Jejak Kepedulian Damianus Bilo dan Posisi Strategis Politisi

Besar dalam pergumulan, ia akhirnya memutuskan menjadi politisi. Sempat berlaga untuk posisi nomor satu di kabupaten tempat kelahirannya, Daminus kini berkiprah di DPP Nasdem.

SpiritPerantau.com— SUATU ketika, saat sedang menghantar tamu ke  Danau Kelimutu, Ende, Flores,  salah satu destinasi unggulan di Nusa Tenggara Timur, Damianus menangis sesegukkan di salah satu sudut kursi penumpang. Ditanya muasalnya, ia menunjukkan sebuah berita di koran lokal yang memberitakan musibah kekeringan ekstrim yang menyebabkan krisis kelaparan di Lamalera, Solor, Flores Timur, NTT. Ketiadaan air minum menjadi masalah utama di sana saat itu.

Rombongan turis asal Belanda itu langsung tergerak hatinya oleh belaskasihan dan bertekad menolong Masyarakat Lamalera. Di Belanda, mereka mengumpulkan uang dan mengirimkan bantuan tersebut ke Indonesia melalui Damianus. Tapi karena saat itu Damianus telah kuliah di Yogyakarta, atas referensi Damianus, bantuan tersebut dikirimkan melalui Pater Yoseph Boumans, SVD, seorang pastor asal Belanda yang saat itu tinggal di Seminari Menengah San Dominggo Hokeng, NTT dan mengelola PT. Rerolara Hokeng, Perkebunan Keuskupan Larantuka.

Kepekaannya dan empatinya pada “nasib kurang beruntung” yang dialami masyarakat yang dijumpainya itu, keluar pengalaman hidupnya yang juga penuh perjuangan dan air mata. Juga terinspirasi oleh kotbah para pastor yang selalu mendorong untuk mengasihi sesama, terutama yang berbeban berat dan menderita.

Saat liburan, Damianus sempat singgah ke Hokeng, Flores Timur,  menemui Pastor Boumans. Dalam bayangan misionaris asal Belanda tersebut, Damianus pastilah seorang pria tua yang sudah sangat matang dalam aksi-aksi filantropis.

“Aduh Nak, kamu masih terlalu kecil untuk memikirkan urusan seperti ini. Saya kira Damianus Bilo itu tinggi besar dan sudah tua,” kata pastor Boumans saat jumpa pertama dengan mahasiswa tingkat awal di Universitas Atmajaya, Yogyakarta itu. Rasa kaget juga dialami salah seorang biarawati yang masih kerabat dekat Damianus. Sedari pagi ia menunggu tamu kehormatan Pater Boumans yang ternyata ponakannya sendiri.

Ringan hati

Keringanan hati untuk membantu masyarakat sering dia lakukan. Suatu ketika, ia mendapat kabar bila masyarakat di kampung halamannya kekurangan air.   Masyarakat di kampung Kelitei, Aimere mengalami keracunan air perigi. Damianus meminta kepala desa setempat membuat perhitungan proyek air minum, juga bentangan panjang dari  sumber air hingga kampung. Ia melanjutkan data tersebut ke teman-temannya di Eropa.

Teman-teman Eropanya mengatakan bahwa mereka masih harus memolisasi dana dulu. Sementara ada pada mereka kini uang yang disiapkan untuk membiayai Damianus menonton Piala Dunia di Amerika. Damianus membatalkan perjalanan menonton Piala Dunia, dan mengalihkan dana tersebut untuk suksesnya proyek pengadaan air minum di kampung halamannya. Instalasi air minum dari Deru ke Waebela pun berhasil dibangun. Sebuah pesta rakyat digelar untuk merayakan kebahagiaan masyarakat.

Itulah Damianus. Dilahirkan dan dibesarkan dalam suasana keprihatinan, terutama dalam hal ekonomi, hati Damianus gampang tergerak oleh belaskasihan.

Tak boleh apolitis

Tahun 2012, ia memutuskan untuk terjun ke dunia politik. Bukan demi meraih kekuasaan, tapi demi perbaikan taraf hidup masyarakat. Bukan terutama untuk mendapatkan posisi politik bergengsi, tapi untuk ikut berkontribusi dalam menyelesaikan persoalan bangsa.

“Dulu saya anti politik. Anti partai politik. Saya tidak mau masuk karena takut ikutan kotor karena politik itu kotor.  Tapi dengan tujuan berkontribusi lebih besar bagi penyelesaian persoalan bangsa, saya akhirnya ikut terjun ke politik melalui Partai Nasional Demokrat (Nasdem). Selain sebagai staf khusus Ketua Umum Surya Paloh, saya juga dipercaya mengelola Akademi Bela Negara Partai Nasdem,” kata Damianus.

Ya, setelah masuk dan berkiprah di Nasdem, gambaran negatif bahwa politik itu kotor, sirna.  Sebaliknya, Ketua Umum Persaudaraan Keluarga Besar Ngada Jakarta (PKBN-J)  ini,  mengalami politik sebagai hal yang positif dan mulia.

“Kita datang untuk menggarami, bukan untuk terkomminasi oleh hal buruk. Kita datang untuk mengkontaminasi politik ke arah yang baik. Kalau kita membawa misi ‘garam dan terang’, kita harus berani masuk. Jangan kita mulai kuatir. Saya menghayati itu,” katanya.

Ditegaskan pula, politik itu pada dasarnya baik. Karena itu butuh orang-orang baik dalam politik. Politik rusak karena dikuasai oleh orang rusak. Orang baik ada di luar lingkaran yang tidak memengaruhi kebijakan, tapi dia mengonggong. Anjing menggongong kafila berlalu.

“Tapi kalau orang baik itu terjun dalam bidang politik, ikut memengaruhi kebijakan, politik akan menghasilkan hal-hal baik. Karena politik itu tergantung orang, bukan tergantung lembaga, bukan tergantung konstitusi. Kosntitusi yang baik bisa menjadi rusak kalau orang yang ada dalam politik itu adalah orang-orang rusak,” tegasnya.

Mengutif penyair dan dramawan Jerman Bertolt Brecht, Damianus menegaskan bahwa “buta terburuk adalah buta politik. Orang yang membenci politik adalah orang bodoh karena tak sadar bahwa seluruh aspek kehidupannya ditentukan oleh politik”.

“Orang yang buta politik, tak sadar bahwa biaya hidup, harga makanan, harga rumah, harga obat, semuanya bergantung keputusan politik. Dia membanggakan sikap anti politiknya, membusungkan dada dan berkoar ‘Aku benci politik’. Sungguh bodoh dia yang tak mengetahui bahwa karena dia tidak mau tahu politik akibatnya adalah pelacuran, anak terlantar, perampokan dan yang terburuk: korupsi dan perusahaan multinasional yang menguras kekayaan negeri,” Damianus mengutip Bercht. (Paul MG).

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*