MANADO,SpiritPerantau.com II Di bawah langit Desa Kayuwatu Kakas Minahasa, seorang pria berusia lima puluh empat tahun berdiri dengan tegak menatap masa depan putra-putranya. Rommy Jendry Kilala bukanlah sosok bangsawan, melainkan seorang ayah yang memikul beban berat demi martabat keluarganya yang sederhana. Bersama istrinya tercinta, Meltje Kolanus, ia telah melewati berbagai badai kehidupan yang menghimpit. Namun, satu tekad yang tak pernah padam adalah melihat anak-anaknya meraih pendidikan tinggi agar bisa memutus rantai kemiskinan yang menjerat.

Sejarah pahit sempat tertoreh ketika putra sulungnya terpaksa merelakan mimpinya untuk kuliah karena keterbatasan biaya yang sangat mencekik. Rommy pun bersumpah bahwa putra keduanya, Erald Kilala, tidak boleh mengalami nasib serupa yang memilukan. Erald adalah pemuda yang sangat berprestasi, aktif dalam gerakan Pramuka serta organisasi siswa di sekolahnya dengan penuh semangat. Potensi besar sang anak inilah yang menjadi bahan bakar utama bagi Rommy untuk terus bekerja keras tanpa kenal lelah.
Saat kelulusan tiba, pihak sekolah merekomendasikan Erald untuk mendapatkan beasiswa Kartu Indonesia Pintar karena prestasi akademiknya yang sangat membanggakan. Namun, sebuah tembok besar menghalangi mereka ketika harus mengurus administrasi di kantor desa setempat dengan penuh harapan. Hukum Tua Desa Kayuwatu menolak memberikan surat keterangan tanpa alasan yang jelas dan masuk akal bagi mereka. Penolakan ini diduga kuat sebagai bentuk sentimen pribadi karena sikap kritis Rommy terhadap pengelolaan dana desa.
Kecewa dengan perlakuan aparat desa yang sewenang-wenang, Erald memutuskan untuk menulis surat terbuka kepada Bupati Minahasa melalui media sosial. Jagat maya pun langsung gempar saat unggahan tersebut menjadi viral dan menarik perhatian ribuan warga netizen yang peduli. Bupati segera memerintahkan Camat Kakas untuk menyelesaikan konflik tersebut agar hak pendidikan Erald tidak terabaikan begitu saja. Akhirnya, Hukum Tua yang keras kepala itu terpaksa tunduk meski menanggung rasa malu yang sangat luar biasa.
Kisah ini menjadi pembelajaran penting bagi seluruh aparatur pemerintah agar tidak pernah meremehkan rakyat kecil yang mencari keadilan. Rommy dikenal sebagai petani rajin yang memiliki nyali besar dalam menghadapi berbagai ketidakberesan di lingkungan birokrasi desanya sendiri. Ia sering terjebak dalam berbagai pertikaian hasil rekayasa penguasa desa yang ingin membungkam suara kritisnya selama ini. Baginya, kebenaran harus diperjuangkan meskipun harus berulang kali berurusan dengan pihak kepolisian di Polsek Kakas yang sangat melelahkan.
Demi membiayai kuliah Erald, Rommy tidak hanya mengandalkan hasil panen kelapa atau cengkeh yang sangat tergantung pada musim. Ia memilih jalan hidup sebagai pembuat minuman tradisional cap tikus, sebuah profesi yang menuntut keahlian serta ketekunan tingkat tinggi. Siang dan malam dihabiskan di tengah hutan untuk menyuling nira pohon seho menjadi cairan bening yang memabukkan. Setiap tetes hasil sulingannya adalah harapan besar bagi kelangsungan studi sang putra tercinta di perguruan tinggi.

Menjadi petani cap tikus bukanlah perkara mudah karena sering kali harus berhadapan dengan razia petugas keamanan yang sangat ketat. Rommy harus pintar bermain kucing-kucingan dengan oknum penegak hukum demi menjaga asap dapurnya tetap mengepul setiap harinya. Ia bermimpi suatu saat pemerintah akan melegalkan dan mengatur tata niaga cap tikus seperti di daerah Minahasa Selatan. Dengan pengaturan yang baik, petani akan merasa aman dan pemerintah daerah bisa mendapatkan pemasukan dari sektor cukai.
Setelah berjuang keras selama lebih dari tiga tahun di Universitas Negeri Manado, Erald akhirnya membawa kabar yang sangat membahagiakan. Ia melaporkan bahwa dirinya telah berhasil menyelesaikan studi dan berhak menyandang gelar sarjana yang selama ini mereka impikan. Tinggal menunggu wisuda. Rommy, yang juga dikenal sebagai Tonaas tari Kabasaran, merasa sangat kaget sekaligus haru mendengar pencapaian luar biasa putranya. Air mata yang biasanya enggan menetes, kini jatuh membasahi pipinya karena rasa syukur yang begitu mendalam.
Dalam doa sunyi yang dipanjatkan dengan penuh kerendahan hati, Rommy mengakui segala ketidaksetiaannya terhadap firman Tuhan selama perjalanan hidupnya. Ia memohon agar Tuhan mengizinkan hamba yang penuh dosa ini untuk berterima kasih atas anugerah sarjana bagi anaknya tersebut. Ia berharap agar Erald bisa menjadi alat Tuhan dan membawa berkat bagi banyak orang di mana pun ia bekerja. Doa sederhana itu mengalir tulus, mencerminkan kasih seorang ayah yang menyerahkan segalanya kepada Sang Pencipta.
Selain kepada Tuhan, dengan kepolosan yang mengundang tawa, Rommy secara khusus mengucapkan terima kasih kepada para peminum setia cap tikus. Ia sadar betul bahwa tanpa kehadiran mereka yang membeli produknya, biaya kuliah Erald mungkin tak akan pernah tercukupi. “Kalau tidak ada mereka, mana mungkin saya mendapatkan uang tambahan,” ujarnya dalam dialek Manado yang sangat kental. Kelakar ini menyembunyikan sisi kemanusiaan tentang bagaimana roda ekonomi kecil berputar demi sebuah masa depan.

Kehidupan Rommy juga tidak lepas dari panggung politik praktis di tingkat desa sebagai bentuk pengabdian kepada tanah air. Di rumahnya yang sederhana, terpasang baliho Sekretariat Desa Kayuwatu Partai Gerindra sebagai bukti dukungannya kepada sosok Prabowo Subianto. Ia merupakan penggemar berat sang Jenderal dan berharap program anti korupsi bisa menyentuh hingga ke tingkat desa yang paling bawah. Rommy merindukan kepemimpinan yang bersih agar tidak ada lagi maling uang rakyat yang berkeliaran. Mudah-mudahan, harap Rommy, program anti korupsi Prabowo tembus sampai di desanya, yang menurutnya bukan lagi sekedar dugaan tapi fakta papancuri yang ketangkap CCTV.

Kini, perjuangan panjang Rommy Jendry Kilala telah membuahkan hasil yang manis dengan wisudanya sang putra kedua sebagai seorang sarjana. Kisah ini adalah potret nyata tentang kerasnya perjuangan hidup seorang petani bersahaja di pedalaman Minahasa yang penuh tantangan. Di balik aroma tajam cap tikus, terdapat kasih sayang tanpa batas dan keberanian melawan ketidakadilan demi masa depan anak. Rommy membuktikan bahwa dengan kerja keras dan doa, keterbelakangan pendidikan dapat dipatahkan selamanya. (GinzaTaas)
Be the first to comment