DEPOK,SpiritPerantau.com II Roti. Mendengar namanya tentu tidak asing lagi. Cemilan yang terbuat dari campuran tepung, gula dan ragi ini sangat akrab menemani secangkir kopi atau susu di kala pagi maupun sore hari. Di tengah berbagai macam roti dengan nuansa modern nama legendaris Roti Lauw, masih tetap setia sebagai teman sarapan bagi warga yang tinggal di wilayah Jakarta dan sekitarnya.
Pria bernama Feri (32) adalah salah satu orang yang masih tetap berjualan roti dengan ciri khas gerobak sepeda berwarna putih dan garis biru ini. Mulai dari pukul lima pagi Feri sudah mengayuh gerobaknya berkeliling di Perumahan Kavling Kujang hingga berakhir di ujung jalan utama Ridwan Rais Depok. Sementara ketika memasuki waktu sore hari ia berjualan di sekitar stasiun Depok Baru. “Kalau sore hari, saya biasanya mangkal di Stasiun Depok Baru,” kata Feri.
Sudah hampir tiga belas tahun, pria yang tinggal di kontrakan sekitar Jalan Nusantara Depok ini, berjualan Roti Lauw. Sebelum menjadi tukang roti, Feri sempat bekerja serabutan. Namun mengingat hasil pendapatan dari berjualan roti yang cukup lumayan menyebabkan dirinya memutuskan untuk berjualan roti lauw.
Kini gerobak sederhana itu, menjadi satu-satunya tumpuan hidup Feri. Dari hasil berjualannya, ia bisa membawa pulang uang ke rumah untuk memenuhi kebutuhan hidup istri dan anak-anaknya. “Bersyukur saja saya masih berjualan dan membawa uang untuk makan istri dan anak-anak saya,” ujarnya.
Di tengah munculnya berbagai macam roti kekinian, Feri mulai merasakan hasil penjualan rotinya sedikit menurun bila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Setiap hari, ia hanya membawa 50 potong roti untuk dijual mulai dari pagi hingga malam hari. Beruntunglah, masih ada pelanggan setianya yang sengaja membeli Roti Lauw, baik untuk sarapan atau dibawa pulang ke rumah, sehingga dirinya bisa agak bernafas lega.
Berada di tengah kondisi sulit, tidak membuat Feri patah semangat. Bahkan sebaliknya, ia tetap berusaha untuk berjualan Roti Lauw. Mengingat, usaha tersebut adalah satu-satunya mata pencaharianya yang tetap. Hidup selalu bersyukur, itulah menjadi pegangan dirinya untuk mengais rezeki yang halal.
Berdiri sejak tahun 1940
Usaha Roti Lauw mulai berdiri pada tahun 1940, dirintis oleh Lauw Tjoan To atau Junus Jahja, seorang pebinis keturunan Tionghoa. Ia terlahir dari keluarga pembuat roti dimana sang ayah Lau Lok Soei memiliki pabrik roti bernama Insulinde di Mester (Jatinegara)
Dibesarkan di dalam keluarga pembuat roti menyebabkan Lauw terampil untuk mengolah berbagai macam bahan tepung dan gula menjadi sajian aneka rasa roti yang nikmat. Sehingga pada tahun 1940 ia memutuskan untuk mendirikan usaha rotinya bernama Roti Lauw di Kawasan Gondandia, Jakarta Pusat.
Seiring bertambahnya waktu, Roti Lauw kini berinovasi untuk menciptakan berbagai macam rasa seperti roti nanas, keju, pisang keju, moca, dan kacang. Bahkan roti buaya yang menjadi hantaran acara lamaran tradisional bagi masyarakat Betawi ini masih tetap diproduksi di toko roti tersebut.
Salah satu jenis roti yang menjadi legendaris adalah Roti Gambang, roti padat berwarana coklat dengan taburan wijen di atasnya ini terbuat dari campuran gula merah dan aroma kayu manis. Menikmati lezatnya Roti Gambang cocok dengan minuman kopi atau teh. (Daniel Siahaan).
Be the first to comment