JAKARTA,SpiritPerantau.com II Medio tahun 1995, sebuah perusahaan operator wisata di Jakarta meminta jasa Peiter Sahetapy untuk memandu rombongan wisatawan asal Belanda berjumlah 28 orang, berkeliling mengunjungi obyek wisata sepanjang Pulau Sumatera menyeberang Pulau Jawa hingga Denpasar Bali. Tidak main-main program perjalanan panjang wisata yang diberi nama “ Sumatra Java and Bali” (SJB) ini ditempuh dalam waktu 28 hari non stop.
Lukisan keindahan alam dan budaya Indonesia membuat takjub anggota grup tersebut. inilah pengalaman unik yang masih terekam kuat dalam ingatan pria yang kini berusia 77 tahun ini.

“Waktu itu saya memprioritaskan tamu-tamu dari Belanda. Saya membawa grup yang berjumlah 28 orang untuk berkeliling mulai dari Pulau Sumatera, Jawa Dan Bali,” ujar Pieter memulai perbincangan dengan spiritperantau.com.
Seluk beluk dunia wisata memang sudah mandarah daging dalam diri Pieter, selepas mengenyam pendidikan di sekolah lanjutan tingkat atas di kota Ambon Maluku, ia hijrah ke Jakarta untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Namun alih-alih ingin berkuliah Pieter malah tertarik untuk bekerja di sebuah kapal pesiar bernama Holand America Cruises.

Untuk bekerja di hotel terapung tersebut sebagai manajer bar and resto, tidaklah gampang. Pria penghobi olah raga bola ini harus mengisi application form terlebih dahulu sebagai seleksi awal baru selanjutnya dilakukan wawancara dengan pihak perusahaan kapal pesiar. Setelah lulus tahapan wawancara sebelum naik ke kapal untuk bekerja, Pieter harus mengikuti pelatihan terlebih dahulu di Kota Kembang Bandung.
Ajakan teman
Berawal dari ajakan seorang teman, Pieter mulai diperkenalkan dengan profesi pemandu wisata. Saat itu, ia sudah mulai jenuh untuk bekerja di kapal pesiar. Bermodalkan keahliannya mampu berinteraksi dalam dua bahasa Bahasa Inggris dan Belanda, pria kelahiran Ambon 4 Desember 1949 ini memutuskan untuk mengikuti pelatihan di Himpunan Pariwisata Indonesia (HPI) guna mendapatkan sertifikat dan tanda anggota sebagai seorang pemandu wisata.

“Saat itu saya sudah mulai bosan bekerja di kapal. Kebetulan waktu itu, ibu saya meninggal dunia makanya saya memutuskan untuk bekerja di darat saja. Teman saya menawarkan kenapa tidak bekerja sebagai guide saja karena melihat kemampuan saya berkomunikasi dalam dua bahasa,” ujarnya
Pieter mengaku kemampuannya yang fasih berbahasa Belanda didapat ketika dirinya mengikuti sang ayah yang bekerja di perusahaan minyak Belanda bernama Betaasfse Petroleum Mastshappij, Sorong Papua Barat. Ia sempat bersekolah dasar di BHS Belanda Katholiek, Sorong.
Bekerja sebagai seorang pemandu wisata diperlukan ketahanan fisik yang kuat, tentu hal ini bukanlah isapan jempol belaka. Pieter telah mengalaminya sebagai seorang penyedia jasa memandu wisatawan mancanegara selama hampir 43 tahun.
Lokasi wisata di Indonesia yang terdiri dari pegunungan, lembah, pulau dan lautan menyebakan terkadang ia harus rela menguras tenaga mendaki dan menuruni lereng gunung bersama rombongan wisatawan yang dibawanya.
Tidak hanya itu saja, pria murah senyum ini harus rela bangun pagi-pagi untuk sekadar membangunkan anggota grup wisata yang ia bawa agar tidak ketinggalan moda transportasi seperti bis, kereta api atau pesawat terbang.
“Jam begadang sudah menjadi kebiasaan saya. Pekerjaan saya pagi-pagi harus membangunkan tamu agar tidak ketinggalan kendaraan yang akan membawa peserta untuk keliling berwisata yang sudah ditentukan oleh pihak kantor,” kata Pieter.
Pieter punya cara sendiri untuk membuat badannya tetap bugar. Salah satunya dengan berjalan kaki. Setiap pagi, ia menyediakan waktu sekadar jalan kaki sejauh dua kilometer di sekitar wilayah rumahnya. Hal itu ia lakukan agar tubuhnya tetap sehat dan prima ketika sewaktu-waktu ada operator wisata yang memanggil dirinya untuk menjadi pemandu wisata.
Suka ngobrol
Berkenalan dan berinteraksi dengan banyak orang, itulah yang menjadi alasan putra dari pasangan suami istri Jan Frederik Hendrik Sahetapy dan Agustina Sahetapy ini belum mau pensiun sebagai seorang pemandu wisata walaupun usianya sudah tidak muda lagi.
“Saya suka ngobrol dengan turis, bertukar pikiran dan menyambut mereka pagi-pagi dengan kata-kata selamat pagi. Dan menyakan keadaan mereka. Itulah yang membuat saya belum mau berhenti menjadi seorang pemandu wisata,” tutup Pieter.

Usia senja tidak membuat seseorang untuk berhenti beraktivitas dan berkarya. Pieter adalah salah satu contohnya. Di usianya yang sudah tidak muda lagi, ia masih mampu bekerja mencari nafkah di tengah gempuran persaingan sesama pemandu wisata yang usianya jauh lebih muda. (Daniel Siahaan)
Be the first to comment