YOGYAKARTA, SpiritPerantau.com II Bila anda berkunjung ke Kota Yogyakarta, kendaraan roda tiga bermodifikasi bangku yang menempel di sebelah kiri motor dengan cat kombinasi warna putih dan kuning serta sticker yang menempel bertuliskan Difa Bike, tentu tidak asing lagi terlihat berseliweran di tengah deru jalanan di kota Gudeg ini. Namun siapa sangka moda transportasi umum berjenis daring ini, ternyata hasil karya inovasi Triyono Tama seorang penyandang disabilitas tuna daksa.
Memiliki kelemahan tubuh, ternyata tidak membuat seseorang berhenti berkreasi, pria kelahiran Yogyakarta 21 Juni 1981 ini membuktikan ditangan dinginnya ia mampu membuat lapangan pekerjaan bagi para kaum disabilitas dengan mendirikan Difa Lintas Transindo atau Difa Bike.

Tercetusnya ide untuk membuat usaha dibidang transportasi kendaraan roda tiga online ini, karena keprihatinan Triyono mengingat belum tersedianya sarana transportasi umum yang ramah bagi para penyandang disabilitas khususnya di kota Yogyakarta.
Mulanya, ditahun 2014 pria peraih penghargaan Asean Youth Initiative Empowerment Program ini hanya memperkenalkan inovasi kendaraan bermotor khusus difabel ini kepada komunitas kaum penyandang disabilatas. “Tahun 2014 mengawali dengan satu unit motor yang niatnya untuk membantu teman teman disabilitas dalam melakukan mobilitas sehari-hari,”singkatnya.
Di samping itu, Triyono menemukan fakta di lapangan mereka seakan-akan dipaksa untuk menjadi seorang wirausaha dengan berbagai bentuk pelatihan. Namun belum tertanamnya jiwa enterpreuner dalam diri para anggota komunitas penyandang disabilitas ini menyebabkan usaha yang dirintis sulit berkembang. Baru di tahun 2015 tercetuslah ide untuk mulai merintis usaha jasa kendaraan online roda tiga dengan pengemudi dan penumpang adalah para kaum difabel.
Tidaklah gampang untuk merintis usaha tersebut, Triyono dihadapkan dengan berbagai macam persoalan mulai dari kaum difabel yang masih belum bisa mengemudi kendaraan bermotor roda tiga sampai dengan legalitas berupa surat ijin mengemudi.
“Undang-undang Jalan Darat khususnya untuk kendaraan roda tiga ini kan belum ada legalitasnya. Jadi susah didorong untuk jadi perusahaan yang benar-benar dibidang transportasi kendaraan umum roda tiga.” Singkat Triyono.
Usaha keras tidak menghianati hasil, inilah yang dirasakan oleh pria peraih Rekor Muri Pelopor Ojek Untuk Difabel Pertama Di Indonesia, selain telah mendapatkan lisensi Surat Ijin Mengemudi Kategori D khusus kendaraan motor roda tiga bagi para penyandang disabilitas kini Difa bike telah melebarkan unit usahanya diantaranya Difa Box untuk angkutan barang dan Difa Wisata sebagai angkutan khusus carteran wisata. Untuk saat ini Difa Bike telah mengoperasikan sebanyak 42 kendaraan roda tiga yang melayani semua jaringan yang ada di kota Yogyakarta.
Sejak umur 2 tahun
Triyono mulai di vonis polio saat masih berusia 2 tahun, ketika itu ia mengalami kelemahan otot yang berada disekujur paha hingga telapak kaki. Menjadi seorang difabel dalam diri pria ramah ini ibarat menelan pil pahit dalam hidupnya.

Betapa tidak, ia sempat ditolak untuk belajar di sekolah umum dan harus menimba ilmu di Sekolah Luar Biasa atau SLB. Disamping itu perlakuan yang tidak mengenakan serta diskriminatif sering Triyono dapat ketika sedang menimba ilmu di sekolah. Inilah yang selalu mengganggu psikologi dalam dirinya.
Namun tidak terlalu lama, semangat dalam belajar membuat Triyono cepat beradaptasi dengan mata pelajaran yang ada sehingga ia dapat menempuh jalur pendidikan ke Sekolah Dasar(SD) Umum. TIdak hanya berhenti disitu Triyono juga menamatkan pendidikan di Sekolah Menengah Pertama dan Lanjutan Atas juga di sekolah umum.
“Saya mengalami bullying waktu sekolah di SD dan SMP, kebetulan ditolong karena prestasinya bagus. Akhirnya anak anak yang lain tidak berani terlalu membully,” tutur Triyono.
Prestasi di bidang akademik tidak hanya sampai di sekolah menengah atas saja, pria yang tercatat sebagai 10 Usahawan Digital Tecnho Festival Kementerian Investasi ini berlanjut hingga perguruan tinggi ia tercatat sebagai lulusan Sarjana Peternakan di Universitas Negeri 11 Maret Solo. Kini Triyono sedang mempersiapkan diri untuk menempuh pendidikan Strata Dua di Fisipol Universitas Gajah Mada Yogyakarta. (Daniel Siahaan).
Be the first to comment