From Zero to Hero Ala Damianus Bilo SH.,MH  

Sempat putus sekolah karena pagutan kemiskinan, dianggap buta, ditempeleng hingga semaput gegara “bodoh” Bahasa Inggris, Damianus mengalami transformasi radikal. Apa yang membuat ia bangkit dan sukses dalam karier?

SpiritPerantau.com–HARI itu hari Sabtu, saatnya pasar mingguan Koeloda, Mataloko, Ngada, Flores,  beroperasi. Sesaat sebelum turun dari kuda yang ditungganginya dari kampung halamannya ke Mataloko — sekitar 15 kilo meter jarak tempuhnya– tiba-tiba kuda jantan itu melompat. Tubuh mama Yuliana Bate  yang saat itu sedang hamil tua itu sempat terangkat, kemudian jatuh ke jalan yang sedikit berbatu melalui kepala hewan peliharaan itu.

Fatal. Mama Yuliana lalu dilarikan ke Balai Kesehatan Ibu dan Anak (BKIA) dan melahirkan putranya, yang  diberinya nama Damianus Bilo itu, secara prematur. Dan akibat kecelakaan itu, Damianus lahir dalam kondisi yang berbeda dari anak-anak lainnya. Biji matanya terlihat tertutup. Sekilas terlihat seperti orang buta.

Semua orang menganggapnya buta. Tapi sebetulnya ia sendiri bisa melihat. Dan luar biasa lagi, di SD, dia selalu keluar sebagai juara pertama. Matanya baru terlihat terbuka dan berbinar saat duduk di kelas IV, sesaat sebelum menerima komuni pertama atau sambut baru.

Putus sekolah

Tamat SD, bungsu dari empat bersaudara ini tak bisa melanjutkan ke SMP karena kondisi ekonomi keluarga yang sangat memprihatinkan. Ayahnya telah lama berpulang, sementara sang Ibu harus membiayai seluruh kehidupan anak-anaknya dengan memelihara hewan titipan dari Guru Yohanes Wuda, Kepala Sekolah di Pali, Ruto, Aimere, Ngada, Flores saat itu.

Jadilah, empat tahun lamanya Damianus berhenti sekolah dan  mengerjakan apa saja untuk menyambung hidup, entah sebagai petani, nelayan, pengumpul kayu bakar, atau apapun, yang penting bisa menghasilkan uang.

Setiap tahun, hatinya serasa teriris melihat teman-temannya membawa raport ke orangtua mereka masing-masing. Tapi asanya tak putus. Lewat tahun keempat, ia memutuskan masuk SMP Negeri I, Bajawa.

Ikut test, lolos, bahkan masuk 10 besar dan termasuk dalam 177 pelajar yang diterima. Karena jumlahnya besar, Damianus yang tinggal bersama kakak sulungnya yang baru menjadi  Pegawai Negeri Sipil (PNS) di kota dingin Bajawa tersebut, mendapat giliran sekolah sore.

Niat “balas dendam” 

Diakui banyak tantangan saat masuk SMP. Apalagi setelah empat tahun di luar dan dia setingkat dengan pelajar lain yang jauh lebih muda usianya.

Ada satu pengalaman yang sungguh merubah hidupnya, yaitu interaksinya dengan guru Bahasa Inggris saat itu. Guru bertubuh tinggi kekar ini sangat keras dalam mendidik. Mengenakan cincin batu alam, ia tak segan menempeleng murid yang tak menguasai Bahasa Inggris.

“Saat itu mata pelajaran tentang personal pronoun. Pak Guru tanya, we sebagai obyek personal pronounnya apa? Saya tanya ke teman saya Rofinus Dalo, dia bilang us. Saya lalu jawab us (seharusnya bacanya as) kepada Pak Guru. Serta merta dia tempeleng, sampai saya pingsan, lalu disiram air,” cerita Damianus.

Ia menangis. Bahkan hingga sampai di rumah. Meski air matanya akhirnya berhenti, rasa sakit di hati terus dia bawa ke rumah. Dia merenung. Ingin kembali ke kampung, dan jadi nelayan atau petani, tapi ia berpikir, ujungnya tak enak karena akan jadi orang miskin kembali. Mau bertahan, sepertinya sangat berat. Sekitar pukul 12.00, tengah malam, dalam doa dan keluhan, ia sampai pada kesimpulan bulat.

“Saya harus sekolah. Dan mulai malam ini, saya harus belajar Bahasa Inggris dan menyingkirkan pelajaran lainnya. Saya jadikan pelajaran lain nomor dua dan tiga. Saya belajar sediri. Motivasinya, saya harus jadi guru Bahasa Inggris dan saya akan cari sekolah di mana anak guru tadi sekolah. Supaya saya bisa membalas sakit hati saya,” tekadnya di malam yang dingin itu.

Dia konsisten dengan tekadnya itu. Di kelas I, nilai Bahasa Inggrisnya beranjak bagus. Di kelas 2, ada pergantian guru dan Damianus sudah menguasai Bahasa Inggris dengan baik. Nilainya selalu 10. Karena otodidak, ia sedikit ragu apakah Bahasa Inggrisnya tepat seperti aslinya dan mudah dimengerti lawan bicara. Maka ia pun “main” ke beberapa losmen yang ada di kota Bajawa, yaitu Losmen DAM, Wisma Johny dan Mawar.

Ternyata komunikasi dengan para turis atau bule berjalan bagus sekali. Mereka memuji kefasihan berbahasa Inggrisnya. Dan sejak usia 15 tahun ia terjun sebagai guide untuk para turis yang berkunjung ke daratan Flores. Damianus disukai karena ia memiliki pengetahuan yang luas tentang semua ritual dan ornamen budaya, rumah adat dan simbolnya-simbolnya  yang dipelajarinya selama empat tahun hidup di kampung setelah tamat SD dan putus sekolah.

Menghasilkan uang sendiri

Suatu saat, ketika duduk di kelas III SMP, dengan ijin sekolah, ia menghantar sebuah keluarga asal Australia menyusuri beberapa kampung adat di wilayah Kabupaten Ngada. Motivasinya adalah mengukur kelancaran dan ketepatan berbahasa Inggris. Selesai perjalanan, mereka memberinya sejumlah uang.

Damianus menolaknya. Prinsipnya kala itu, apa yang dilakukan tangan kanan, jangan diketahui, apalagi diterima tangan kiri. Mereka memaksa karena merasa telah sangat dibantu, apalagi Damianus  telah mengurbankan waktu sekolahnya untuk menemani dan memudahkan perjalanan wisata mereka.

“Kamu tidak berdosa bila menerima uang ini. Ini hakmu,” kata mereka sambil memberikan 100 dollar kepadanya. Damianus  menerimanya sambil menangis haru.  Uang  itulah yang menjadi modalnya untuk  masuk SMA Negeri 435 Bajawa.

Suatu saat Tuhan mempertemukannya dengan seorang tourguide dari Belanda yang secara rutin —  hampir tiap bulan—  membawa rombongan dari Belanda sekitar 20 hingga 25 orang. Rupa tourguide itu sangat tertarik dengan kualitas pendampingan Damianus. Selain Bahasa Inggrisnya bagus, Damianus tahu betul seluk beluk kultur Ngada karena sempat hidup di tengah masyarakat selama  4 tahun karena putus sekolah. Kemampuan Bahasa daerah dan keterampilannya menjalin relasi dengan para tetua  kampung yang dikunjungi, membuat para turis yang didampinginya merasa sangat diterima oleh Masyarakat Ngada.

Jadilah. Setiap ke Indonesia, Damianuslah yang diminta mendampingi mereka “menyentuh” dan menikmati kekayaan dan keindahan alam dan kultural Ngada. Hubungan mereka pun kian kuat. Suatu saat, teman Belandanya tadi mendesak Damianus untuk melanjutkan pendidikannya sampai ke jenjang paling tinggi dengan biaya dari mereka. Dia yang akan memobilisasi dana untuk kebutuhan perkuliahan Damianus.

Pembuktian kualitas Akademis di Eropa

Tamat SMA Negeri I Bajawa, Dami belajar hukum di Universitas Atmajaya, Yogyakarta. Karena dibiayai oleh teman-temannya dari Eropa, setiap semester, ia mengirimkan laporan hasil ujiannya. Sadar disokong penuh oleh para sahabat Belanda-nya, Damianus tak menyia-nyiakan kesempatan yang dianggapnya sebagai berkat dari Tuhan itu. Hasil ujiannya selalu luar biasa.

Saat itu isu jual beli ijaah sangat santer, baik di Indonesia maupun di mancanegara. Imbasnya, para donaturnya  tak sepenuhnya percaya pada pencapaian akademis yang diperoleh Damianus. Lulus dengan Skripsi berjudul “Efektivitas Penerapan Pidana Penjara Terhadap Tindakan Perkosaan”, Sebagai hadiah istimewa, Damianus diundang ke Eropa oleh para donaturnya untuk menikmati Eropa. Tapi mereka juga minta Damianus membawa 27 kopian skripsi beserta yang asli.

Berada di Eropa, apalagi untuk pertama kalinya, menjadi pengalaman yang sangat membahagiakan. Ia diperlakukan ‘bak raja selama tiga minggu di negeri Eropa.

Di suatu akhir minggu, pada saat makan siang di sebuah ruang yang luas, para  donaturnya duduk mengelilingi meja. Bukan piring yang tergeletak di depan masing-masing mereka, tapi skripsi karya Damianus.

“Saya diminta mempresentasikan skripsi saya dan kemudian mempertanggungjawabkan isinya oleh seorang professor yang telah mereka sewa untuk menguji saya. Profesor itu orang Leiden yang kebetulan sangat fasih berbahasa Indonesia,” cerita Damianus.

Ia berhasil menjawab setiap pertanyaan ujian dari sang professional dengan sangat memuaskan dan sang professor meminta agar para donator membiayai studi lanjutnya. Salah seorang donator sesunggukan, terharu menyaksikan kualitas intelektual yang dimiliki oleh “anak asuh”-nya itu.

Damianus lalu melanjutkan Pasca Sarjananya di Universtitas Gajah Mada jurusan Hukum Internasional. Bidang ini dirasakan penting karena meningkatnya berbagai kejahatan internasional, termasuk human trafficking dan narkoba jaringan internasional.

IOM dan Kedutaan Amerika

Lulus Pasca Sarjana dalam bidang hukum internasional, Damianus bergabung di International Organzation for Migration (IOM). Dalam dua tahun di organisasi internasional yang mengurus para migran itu, ia mengelola beberapa proyek termasuk dalam penyusunan Undang-Undang Tindak Pidana Perdagangan Orang. Bahkan menjadi penyumbang pemikiran utama dalam undang-undang tersebut.

Suatu saat, ia ke Medan, Sumatera Utara atas undangan dari Office Prosedutorial Development Angency Training (OPDAT). Di sana, dia bertemu dengan Direktur USDOJ-ICITAP (United State Department of Justice International Criminal Investigative Training Assistance Program) yang  kemudian merekrutnya sebagai Technical Advisor untuk menangani program peningkatan kapasitas penegak hukum di Indonesia dan Asia Tenggara dalam upaya pemberantasan kejahatan-kejahatan transnasional terorganisir.

Di Lembaga yang berkedudukan di Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta dengan pusat pengendalian di Washinton DC, itu Damianus menyelesaikan kerja-kerja besar bagi NKRI, terutama dalam kaitan dengan kepolisian. Salah satu adalah tentang pengendalian huruhara.

Ada beberapa klausul yang diperbaikinya. Hak tolak bawahan atas perintah atasan, merupakan salah satu contohnya. Polisi, kata dia, bukan militer tapi sipil. Di militer, kepatuhan terhadap perintah atasan memang wajib, tapi di sipil tidak berlaku otomatis. Bila dianggap tak relevan dengan tugas utamanya, perintah itu bisa ditolak.

Ketentuan lain yang diusulkan Damianus adalah penanganan huru-hara dalam demonstrasi. “Balasan harus hanya satu tingkat di atasnya. Kalau orang tangan kosong, kita pakai pentung. Kalau pakai pentung, kita pakai senjata,” kata Damianus.

Karena kerja-kerjanya itu, ia kemudian diusulkan untuk mengambil doktor di Amerika Serikat. Tapi kesempatan emas itu ditolaknya karena ia lebih ingin  menyelasaikan tugas-tugasnya dulu. Ia mendapat penghargaan dari pemerintah Amerika Serikat dan dibawa langsung oleh Ketua Mahkamah Agung.

Karena prestasinya itu pula, ia diminta dan kemudian bergabung di Kedutaan Besar Amerika Serikat untuk Indonesia yang berkedudukan di Jakarta pada 2007.  (Paul MG).

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*