Pemilik Warung Nasi Pak Bejo: Demi Hidupi Ibu, Seorang Diri Rela Merantau di Usia 10 Tahun

JAKARTA,SpiritPerantau.com II WARUNG nasi sederhana itu, nampak masih berdiri di pinggir Jalan terminal masuk bus Blok M, Jakarta Selatan. Pria paruh baya berbaju kemeja hijau sederhana itu tampak sibuk melayani pembeli yang ingin membeli nasi rames dengan pelengkap menu makanan rumahan yang berjajar rapi di atas atelase kaca sederhana.

“Mau dibungkus atau makan disini,” kata pria tersebut sambil tersenyum lebar. Pria itu bernama Bejo, pemilik warung makan Nasi Pak Bejo.

Membangun warung makan yang sempat viral itu, tidak didapat Bejo secara instan. Jatuh bangun dalam membangun usaha sudah menjadi bagian hidup dari Pria asal daerah Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta ini. Sebuah kisah sedih meluncur dari bibir Bejo ketika sedang berbincang-bincang dengan SpiritPerantau.com.

Sejak Usia 10 Tahun

Sejak usia 10 tahun Bejo sudah merantau ke Jakarta, bermodalkan uang seadanya ia datang ke Ibukota untuk mengadu nasib dengan bekerja serabutan di rumah salah seorang kerabatnya. “Saya bekerja di rumah saudara saya, ya sekadar bantu-bantu saja kebetulan dia juga berjualan nasi,” ujar Bejo.

Walaupun pada waktu itu, masih berusia belia, tekad yang kuat untuk membantu perekonomian keluarga terutama merawat ibu tercinta membuat pria yang masih belum menikah ini sengaja men cari peruntungan di kerasnya kehidupan metropolitan Jakarta.

Diakui Bejo, sejak lahir ia tidak pernah merasakan sentuhan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Sang ayah yang seharusnya memberi nafkah kepada istri dan anak -anaknya, malah pergi begitu saja meninggalkan Bejo serta ibunya beralih ke pelukan wanita lain.

Akhirnya, Ibunya pun harus merawat Bejo seorang diri. “Saya dari kecil tidak punya orang tua. Orang tuanya ada cuma enggak mau ngurusin” jelasnya dengan nada sedih.

Pernah satu kali Bejo dipertemukan ayahnya dengan perantara seorang teman. Alih-alih mendapatkan perhatian dan pelukan hangat. Malah sebaliknya sang ayah tidak menatap wajahnya.

Naik Haji 

Meskipun demikian pria yang mulai membuka warung pada tahun 1995 ini, tidak menaruh dendam kepada ayahnya, malah sebaliknya peristiwa ini dijadikan motivasi untuk berusaha segigih mungkin demi meraih kesuksesan.

Walaupun terlihat sederhana, hanya bermodalkan gerobak kayu dan kain terpal,  dua buah meja panjang dan pendek dan beberapa kursi, namun Warung Nasi Pak Bejo tidak pernah sepi pembeli. Puluhan orang silih berganti datang ke warung tersebut. Rata-rata mereka yang membeli adalah karyawan yang bekerja di pekantoran sekitar wilayah Blok M.

Menu yang menjadi ungulan dari Warung Nasi Pak Bejo adalah Soto Paru dan Telor Dadar. ”Disini yang paling laris Soto Paru dan Telor Dadar. Tapi sayur krecek juga banyak di cari pembeli,” Bejo  berpromosi.

Sudah tiga puluh tahun Bejo merintis warung makan yang buka sejak pukul tujuh pagi dan tutup pukul dua siang ini. Hasil jerih payahnya pun tidak main-main.

Kini Bejo sudah memiliki rumah dan sebidang tanah di kampung halamannya, Gunung Kidul, Yogyakarta. Dia samping itu, ia juga sudah menunaikan Ibadah Haji satu kali dan Umroh sebanyak lima kali. “Alhamdulilah sudah bisa ke Mekah lima kali. Naik Haji pada tahun 2019,” tutupnya. (Daniel W. Siahaan).

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*