Adrenalin Pengabdian FKUB Sulut: Kala Pesan Gubernur Yulius Selvanus Membakar Semangat Pendeta Renata Ticonuwu

MANADO,SpiritPerantau.com II Gubernur Sulawesi Utara Mayjen TNI (Purn.) Yulius Selvanus, S.E., menegaskan bahwa kerukunan antarumat beragama merupakan fondasi utama dan modal strategis bagi keberhasilan pembangunan daerah yang tidak dapat dinilai dengan uang.

Pesan bernilai tinggi tersebut disampaikan langsung dalam dialog mendalam bersama Ketua Pendeta Thomas Renata Ticonuwu, S.Th., M.Th., beserta seluruh jajaran pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Sulawesi Utara di Wisma Negara Bumi Beringin.

Merespon arahan strategis itu, FKUB Sulawesi Utara menyatakan momentum ini sebagai suntikan adrenalin baru yang membakar semangat seluruh pengurus untuk mengabdi total dalam merawat toleransi serta mendongkrak dimensi kesetaraan di Bumi Nyiur Melambai.

Mahal harganya

Malam di Wisma Negara Bumi Beringin, Manado, menyisakan kehangatan yang pekat. Di bawah tatapan langit Sulawesi Utara, sebuah momentum penting baru saja digoreskan. Pemimpin daerah yang baru, Gubernur Sulawesi Utara Mayjen TNI (Purn.) Yulius Selvanus, S.E., berdiri tegap memberikan wejangan taktis kepada jajaran pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Sulawesi Utara periode terbaru.

Pertemuan ini menjadi penanda awal dari babak baru perjalanan toleransi di daerah tersebut. Di hadapannya, duduk Pendeta Thomas Renata Ticonuwu, S.Th., M.Th., sang nakhoda baru FKUB Sulut, bersama jajaran tokoh lintas agama yang merepresentasikan potret kemajemukan Bumi Nyiur Melambai.

Pertemuan malam itu bukan sekadar seremoni ketukan palu atau penyerahan surat keputusan kepengurusan semata. Acara tersebut adalah dialog jiwa yang mendalam, sebuah proses transfer energi yang oleh Pendeta Renata dirasakan sebagai “adrenalin baru” untuk mengabdi total demi kemajuan daerah.

Gubernur Yulius Selvanus menyampaikan pesan mendalam yang menembus batas-batas formalitas birokrasi pemerintahan. Dengan nada tegas khas jenderal namun penuh empati, ia meletakkan posisi kerukunan pada derajat tertinggi dalam arsitektur pembangunan daerah.

Bagi sang Gubernur, kedamaian bukan lagi sekadar produk sampingan dari stabilitas politik semata.  Kedamaian adalah modal strategis dasar yang menentukan arah masa depan seluruh masyarakat Sulawesi Utara tanpa terkecuali.

“Kerukunan itu sangat mahal harganya. Tidak bisa dihitung dengan uang. Tanpa kerukunan, program pembangunan yang direncanakan dengan baik sekalipun akan sulit berjalan secara optimal,” tegas Gubernur YSK malam itu.

Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa kemegahan infrastruktur fisik menjadi tidak berarti jika konflik horizontal dibiarkan tumbuh subur di tengah masyarakat.

Keragaman Sulut

Sulawesi Utara merupakan daerah yang tumbuh dalam keberagaman agama, suku, budaya, dan tradisi yang sangat kaya. Berdasarkan data demografi terbaru, masyarakat daerah ini terdiri atas pemeluk agama Protestan sebesar 63,60 persen, Islam 30,90 persen, Katolik 4,40 persen, Hindu 0,58 persen, Buddha 0,14 persen, dan Kong Hu Cu 0,02 persen. Komposisi yang majemuk ini menuntut formula kepemimpinan yang inklusif dan merangkul.

Bagi Gubernur Yulius, indikator kesuksesan seorang pemimpin tidak boleh diukur hanya melalui pertumbuhan ekonomi dan pelayanan publik semata.  Kemajuan fisik akan langsung lumpuh jika benih intoleransi dibiarkan berkecambah di ruang publik.  Kerukunan adalah payung yang melindungi seluruh ekosistem masyarakat, mulai dari dunia usaha yang membutuhkan kepastian hukum, aktivitas pendidikan anak-anak, hingga pelayanan kesehatan di pelosok daerah.

Wejangan dari Gubernur Yulius Selvanus laksana dorongan adrenalin yang memacu detak jantung pengabdian para pengurus FKUB menjadi lebih cepat. Mereka menyadari bahwa mereka mewarisi standar emas yang sangat tinggi dari capaian Indeks Kerukunan Umat Beragama (IKUB) Tahun 2025.

Prestasi masa lalu tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi kepengurusan baru untuk minimal mempertahankan atau bahkan meningkatkan capaian yang ada.

Peringkat 4 Nasional

Berdasarkan data resmi, Sulawesi Utara berhasil mencatat skor IKUB sebesar 85,27 dan menempati peringkat ke-4 nasional. Angka tersebut berada jauh di atas rata-rata skor IKUB nasional yang berada pada angka 77,89. Lebih membanggakan lagi, dimensi toleransi Sulawesi Utara meraih skor fantastis 95,84 yang menempatkannya di peringkat pertama nasional.

Capaian ini mencerminkan kuatnya akar budaya saling menghormati di masyarakat. Namun, di balik kegemilangan angka-angka tersebut, terdapat pekerjaan rumah yang cukup krusial pada dimensi kesetaraan yang berada di angka 74,69. Di sinilah letak adrenalin itu bekerja membakar semangat juang Pendeta Renata Ticonuwu bersama seluruh anggotanya. FKUB tidak boleh lagi sekadar menjadi lembaga formal yang baru sibuk bergerak saat terjadi gesekan sosial. Mereka harus bertransformasi menjadi laboratorium dialog aktif yang dinamis.

Merespon tantangan strategis dari Gubernur YSK, FKUB Sulut bergerak cepat merumuskan empat agenda utama yang saling terintegrasi. Agenda tersebut meliputi penguatan kerukunan, perwujudan harmoni, pemeliharaan toleransi, serta pemenuhan dimensi kesetaraan bagi seluruh pemeluk agama. Keempat poin krusial ini akan langsung diterjemahkan ke dalam program kerja nyata yang menyentuh akar rumput, bukan sekadar menjadi wacana di atas meja seminar.

Langkah konkret yang segera disiapkan antara lain adalah penyelenggaraan dialog intensif yang melibatkan generasi muda lintas iman secara berkelanjutan. Selain itu, edukasi lapangan akan digalakkan untuk memperkuat literasi kebangsaan dan mendeteksi potensi konflik sejak dini. FKUB berkomitmen untuk memastikan tidak ada satu pun kelompok minoritas yang merasa ditinggalkan atau mendapat perlakuan diskriminatif dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari.

Sinergi yang kokoh antara Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara, FKUB, aparat keamanan, dan tokoh adat kini berdiri sebagai pilar utama pelindung daerah. Ketika malam semakin larut di Bumi Beringin, sebuah komitmen suci telah bulat terpatri di dalam hati. Pesan dari sang Gubernur telah menjelma menjadi energi penggerak yang nyata bagi kemajuan daerah, membuktikan bahwa menjaga kedamaian adalah investasi terbaik demi masa depan.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*