melalui pengibaran bendera Merah Putih. Bahkan dengan gagah berani, mempertarukan nyawa untuk menurunkan bendara Belanda, merah-putih-biru, merobek kain birunya sehingga hanya tersisa Merah Putih dan dikibarkan kembali. Hanya segelintir daerah saja yang pernah terjadi hal seperti itu. Jika peristiwa ini terjadi di Pulau Jawa, barangkali merupakan hal yang biasa. Sebab perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia berpusat di Jawa. Namun, jika terjadi di daerah yang masyarakatnya tidak merasakan penderitaan akibat penjajahan oleh Belanda maka ini adalah yang luar biasa. Seperti di Minahasa.

Di daerah ini, masyarakat umumnya merasakan pendidikan Belanda, mulai dari HIS, MULO dan AMS. Setelah tamat AMS (lebih setingkat dari SMA), pemuda-pemudi Minahasa yang dianggap pinter berprestasi diberikan bea siswa untuk melanjutkan studi di negeri Belanda. Dan banyak, para pemuda yang diterima sebagai tentara Belanda atau KNIL. Jika orangtuanya dianggap berdarah Belanda atau Indo Belanda dan mereka yang disebut Vreemde Oosterlingen maka dapat diterima sebagai tentara KL atau Koninklijke Landmacht. Sejajar dengan tentara irang Belanda.

Perhatian Kerajaan Belanda kepada masyarakat turunan Toar-Lumimuut ini, membuat pemerintah Nederland mengusulkan bahwa Minahasa masuk sebagai Propinsi ke-12 (Twaalf Provincie). Dan ini menjadi suatu kebanggaan masyarakat umum saat itu.

Tetapi di tengah perhatian Belanda kepada orang Minahasa, banyak juga mereka yang terpelajar bahkan sebagai anggota tentara KNIL dan KL, menyadari diri bahwa rasa keIndonesiaan masih tertanam dalam bathin dan jiwa mereka. Apalagi sejumlah pejuang Indonesia yang berasal dari Minahasa terus menggelorakan dengan informasi surat-surat yang dikirimkan. Termasuk orang Minahasa yang pernah mendapat bea siswa oleh Belanda untuk kuliah di Nederland. Antara lain Sam Ratulangi, AA Maramis, Babe Palar dan Philip L Sigar.

Mereka ini diantaranya yang terus menggelorakan bahwa Indonesia harus merdeka. Berdaulat dan memiliki negara yang diakui dunia. Belum lagi pengaruh para pejuang yang mengangkat senjata berperang melawan Belanda di pulau Jawa. Seperti Evert Langkay, Rapar, Daan Mogot, dan lain-lain. Serta pengaruh besar yang menyemangati semangat untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia adalah organisasi KRIS (Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi) yang dibentuk oleh Sam Ratulangi dan membuat suatu pasukan yang disegani oleh Belanda, sebagai Komandan Batalion KRIS yang terkenal saat itu adalah Kol. Evert Langkay.

Gelora KRIS memberikan semangat kepada para tentara KNIl di tanah Minahasa (tanah Minahasa yang dimaksud adalah Manado, Minahasa Raya dan Bitung). Apalagi Proklmasi Kemerdekaan Indonesia yang sudah diproklamirkan oleh Ir Soekarno dan Drs Moh. Hatta di Jl. Pegangsaan Timur Jakarta sudah diketahui cukup lama oleh para tentara KNIL Minahasa ini. Foto-foto proklamasi sudah dikirim oleh kakak beradik Mendur (pemilik foto berita IPHOS) ke Minahasa dan sudah di lihat langsung oleh para pejuang. Dan markas KNIL yang berada di Teling yang dikenal sebagai Tangsi KNIL Teling Manado menjadi saksi sejarah yang tidak terbantahkan bahwa orang Minahasa pernah melakukan perlawanan terhadap Belanda.

Mulai dari berdiskusi kecil dalam kelompok terbatas, para tentara Belanda berasal dari Minahasa membicarakan tentang perjuangan saudara-saudara mereka di pulau Jawa. Mereka sepakat untuk melanjutkan perjuangan tersebut di Tanah Minahasa. Hasil diskusi tersebut mulai meluas di seluruh tangsi. Gerakan mulai dilakukan secara rahasia. Dan disepakati gerakan perjuangan merebut kemerdekaan akan dilakukan pada tanggal 14 Pebruari 1946.
Sudah diatur strategi perjuangan. Mulai dari menguasai gudang senjata, dilanjutkan membongkar gudang perbekalan dan membagi-bagikan keseluruh pasukan yang ada. Memboikot pintu masuk ke arah teling terhadap tentara KL yang berada di Tikala dan Sario.

Langkah lanjut yang merupakan tujuan utama yakni, menurunkan bendara Belanda Merah Putih Biru di Tangsi KNIL Teling, merobek warna biru dan menaikan Bendera Merah Putih. Dan Merah Putih harus dijaga, meskipun bertarung mempertaruhkan nyawa. Hal itu pun terjadi. Dan itu pun, menurut catatan sejarah, Bendera Merah Putih dapat dipertahankan selama 12 hari.

Saat itu ada kisah yang menarik, di gudang perbekalan ada rokok merek Davros yang hanya diisap oleh tentara KL Belanda. Tetapi selama menjaga Sang Saka Merah Putih, para pejuang dapat mengisap rokok Davros secara gratis.

Memaknai Peristiwa Merah Putih

Peristiwa pengibaran Merah Putih di Tangsi KNIL pada 14 Pebruari 1946, sudah terjadi pada 80 tahun yang lalu. Para pejuang peristiwa Merah Putih 14 Pebruari ini, antara lain Charles Choes Taulu (Pemimpin Utama Pergerakan), Servius Dumais Lapian, Bernard Wilhelm Lapian, Mambi Runtukahu, Frans Bisman (asal Jawa-Minahasa), Jus Kotambunan, Wim Tamburian, dan pendukung setelah peristiwa itu adalah John Rahasia, Mat Canon, Sumanti, GA Maengkom, Kusno Dhanupojo, GE Dauhan dan Lexy Anes.

Dalam peristiwa itu, para pejuang berhasil menawan pimpinan militer Belanda, Letnan Verwaayen dan Kapten Blom serta menahan ratusan tentara KNIL pro Belanda. Dan nanti awal Maret 1946, kemerdekaan yang bergelora di seluruh Tanah Minahasa, dapat dikuasai oleh pihak tentara Belanda dengan datangnya Kapal Belanda Piet Hein di pelabuhan Manado dengan membawa pasukan sekitar satu batalion. Penyelesaiannya dilakukan dengan cara perundingan kedua bela pihak di atas Kapal Piet Hein.

Hasil dari Peristiwa Merah Putih 14 Pebruari 1946 di Manado, yakni dapat meyakinkan dunia bahwa perjuangan kemerdekaan Indonesia milik seluruh bangsa Indonesia. Dan yang paling mengesankan bahwa orang Minahasa yang diakui Belanda adalah masyarakat Pro-Belanda, ternyata tidak seperti yang dipikirkan. Rakyat Minahasa masih memiliki rasa cinta tanah air Indonesia yang mendalam. Dan jiwa semangat kebangsaan Indonesia masih terpatri dalam sanubari orang Minahasa.
Semangat tersebut terus bergelora hingga era saat ini. Kita adalah Indonesia. Inilah yang terus diperjuangakan oleh organisasi Merah Putih 14 Pebruari 1946.

Hingga saat ini ada dua organisasi yang terus melaksanakan berbagai kegiatan sebagai peringatan peristiwa Merah Putih 14 Pebruari 1946. Yakni Gerakan Perjuangan Perisiwa Merah Putih (GPPMP) 140246 dengan kantor pusatnya di Jakarta saat ini sebagai Ketua Umum DR Jeffrey Rawis,SE dan Angkatan Muda Merah Putih (AMMP) organisasi pemuda di Sulawesi Utara. Kedua organisasi ini terus mengobarkan semangat merah putih pada peristiwa pengibaran bendera Indonesia ini kepada masyarakat. Sebab masih banyak yang belum tahu bahwa peristiwa yang sama dengan 10 Nopember di Surabaya Tahun 1945, terjadi juga di Sulawesi Utara. Sehingga menyatakan kepada dunia bahwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 diakui dan diperjuangkan oleh bangsa Indonesia di bagian Barat maupun bagian Timur.

Salut buat Gubernur Yulius

Di Tahun 2026, kerinduan rakyat Sulawesi Utara mendapatkan jawaban yang pasti. Gubernur Sulawesi Utara, Mayjen Purn. TNI, Yulius Selvanus,SE mempersiapkan berbagai kegiatan akbar untuk perayaan peringatan Peristiwa Merah Putih 14 Pebruari 1946. Mulai dari Lomba Olahraga Memanah yang menghadirkan para atlit dari seluruh penjuru tanah air Indonesia. Bahkan, kegiatan upacara resmi di Lapangan Sario lengkap dengan parade, drama kolosal dengan sutradara Pak Gubernur sendiri yang dibantu oleh sutrada nasional Nugroho. Para berkuda dan kendaraan yang digunakan dalam merebut kemerdekaan turut diperagakan.

Dan yang paling membuat masyarakat bergembira dan bersyukur, yakni pada tanggal tersebut dikibarkan Bendera Merah Putih satu tiang penuh, bukan hanya diperkantoran tetapi di depan rumah-rumah penduduk di wilayah Propinsi Sulawesi Utara. Hal itu diperintahkan melalui Surat Edaran Gubernur kepada para Walikota dan Bupati di daerah Nyiur Melambai itu.

foto: Komentar.co

Tentunya hal tersebut bagi rakyat Sulawesi Utara yang umumnya memiliki semangat dan jiwa nasionalisme Indonesia akan sepakat berkata: “Salut buat Gubernur Sulawesi Utara, Yulius Selvanus…!!”

Memang tidak heran, bagi mereka yang kenal dekat Pak Gubernur. Pria berdarah campuran Minahasa-Toraja ini, adalah keturunan pejuang. Terutama ibu kandungnya, berasal dari desa Kakas dan Remboken. Dari Remboken, memiliki darah Sumual dan Tendean. Masih  keluarga dekat dengan Ventje HN Sumual dan Piere Tendean. Masyarakat umumnya mengetahui bahwa Ventje Sumual dikenal dalam perjuangan bersama Soeharto di Yogyakarta, yang terkenal dengan peristiwa ‘Janur Kuning’. Hal yang sama dengan Kapten Piere Tendean yang adalah salah seorang Pahlawan Nasional.

Semua kita mengharapkan bahwa setiap tahun, pada tanggal 14 Pebruari akan diperingati. Dan bendara merah putih dikibarkan. Juga, semoga pengakuan secara de facto dan de jure akan diberikan oleh Presiden Prabowo Subianto bahwa 14 Pebruari menjadi Perayaan Nasional yang dirayakan segenap bangsa Indonesia. Jika 10 Nopember adalah Hari Pahlawan maka 14 Pebruari, Hari Merah Putih. Semoga!  (Penulis, Sekretaris DPD GPPMP Sulawesi Utara, Jurnalis Senior).

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*