Diskusi Buku “God Is Energy”, Menguatkan Paham Teologis tentang Penciptaan dengan Pendekatan Ilmiah

SpiritPerantau.com—KISAH penciptaan seperti dinarasikan dalam Kitab Kejadian dan beberapa Kitab lainnya dalam Alkitab, tak jarang tak diterima sebagai sebuah kebenaran, baik kebenaran iman maupun kebenaran ilmiah. Fakta biblis bahwa Allah ada dan adalah pencipta segala sesuatu, ditolak para ilmuwan.  

Ilmuwan asal Inggris Stephen Hawking misalnya yang dikenal dengan “Theory of Everything” (teori segala sesuatu) yang menegaskan bahwa asal mula dari alam semesta adalah ledakan besar atau “big bang theory”. Karena itu dia menegaskan tidak ada Tuhan. “Tak ada yang mengarahkan alam semesta,” kata ilmuwan yang meninggal pada Maret 2018 ini. Tanpa Tuhan, alam semesta pun bisa tercipta. Bahkan Tuhan dianggap sebagai penghambat ilmu pengetahuan.

“Penolakan bahwa Allah-lah yang menciptakan alam semesta dari Hawking dan ilmuwan lainnya itulah yang mendorong saya membuat buku yang kemudian saya beri judul “God is Energy” ini. Melalui buku ini saya membuktikan bahwa kebenaran biblis dan teologis tentang Kisah Penciptaan alam semesta oleh Allah itu sungguh bisa dibuktikan secara ilmiah, baik dari sudut fisika, metafisika, psikologis maupun bidang ilmu lainnya,” kata dr. Elly Engelbert Lasut, ME, penulis buku setebal 177 halaman itu.

Mantan Bupati Kepulauan Talaud selama tiga periode ini tampil sebagai pembicara utama dalam diskusi buku yang ditulisnya selama 7 tahun lebih itu di Sekolah Tinggi Teologia Injili Jakarta (STTIJ) Kampus B, Ciangsana, Jakarta Timur, Rabu (12/3/2025) yang lalu. Diskusi bernuansa intelektual tersebut dimoderatori oleh Pdt. Dr. Jemmy Iwan Tangka, Ketua Umum Sinode Gereja Kristen Setia Indonesia dan dihadiri oleh seratusan mahasiswa dan mahasiswi STT tersebut.

Roh dan jiwa

Seperti diceritakan dalam Kitab Suci, pada mulanya adalah kegelapan. Kegelapannya sangat pekat. Lalu Allah menciptakan terang. Terang inilah, kata Elly, yang mengurai kegelapan. Terang hanya ada dalam alam kehidupan. Dan terang ada supaya manusia bisa hidup. Diceritakan pula, ada Roh yang melayang-layang. Dalam perspektif ilmu, ada energi yang dinamis.

Menurut Elly, sebelum Allah, hanya ada Allah dan setelah itu ada penciptaan kehidupan yang menjadi milik Allah. Roh Allah itu adalah kehidupan yang mengisi seluruh ruang di alam semesta dan bekerja secara energis dalam melakukan penciptaan.

“Roh Allah atau Roh Kehidupan melakukan penciptaan selayaknya buah dari pikiran, perasaan, memori dan kehendak sehingga alam semesta itu seolah-olah diciptakan oleh pribadi seperti manusia melakukan karya cipta sebagai buah dari pikiran, perasaan, memori dan kehendaknya sebagai manusia,” ujarnya.

Elly juga menjelaskan perbedaan antara jiwa dan Roh. Jiwa adalah pikiran, perasaan, memori dan kehendak manusia. Sementara Roh adalah pikiran, perasaan, memori dan kehendak Tuhan. Tuhan tak berbatas waktu dan tempat, sementara manusia terbatas waktu dan tempat. Karena itu, Tuhan tahu apa yang akan terjadi nanti atau jauh ke depan, sementara manusia tidak punya kemampuan itu.

Penciptaan manusia

Penciptaan manusia, kata Elly, terjadi ketika Tuhan meniupkan RohNya. Ketika Tuhan meniupkan rohNya maka datanglah kehidupan.  Fungsi-fungsi  kehidupan ada ketika Roh Tuhan bekerja. Pikiran dan kehendak manusia tak bisa mengintervensi apa yang menjadi kehendak Tuhan.

Bertolak dari dunia medis, dunia yang ditekuninya sebelum masuk dalam pemerintahan, Elly menegaskan bahwa kehidupan manusia (terutama awal dan akhirnya) hanya ditentukan oleh Tuhan. Manusia tak bisa mengintervensinya.

“Dalam dunia kedokteran, seseorang disebut hidup atau masih hidup ketika masih ada nafas, jantung bekerja spontan, ada refleks urat saraf, pupil mata masih bergerak. Itu bergerak spontan dan otonom oleh Roh Allah, manusia tidak pernah bisa mengintervensinya, termasuk dengan ilmu pengetahuan dan teknologi  semodern apapun,” katanya.

Allah tak hanya hadir sebagai Pemberi Kehidupan, tapi juga adalah Pribadi yang memiliki pikiran, perasaan, memori dan juga kehendakNya. Dan sejak pembuahan manusia, Allah telah memperkenalkan diriNya kepada zigot (bayi hasil pembuahan). Ia membangun jiwa anak dengan sifat-sifatNya seperti kasih, sukacita, damai sejatera dan sebagainya ke dalam jiwa anak. Baik ke dalam sistem berpikir maupun DNA atau pembawa sifat anak.

“Pikiran-pikiran itu tersimpan dalam memori yang merupakan bagian dari jiwa anak. Maka ada sifat-sifat dasar manusia. Sifat-sifat itu baik, karena mengalir dari Roh Allah,” kata Elly.

Menguatkan kehadiran Tuhan

Elly Lasut berharap melalui buku God Is Energy, para intelektual dan ilmuwan yang atheis mendapatkan pedoman ilmiah tentang kebenaran Tuhan dengan menyelaraskan pengertian dan cara kerja Tuhan didalam kebenaran-kebenaran ilmiah.

Seluruh pemaparan  disambut para mahasiswa dengan penuh antusias. Terekspresi dari interaksi positif dan dinamis yang membuat diskusi buku ini menjadi sangat hidup.

Sangat kaya

Buku “God is Energy” ini sungguh sangat kaya. Selain bahas tentang penciptaan alam semesta, terdapat juga beberapa tema lain yang sungguh menarik. Sebut misalnya tentang letak Taman Eden, Kehendak Bebas Manusia, Mukjizat dan masih banyak lagi. (Paul MG).

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

 

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*