SpiritPerantau.com—Merantau, meninggalkan kampung halaman dan berdiam di tanah orang (yang awalnya terasa asing) dengan harapan bisa meraih sukses, memerlukan jurus dan strategi. Tak hanya asal nyemplung, asal jalan, sekedar mengikuti angan-angan kosong (wishfull thinking).
Kita bisa belajar dari para perantau yang sudah sukses di perantauan. Bertolak dari pengalaman mengelola situasi kebencanaan, Drs. Frederikus Loke SF yang lebih dikenal dengan sapaan Eddy Loke membagikan tahapan yang seharusnya dilalui oleh para perantau yaitu antisipasi, adaptasi, transformasi dan terakhir resiliensi.
Antisipasi
Sebelum berangkat ke perantauan, setiap perantau perlu melakukan antisipasi atau memperhitungkan tentang hal-hal yang akan terjadi. Kita melakukan penyesuaian mental terhadap apa yang akan terjadi (di tempat yang baru).
“Kita merantau tidak dengan tangan kosong. Tapi sudah ada ilmu pengetahuan, ada keterampilan, ada juga kebiasaan membaca tentang peluang dan tantangan di tanah rantau,” jelas Eddy. Berkomunikasi dengan para “pendahulu” di daerah rantau, kata dia, juga merupakan langka antisipasi yang tepat. Setelah mengetahui dinamika peluang dan tantangan di perantauan, kita bisa mulai bersiap diri.
Adaptasi
Biasanya, setelah sampai di perantauan, perantau muda berkumpul dengan orang-orang sekampung halamannya. Entah itu keluarga, teman alumni atau pun komunitas berdasar daerah yang biasanya sudah terbentuk lebih dahulu. Hanya sedikit orang yang langsung nekat masuk dalam masyarakat yang benar-benar baru dan asing.

Melalui kelompok “primordial” itu, kita mulai beradaptasi dengan kondisi dan dinamika di tempat perantauan. Bekal finansial, kemampuan akademis, keahlian serta keterampilan yang “dibawa” dari kampung, bisa menjadi modal dasar untuk beradaptasi terhadap tuntutan hidup di perantauan. Kelompok “primordial”, persaudaraan sesuku misalnya, bisa jadi jembatan awal kita memperoleh pekerjaan.
Dalam fase ini, kita menyesuaikan seluruh modal kita (keahlian, ilmu, semangat, nilai dan kebiasaan) dengan kondisi real di perantauan. “Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung” merupakan sebuah pribahasa yang normatif bagi setiap perantau. “Tanpa menerapkan prinsip ini, kita akan dibenci atau minimal ditolak oleh lingkungan,” kata Eddy.
Transformasi
Tahap selanjutnya – yang sangat tipis bedanya dengan tahap adaptasi – adalah transformasi. Segala sesuatu yang kita bawa dari tempat asal (keahlian, kemampuan finansial, kekayaan budaya asal, kebiasaan, bakat) dan sebagainya, perlu ditransformasikan sehingga sesuai dan bisa merespon kondisi dan dinamika tantangan yang ada di tempat baru, juga dalam hubungan dengan tuntutan pekerjaan.
“Dalam tahap ini, kita melakukan formulasi ulang, bahkan tentang diri kita. Kita bukan orang kampung yang kampungan, tapi orang kampung yang hidup di kota dengan segala nilai, tuntutan dan dinamika di dalamnya. Kita tidak hanya menyesuaikan diri, tapi juga merubahnya. Ketika kita tinggal di metropolitan misalnya, kita tidak hanya menjadi orang kampung yang tinggal di Jakarta, tapi orang metropolitan meski berasal dari kampung,” jelas Eddy.
Jalannya bisa melalui perjumpaan konkrit dengan situasi dan orang-orang baru. Juga melalui pendidikan dan pelatihan.
Resiliensi
Tahap terakhir adalah resiliensi, tahap dimana kita mampu bertahan. “Ada di mana pun, kita tetap bertahan dengan mantap,” kata Eddy. (Paul MG).
Be the first to comment