
(Sebuah Catatan dari Pdt Renata Thomas Ticonuwu)
SpiritPerantau.com II Ada kebanggaan tersendiri bagi saya sebagai orang Minahasa, manakala menelusuri para tokoh yang pernah mengukir sejarah panjang dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Fakta historis mengungkapkan bahwa begitu banyak para pejuang kemerdekaan yang berasal dari Minahasa. Bahkan, dalam catatan sejarah para pejuang keturunan Toar-Lumimuut, memiliki integritas yang mumpuni. Mereka berjuang di tanah orang, baik di Pulau Jawa, Makasar maupun Maluku. Dan mereka tetap konsekwen terhadap komitmen. Sekali mengangkat senjata untuk republik Indonesia maka tak akan pernah pudar meski berjuang di tanah orang, bukan di tanah leluhurnya.
Di antara para pejuang ini, saya ingin menceritakan kesan bathin saya terhadap dua orang tokoh pejuang yang pernah bertemu, bercerita dan bercakap dengan saya secara pribadi. Yakni Om Ventje Sumual atau HN Sumual dan Om Alex E. Kawilarang.
Jika Om Ventje dikenal dengan peristiwa perjuangan ‘Janur Kuning’ di Jogyakarta, maka Om Alex terkenal dengan perjuangannya di Maluku dan Jawa Barat. Keduanya memiliki karakter yang keras. Jika sudah berkata A, maka tak akan pernah untuk mengatakan B. Atau berkata kadangkala A, kadangkala B, kadangkala C. Layaknya para pejabat yang hidup di era saat ini, sulit dipegang perkataan mereka.
Hal itu terungkap di saat terjadi peristiwa Permesta. Ventje Sumual dan teman-temannya dari Indonesia Bagian Timur merasakan bahwa ada ketidakadilan dari pemerintah pusat terhadap masyarakat di daerah, khususnya di luar Pulau Jawa. Maka munculah Piagam Permesta, suatu deklarasi protes terhadap pemerintah pusat.
Bagi Ventje Sumual deklarasi Permesta yang dibacakan pada tanggal 2 Maret 1957 di lapangan Karobosi, Makasar adalah hal yang sangat prinsip. Sehingga ketika deklarasi tersebut tidak digubris Presiden Soekarno, maka perjuangan menggunakan senjata tidak dapat dibendung. Semua orang Minahasa dan mereka yang pro Permesta, melakukan long mars dari Makasar ke Tanah Minahasa.
Dan ketika akhirnya tentara pusat menjatuhkan bom di kota Manado dan sekitarnya, Om Alex Kawilarang yang saat itu sebagai Atase Militer Kedutaan Besar Republik Indonesia di Amerika Serikat, langsung kembali ke Indonesia dan bergabung dengan Permesta. Kata Om Alex, bahwa deburan hatinya tak dapat dibendung untuk mengikuti suara nuraninya untuk membela tanah leluhurnya.
Inilah yang saya kagumi terhadap dua sosok raksasa yang disegani saat itu. Resiko masuk hutan, tidur beratapkan daun pisang tidak mereka peduli. Dalam benak mereka, keadilan rakyat Indonesia harus menyeluruh, bukan hanya di Pulau Jawa semata. Otonomi daerah seluasnya harus dilakukan Perimbangan ekonomi antara pusat dan daerah harus adil, 70 % untuk daerah dan Pemerintah Pusat 30 %. Tuntutan lainnya adalah pemerintahan tanpa komunis di Indonesia.
Bagi saya, dua sosok raksasa dalam panggung perjuangan Indonesia tersebut, yakni Ventje Sumual dan Alex Kawilarang, bukanlah sekadar tokoh dalam fragmen pemberontakan atau pahlawan perang semata. Mereka adalah bagian dari narasi hidup bagi saya, maupun mereka yang merasa sebagai orang Mianahasa. Apalagi keluarga besar Permesta, termasuk anak-cucu dari pelaku Permesta.
Saya mengenal Om Ventje bermula dari cerita sanak family, tentang perjuangannya dan masa mudanya yang ternyata pernah dekat dengan Ibu saya. Mereka sampai menikah, sebagai istri pertamanya, dan dikaruniai seorang anak perempuan yang adalah kakak tertua saya, sekandung atau seibu tetapi berlainan bapak dengan saya.
Untuk Om Alex disamping dikenal melalui cerita-cerita sejarah, juga ketika saya mengenal dan cukup dekat dengan anak lelakinya, yakni Edwin A. Kawilarang. Hubungan saya dengan Pak Edwin, bukan hanya sekedar bos saya, tetapi layaknya seorang kakak yang selalu membantu dan selalu memberikan nasehat.
Sama seperti Om Ventje saat bertemu maka selalu bercerita, baik pengalamannya maupun pemikiran-pemikiran membangun bangsa Indonesia ke depan. Begitupula jika bertemu Om Alex.
Beberapa kali saya menawarkan untuk melaksanakan kegiatan panel diskusi kepada Om Ventje, baik tentang Permesta maupun tentang meningkatkan sumber daya manusia dan alam di tanah Minahasa. Tak pernah dia menolaknya. Bahkan beberapa dilaksanakan di hotel berbintang yang ada di Manado saat itu.
Deklarator Permesta
Om Ventje adalah putra Remboken yang memiliki visi sangat luar biasa terhadap masa depan bangsa Indonesia. Jiwa kepemimpinannya sudah terlihat sejak masa pra-kemerdekaan hingga revolusi fisik, di mana ia membela tanah air dengan pertaruhan nyawa yang tidak main-main. Saya sering kali beruntung bisa duduk bercakap dengan beliau. Tidak pernah berbasa-basi. Selalu membicarakan hal yang serius. Seperti menanam pohon enau sebanyak-banyaknya. Sebab dari pohon enau dapat menghasilkan etanol yang dapat digunakan bahan bajar minyak pesawat.
Dan dalam setiap pembicaraannya, tetap saja terselip pemikiran-pemikiran tajam tentang negara. Beliau adalah pejuang sejati yang memanggul impian besar bagi tanah kelahirannya di Sulawesi Utara.
Sangat sulit membayangkan bahwa pada usia yang masih sangat muda, yakni tiga puluh empat tahun, beliau sudah mencetuskan Deklarasi Permesta. Deklarasi yang fenomenal tersebut mengguncang konstelasi politik nasional dan tetap menjadi bahan diskusi hangat di kalangan sejarawan hingga saat ini. Baginya, Permesta bukanlah bentuk pengkhianatan, melainkan manifestasi cintanya yang mendalam terhadap Indonesia yang ia dambakan lebih adil. Ia ingin daerah mendapatkan perhatian yang setara demi kemajuan bangsa secara menyeluruh dan berdaulat.
Salah satu pelajaran hidup paling berharga dari Om Ventje adalah sikapnya yang sama sekali tidak menyimpan dendam. Meskipun Bung Karno pernah menjebloskannya ke dalam penjara tanpa melalui proses sidang pengadilan yang adil, ia tidak pernah memelihara amarah. Ketika suatu hari saya memberanikan diri bertanya tentang pengalaman pahit di balik jeruji besi itu, beliau menjawab dengan sangat tenang. Baginya, penderitaan pribadi tidak boleh menutupi kekagumannya terhadap jasa besar Sang Proklamator bagi bangsa ini.
“Nata, untuk apa kita menyimpan dendam?” ucapnya dengan nada yang sangat teduh namun berwibawa saat itu. Beliau menjelaskan bahwa perjuangan Permesta hanyalah sebuah kesalahpahaman visi di mata Bung Karno, bukan sebuah kebencian pribadi. Dalam pandangannya, politik bernegara tidak boleh mencemari kemanusiaan dan merusak jalinan persahabatan yang telah lama terbangun. Ia berpesan agar perbedaan pendapat jangan sampai membuang rasa hormat, sebab jika elit negara saling mendendam, rakyat kecillah yang akan menanggung penderitaannya.
Pendiri Komando Pasukan Khusus
Berpindah ke sosok lainnya, A.E. Kawilarang memberikan kesan yang berbeda namun tak kalah mendalam bagi saya. Meskipun secara pribadi saya tidak sedekat dibandingkan kedekatan saya dengan anaknya, yakni Edwin Kawikarang tetapi Om Alex yang dikenal Panglima Besar Permesta ini sangat menghargai pendapat dari anak muda, seperti saya saat itu.
Pernah suatu ketika saya mengajak Edwin untuk melihat suatu area tanah yang akan dijadikan perumahan rakyat. Saat itu Edwin Kawilarang menjabat Ketua Umum DPP Real Estate Indonesia (REI). Saya juga mengajak Om Alex untuk ikut serta. Lahan tanah tersebut di daerah Tomohon Selatan, tepatnya jalan menuju desa Pinaras. Dari Manado kami langsung menuju lokasi. Kami berhenti di jalan rasa, sekitar 1 Km dari Kampung Jawa. Om Alex langsung memperhatiakan daerah tersebut. Dan diapun berkata bahwa dibelakang lahan yang baru saja dibebaskan atau dibeli tersebut ada sungai kecil serta mata air. Eh, ketika ditanya kepada penjaga lahan kebun itu, benar apa yang dikatakan Om Alex. Ternyata daerah itu pernah menjadi jalan pintas Om Alex dan pasukan Permesta di tahun 1957-1960.
Sosok perwira pendiri Komando Pasukan Khusus TNI ini, memiliki kepekaan yang tinggi. Sudah puluhan tahun berlalu, tetapi dia masih mengingat daerah di wilayah Selatan kota Tomohon itu.
Dan saat menyinggung tentang Permesta, Om Alex merasa enggan untuk membicarakannya. Tidak tahu karena apa. Mungkin ada sejarah pahit yang tidak ingin diceritakan.
Namun setiap kali beliau berbicara mengenai bangsa dan negara, semangatnya selalu terlihat berkobar-kobar seperti api yang tak padam.
Saya melihat pribadinya, mencoba menerka jiwanya maka dia merupakan sosok yang sangat saklek dan tegas, terutama jika sudah menyangkut masalah disiplin. Bagi beliau, kedisiplinan bukan hanya berlaku di lingkungan militer yang kaku, tetapi harus menjadi fondasi utama dalam kehidupan bernegara. Saya pernah mendengar langsung dalam sebuah pembicaraan betapa beliau sangat menekankan pentingnya penegakan hukum di Indonesia. Beliau berprinsip bahwa siapa pun yang melakukan kesalahan harus mendapatkan hukuman yang setimpal tanpa memandang bulu atau jabatan.
Keteladanan yang paling saya kagumi dari A.E. Kawilarang adalah kesederhanaan hidupnya yang sangat murni. Di tengah sistem yang seringkali menawarkan kemewahan bagi pemegang kuasa, beliau tetap hidup bersahaja seolah-olah tidak memiliki ambisi jabatan sama sekali. Padahal, jika menilik rekam jejaknya, beliau adalah satu-satunya perwira tinggi yang pernah menjabat sebagai panglima di hampir seluruh wilayah strategis Indonesia, mulai dari wilayah barat, tengah, hingga ke ujung timur nusantara.
Karier militernya yang cemerlang seharusnya bisa membawanya ke puncak kekuasaan yang lebih tinggi jika ia mau berkompromi. Namun, beliau lebih memilih setia pada prinsip dan integritas yang ia yakini benar. Baginya, jabatan hanyalah instrumen pengabdian, bukan alat untuk memperkaya diri atau mencari panggung kehormatan. Melihatnya di rumah tua di kawasan Menteng, saya menyadari bahwa kebesaran seorang manusia tidak diukur dari berapa banyak bintang di pundak, melainkan dari keteguhan nuraninya.
Pejuang yang utuh
Kombinasi antara visi progresif Ventje Sumual dan kedisiplinan baja Alex Kawilarang memberikan gambaran tentang generasi pejuang yang utuh. Mereka adalah pribadi-pribadi yang berani mengambil risiko besar demi keyakinan politik mereka, namun tetap menjunjung tinggi etika kemanusiaan. Meski sejarah sempat menempatkan mereka pada posisi berseberangan dengan pemerintah pusat, cinta mereka terhadap Indonesia tidak pernah luntur sedikit pun. Mereka adalah anak-anak bangsa yang merindukan keadilan dan keteraturan bagi seluruh rakyat.
Bagi saya, mengenang mereka adalah cara untuk merefleksikan kembali nilai-nilai yang mulai pudar di zaman sekarang. Di tengah hiruk-pikuk politik yang seringkali penuh dengan dendam dan ambisi pribadi, kisah Om Ventje dan Om Alex menjadi oase yang menyejukkan. Mereka mengajarkan bahwa berbeda pendapat adalah keniscayaan dalam demokrasi, namun persahabatan dan kepentingan rakyat harus selalu diletakkan di atas segalanya. Perselisihan politik tidak boleh menghancurkan rasa kemanusiaan yang mendasar bagi kita.
Catatan kecil ini adalah bentuk penghormatan saya terhadap dua orang tua yang telah memberi warna pada sejarah Indonesia dan orang Minahasa. Mereka telah pergi meninggalkan kita, namun semangat dan nilai-nilai hidupnya tetap hidup dalam memori mereka yang mengenalinya. Melalui mata seorang pendeta, saya melihat mereka bukan sebagai pemberontak, melainkan sebagai pejuang yang berupaya mencari jalan terbaik bagi bangsa ini menurut keyakinan dan prinsip yang mereka genggam dengan sangat erat.
Semoga pelajaran tentang integritas, kesederhanaan, dan ketiadaan dendam dari Ventje Sumual serta Alex E. Kawilarang dapat terus diwariskan kepada generasi mendatang. Bangsa ini membutuhkan pemimpin yang memiliki visi seluas samudra namun tetap memiliki hati yang rendah hati. Akhir kata, sejarah mungkin bisa memperdebatkan langkah politik mereka, namun tidak ada yang bisa membantah ketulusan pengabdian mereka kepada ibu pertiwi. Mereka akan selalu menjadi bagian penting dari jati diri bangsa yang besar ini.*

Seantero Pulau JAWA pernah dikapling tiga oleh 3 tole Remboken. Jawa Timur dikuasai Joop Warouw,Jawa Tengah/DIY dikuasai Ventje Sumual,Jawa Barat/DKI dikuasai Lex Kawilarang.
Kekuasaan tole2 Minahasa atas pulau Jawa pun sdh dirintis sebelum mereka. Tom Tamboto di Jawa Timur, Fred Kodongan di Jawa Barat, dan di Jawa Tengah oleh Supit Dotulong Tololiu yg memimpin Pasukan Toeloengan bersama Sigar yg Prabomo pe leluhur.
Terimakasih catatannya, Pak Benni.
Memoir yang sangat berharga, khususnya keteladanan berintegritas dan disiplin yang konsisten dari 2 tokoh Minahasa dalam memperjuangkan keadilan dan hak daerah/pembangunan Minahasa…